HANTU

Gambar

Ilustrasi : wallpaperpassion.com

 

 

Api yang memuntahkan asap hitam tebal bergulung-gulung membubung membawa bau segala isi gedung yang terbakar hebat. Juga bau hangus puluhan, bahkan mungkin ratusan, manusia yang terjebak di dalamnya. Sebagian penduduk kota percaya, mereka adalah orang-orang yang dijebak.

 

Lelaki itu mengancingkan jaketnya. Malam ini ia ingin menuntaskan semuanya. Ia tak tahan lagi, lima tahun sudah dirinya bersabar. Sekarang adalah saat untuk bertindak. Menghadapinya langsung.

“Hati-hati, Mas.” Itu saja yang dikatakan isterinya ketika ia pamit pergi. Laki-laki itu tersenyum, merasa beruntung telah mengawini seorang perempuan yang tak pernah banyak cingcong.

Sudah lewat sedikit dari jam setengah sepuluh. Ia memacu motornya menembus gerimis. Hujan lebat yang sedari sore menghajar kota membuat jalan-jalan di malam Minggu itu terasa lengang dan sepi. Setengah jam kemudian ia sudah memasuki kawasan yang ditujunya. Ia melambatkan laju motornya, lalu berhenti di depan satu-satunya warung kopi di jalan itu. Hanya ada seorang pengunjung dan tampaknya akan segera pergi. Lelaki itu duduk di dekat pintu masuk, dan memesan kopi serta mi rebus. Pandangannya melayang ke luar. Mencari yang dicarinya, dan menemukannya. Di sana. Masih tetap sama dalam kegelapan.

“Sepi, Bu?!” ujarnya membuka percakapan.

“Wah, di sini kalau siang saja ramai. Kalau malam Minggu biasanya sih lumayan. Tapi dari sore tadi memang sepi, Pak. Mungkin karena hujan,” sahut perempuan tua pemilik warung yang lantas sibuk menyiapkan kopi dan mi rebus. “Dulu nggak begini, Pak. Siang malam ramai. Tapi sejak kejadian itu, lantas sepi. Orang-orang takut. Bapak tau kan, itu…,” ucap perempuan itu seraya menggerakkan dagunya, menunjuk ke arah yang sama yang sedari tadi diawasi laki-laki itu.

“Ibu juga takut?”

Lah iya, Pak. Liat sih belum, tapi saya sering dengar suaranya. Ih, seram. Hati-hati, Pak, kalau lewat situ. Sudah banyak kejadian…”

Lelaki itu menyeringai. Seandainya saja perempuan ini tahu apa yang akan kulakukan sebentar lagi, bisiknya dalam hati.

***

Jam setengah sebelas malam. Gerimis masih saja turun. Laki-laki itu mematikan rokok dan meloncat turun dari motor. Sepi dan gelap belaka di sekelilingnya. Satu dua kendaraan yang melintasi jalan raya seakan terburu-buru ingin secepatnya enyah dari tempat itu. Lelaki itu tegak memandangi bangunan di hadapannya. Bekas gedung pertokoan yang terbakar habis, dan telah bertahun-tahun dibiarkan teronggok begitu saja. Seolah sengaja disisakan sebagai bukti dan saksi dari kemenangan angkara murka yang pernah mengamuk di kota ini. Kini di bawah naungan kegelapan malam bayangan kekejaman itu menjelma kian nyata di matanya. Orang-orang beringas bercampur aduk dengan orang-orang panik dan kebingungan. Mereka adalah para penyerbu dan kaum yang diserbu, namun ujung nasib mereka tak dinyana berakhir sama. Orang-orang yang terbakar. Sebagian penduduk kota menyebutnya sebagai orang-orang yang dibakar.

Baca selanjutnya di : http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2014/05/02/hantu-653192.html

MALAM

Gambar

Ketiga lelaki itu diam-diam menguntitnya sejak tadi. Perempuan itu sama sekali tak tahu. Lelaki-lelaki itu tahu, perempuan itu sama sekali tak tahu dirinya diikuti. Dan perempuan itu tak kunjung tahu bahwa ketiga lelaki itu mengetahui dirinya sama sekali tak tahu telah dibayang-bayangi mereka sejak tadi.

         

            Beberapa belas menit lalu, ketiga orang brengsek  itu menodongku dengan pisau, lantas membekap dan menyeretku ke dalam sebuah bangunan setengah jadi yang terbengkalai di balik kerumunan ilalang tinggi. Tempat suram yang sarat aroma kejahatan. Sebatang lilin menyala lemah di sudut ruang. Mungkin ini tempat ketiga orang itu biasa berkumpul merencanakan aksi jahatnya. Hatiku gemetar menebak-nebak perbuatan apa yang mereka rencanakan bagiku.

Mendadak ia muncul di hadapan kami. Sangat tiba-tiba. Seperti menjadi ada dari ketiadaan. Ketiga orang itu terkejut setengah mati. Dengan suara rendah ia meminta mereka melepaskanku. Dua dari ketiga orang itu meradang, lantas langsung menyerang. Penolongku gesit berkelit dari serangan yang datang membabi buta. Gerakannya amat cepat, hingga sulit diikuti mata. Tiba-tiba ia mencekal tangan kedua orang itu, lalu melontarkan mereka dengan amat kuat ke dinding beton. Mereka terhempas keras, dan jatuh berdebum di lantai.

Orang ketiga yang terus membekapku segera bernasib sama. Terkapar tak bergerak. Erangan tertahan mengalir dari mulutnya. Aku nyaris tak mempercayai mataku. Bagaimana bisa sosok sekurus itu memiliki tenaga demikian hebat. Ketiga begundal itu bak kulit-kulit pisang yang begitu ringan untuk dilontarkan sesukanya.

“Pergilah,” ucapnya padaku dengan nada rendah yang datar. Ia lalu mendekati ketiga orang yang terkapar itu, dan berlutut di dekat salah satu dari mereka. Ia seolah tak mengindahkanku. Pandangannya tertuju hanya pada ketiga orang itu. Seberkas kilatan ganjil menyala di matanya.

Benakku masih sibuk dengan kejadian yang kusaksikan tadi. Rasa ingin tahuku bercampur aduk dengan perasaan takut dan bingung. Setidaknya aku harus mengucapkan sesuatu, pikirku.

            “Apakah kau manusia?” bisikku. Benar-benar kuberanikan diri untuk bertanya meski sekujur hatiku menggigil tak keruan. Dalam ruangan temaram  sesunyi ini  pertanyaan itu menyimpan resiko tak terduga.

Sosok yang kutanya tak menjawab. Hanya terkekeh pelan. Mungkin pertanyaanku menggelikan hatinya. Bulu kudukku meremang saat tawa lirih itu bergema dalam kesenyapan. Aku dicekam perasaan seram. Sosoknya memang seperti manusia. Tak jelas berjenis kelamin apa.  Namun siapa pun dia, kelihatannya ia punya perikemanusiaan. Setidaknya ia telah meloloskan aku dari cengkeraman begundal-begundal brengsek yang kini bergelimpangan di hadapanku.

            “Pergilah,” desisnya. Ia menoleh dan menatapku. Aku melangkah mundur. Mundur. Terus mundur. Seluruh tubuhku bergidik dan bergemetaran. Mata itu! Seketika aku teringat pada mata Kimu, kucingku, yang menyala kehijauan saat di dalam gelap.

 

***

Baca kisah selanjutnya di : http://m.kompasiana.com/post/read/635811/1/malam.html