Ketulusan dan Kemujuran

serving-good

Seorang pria tua berjalan perlahan memasuki sebuah restoran besar di sebuah kawasan terkenal di kota New York, Amerika Serikat. Langkahnya yang sedikit tertatih ditopang tongkat kayu. Ia mengenakan jaket usang yang robek di beberapa titik. Beberapa tambalan menghiasi celana pantalon yang dipakainya, dan sepatunya terlihat butut. Sungguh suatu penampilan yang kontras dibandingkan pengunjung lainnya yang rata-rata berbusana apik.

Begitu melihat pria tersebut masuk, Mary –sang pelayan restoran- langsung menyambutnya. Dengan sikap santun, Mary menuntun tamu berusia lanjut itu ke meja kosong yang tersedia. Ia menarikkan kursi baginya, mempersilahkannya duduk, dan mengatur posisi meja agar tamunya itu dapat duduk dengan nyaman. Mary juga meletakkan tongkat kayu sang tamu di dekat meja dalam posisi yang mudah dijangkau. Pria tua itu tersenyum sambil mengucapkan terimakasih, lalu memesan makanan yang diinginkannya.

“Selamat  menikmati makanan Anda, Tuan. Nama saya Mary. Jika Anda perlu sesuatu, silahkan lambaikan tangan saja. Saya ada di sudut sana,” kata Mary ramah seraya menghidangkan makanan pesanan sang tamu. Pria itu mengangguk. “Terimakasih, Nona,” sahutnya tersenyum. Tanpa tergesa ia menikmati makanannya. Setelah selesai, Mary segera menghampirinya. Ia menolong pria tua itu untuk berdiri, mengambilkan tongkatnya, dan menuntunnya ke pintu keluar. “Terimakasih atas kunjungannya, Tuan. Silahkan kembali lagi, dan hati-hati di jalan,” ujar Mary dengan hangat sambil membukakan pintu. “Terimakasih untuk kebaikanmu, Nona. Sampai jumpa,” balas pria itu seraya tersenyum lebar.

Mary lalu bergegas untuk membersihkan meja tamunya tersebut. Di atas meja, terdapat selembar uang 100 dolar sebagai tip-nya dan secarik kertas dengan tulisan yang berbunyi: “Nona Mary, saya sungguh menghargai sikapmu. Dari caramu yang hangat, santun dan penuh ketulusan dalam memperlakukan orang lain itu, terlihat bahwa engkau menghargai dirimu sendiri. Kehangatan dan ketulusan sikapmu akan menyinari siapa pun yang bertemu denganmu. Percayalah, sikap tulusmu itu tidak akan kembali dengan sia-sia. Saya akan memastikan kau menerima ganjaran terbaik.”

Di dekat lembaran kertas itu terdapat sebuah kartu nama. Mary tercekat, ia kenal betul siapa nama yang tertera di situ. Itu adalah nama pemilik restoran tempatnya sekarang bekerja. Belum pernah ada seorang pun yang pernah bertemu muka dengannya selama ini. Betapa mujurnya Mary!

Kemujuran memang tak pernah berada jauh dari mereka yang berhati dan bersikap penuh ketulusan. Mungkin ada banyak orang yang bersikap seakan-akan penuh ketulusan, namun ketulusan sejati tak bisa ditandingi dengan kepura-puraan yang canggih sekali pun. Ketulusan sejati bersinar terang dan memberi kehangatan pada setiap insan yang berhadapan dengannya. Ketulusan sejati senantiasa mengundang kemujuran. ***

 

Jakarta, September 2016

Octaviana Dina

 

4 pemikiran pada “Ketulusan dan Kemujuran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s