Jendela Yang Buram

Jendela Yang Buram

 

Suatu ketika ada sepasang suami-isteri muda yang baru saja pindah ke sebuah lingkungan perumahan di pinggiran kota. Pada suatu pagi saat mereka tengah sarapan, melalui jendela di ruang tengah sang isteri mengamati tetangga sebelah rumah yang sedang menjemur cucian pakaian. Beberapa saat setelah memperhatikan, si isteri mengomentari apa yang dilihatnya. “Wah, tetangga kita ini kurang teliti saat mencuci. Lihat, pakaian yang dijemur itu masih terlihat kusam,” katanya pada suaminya. Sang suami menengok ke arah yang dimaksud isterinya. Ia mengamati sebentar, tapi tak berkomentar apa-apa.

Keesokan paginya ketika sarapan, kembali sang isteri mengamat-amati aktivitas nyonya rumah tetangga sebelah yang sedang menjemur pakaian. Wanita itu kembali berkomentar. “Aiiih, cuciannya masih juga tidak bersih. Coba lihat baju kemeja putih itu, warna putihnya sama sekali tidak cemerlang. Pasti karena cara mencucinya tidak sempurna,” celotehnya. Sementara sang suami tidak bereaksi mendengar perkataan isterinya itu.

Esok harinya, kembali sang isteri dengan antusias mengomentari hasil cucian nyonya tetangga sebelah. “Tetangga kita ini tampaknya memang tak tahu bagaimana cara mencuci pakaian. Hasil cuciannya sama seperti kemarin-kemarin, masih terlihat kotor. Kasihan, mungkin dia perlu belajar cara mencuci yang benar,” ujarnya dengan nada sedikit mencibir.

Dan begitulah, dari hari ke hari, si suami muda itu selalu mendengar kritikan isterinya soal hasil cucian pakaian tetangga sebelah. Hingga akhirnya pria itu pun tak tahan lagi. “Sudahlah, biarkan saja. Tak usah meributkan hal yang bukan urusan kita,” ujarnya mengingatkan sang isteri. “Oh, tidak bisa begitu, suamiku. Jika kita melihat hal yang tak benar, tidak semestinya kita berdiam diri. Jika besok hasil cucian tetangga kita ini masih kotor, aku akan datang ke sana untuk memberitahunya,” kata sang isteri bersikeras.

Besoknya, saat nyonya tetangga sebelah menjemur cucian pakaiannya, sang isteri dengan seksama mengamatinya. Hasilnya mengejutkan, wanita itu sama sekali tak melihat kesalahan. Semua pakaian yang dijemur nampak bersih sempurna, tak ada noda yang mencolok mata seperti yang dilihatnya selama ini. “Ajaib, tetangga kita ini sudah mahir mencuci. Siapa yang mengajarinya ya? Jangan-jangan ia tahu aku suka mengamati dan mengeritik hasil cuciannya,” ujarnya pada suaminya.

Sang suami hanya tersenyum simpul. “Isteriku, tak ada yang salah dengan cara tetangga kita itu mencuci pakaian. Selama ini ia sudah melakukannya dengan sempurna. Kitalah yang salah melihat. Kau tahu, jendela kita ini penyebabnya. Jendela ini ternyata kotor. Tadi pagi aku membersihkannya, dan sekarang yang kita lihat adalah kebenaran yang sejati,” jelas sang suami.

Kebenaran sejati hanya dapat dilihat melalui mata hati yang bersih. ***

 

Jakarta, Desember 2015

Octaviana Dina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s