Tiga Jawaban Tuhan

tempe

 

Ada seorang nenek penjual tempe. Ia tinggal dengan dua cucunya yang masih kecil dan telah yatim piatu. Semua tempe jualannya adalah buatannya sendiri. Pada suatu ketika, seperti biasa sang nenek membuat selusin tempe untuk dijual ke pasar esok hari. Namun karena suatu hal, ia terlambat memberi ragi. Lewat tengah malam nenek itu bangun untuk memeriksa tempe-tempenya.

Saat daun pisang pembungkus tempe dibuka, tampaklah kedelainya belum menyatu dan masih keras. Itu berarti tempe-tempe tersebut belum matang. Hati sang nenek pun menjadi galau, siapa yang mau membeli tempe-tempe belum matang ini? Jika semua tempe itu tak laku dijual, bagaimana bisa mendapat uang untuk membeli beras dan lauk untuk makan cucu-cucuku? ratap si nenek dalam hati. Dengan airmata berlinang nenek itu memanjatkan doa pada Tuhan agar Tuhan berkenan menolongnya dan membuat tempe-tempe itu matang sehingga esok pagi ia bisa menjualnya di pasar.

Keesokan pagi, sang nenek kembali memeriksa tempe buatannya. Ternyata keadaannya sama sekali tak berubah. Tempe-tempe itu belum juga matang. Duh, apakah Tuhan tak berkenan menjawab doaku semalam? batinnya dengan sedih tak terkira. Meski begitu, sang nenek tak punya pilihan selain memasukkan tempe-tempe yang belum matang itu ke dalam bakulnya dan berangkat ke pasar. Ia berharap Tuhan akan kasihan padanya dan membuat tempe-tempe itu matang saat ia tiba di pasar nanti. Maklum, jarak antara rumahnya dan pasar cukup jauh.

Sesampainya di pasar dua jam kemudian, tempe-tempe itu masih juga belum matang. Hingga tengah hari, tak ada satu orang pun yang mau membeli tempe buatannya. Sang nenek hanya bisa pasrah sambil sesekali menyeka airmatanya. “Bu, tempenya sudah matang atau belum?” tiba-tiba seorang ibu muda bertanya. Dengan sedih sang nenek menggeleng. “Wah! Ini dia yang saya cari. Saya beli semuanya, Bu!” seru si ibu muda dengan gembira. “Saya sudah cari ke mana-mana, tapi tak ada yang menjual tempe yang belum matang. Ini mau dibawa kakak saya ke Belanda, Bu. Buat oleh-oleh. Jadi kalau kakak saya tiba besok di sana, tempe ini sudah matang,” lanjut ibu tersebut sambil tersenyum. Doa sang nenek penjual tempe terkabul.

Tuhan selalu mendengarkan doa-doa umatnya. Dan Tuhan selalu menjawabnya. Jawaban Tuhan bagi semua doa ada tiga, yaitu YA, TIDAK, dan TUNGGU. Mengapa TUNGGU? Itu karena Tuhan punya rencana yang lebih baik daripada rencana atau harapan kita. Jadi, jika permohonan doa kita belum terkabul, jangan putus asa. Tetaplah sabar dan terus lakukan yang terbaik. Sebab Tuhan selalu punya rancangan terbaik bagi hidup kita.***

 

Jakarta, Januari 2016

Octaviana Dina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s