Harga Sebuah Senyuman

Smiling Face

Sejak dari kecil Billie memang suka tersenyum. Ia selalu mudah dan murah hati dalam memberi senyuman. Sepertinya, ada begitu banyak hal dalam kesehariannya yang mampu membuatnya tersenyum, termasuk hal-hal sepele yang remeh-temeh. Sebagian temannya yang suka dengan senyuman Billie menamainya sebagai Si Wajah Malaikat, sementara mereka yang usil menjulukinya Si Tolol karena menganggap kebiasaan Billie tersenyum sebagai sesuatu hal yang bodoh. Namun Billie tak pernah peduli dengan julukan jelek itu. Ia tetap suka tersenyum.

Pada suatu hari Billie melewati sebuah taman umum tak jauh dari tempatnya tinggal. Pada sebuah bangku, seorang pria tengah duduk termenung. Penampilannya lusuh dan berantakan, pertanda sudah berhari-hari ia tak mengurus diri sendiri. Mungkin ia sedang menghadapi hal buruk dalam hidupnya, begitu pikir Billie sambil mengamati. Saat Biliie lewat tepat di depannya, tiba-tiba pria itu mengangkat wajahnya dan menatap anak berumur duabelas tahun itu. Mereka saling berpandangan sekilas. Secara refleks, Billie pun tersenyum padanya. Pria itu hanya tertegun memandangnya, dan Billie terus melanjutkan perjalanannya.

Bertahun-tahun kemudian, pada suatu pagi yang cerah Billie melintas di taman umum tersebut. Ia melihat seorang pria necis bersetelan mahal duduk di bangku taman. Saat Billie lewat tepat di depannya, pria itu menatapnya. Billie pun secara refleks tersenyum padanya. Pria itu melompat dan menahan Billie. Ia adalah si pria lusuh dan berantakan yang dilihat Billie di tempat itu bertahun-tahun lalu. “Waktu itu hidupku sedang kacau. Aku bangkrut, gagal total, dan semua orang menjauhiku. Waktu kau lewat, aku tengah berpikir untuk bunuh diri. Namun, senyummu menyadarkanku bahwa hidupku belumlah terlalu buruk. Setidaknya, masih ada orang yang mau tersenyum padaku,” kata pria itu pada Billie. “Nah, sekarang giliranku, Nak. Apa yang bisa kulakukan untukmu?” Dan Billie hanya bisa tersenyum…

Tersenyum sesungguhnya adalah pekerjaan yang sangat mudah. Namun pada kenyataannya, tidak sedikit orang yang tak mampu melakukannya. Dan tidak sedikit pula orang yang menganggap tersenyum sebagai hal sepele yang tak berarti. Senyum tulus yang keluar dari dalam hati bagi manusia sama seperti matahari bagi bunga. Meski keduanya terkesan sepele namun kebaikan yang ditimbulkannya tidak ternilai harganya.

Kisah di atas mengajarkan bahwa sebuah senyuman yang tulus tenyata mampu menyelamatkan dan mengubah hidup seseorang. Maka tersenyumlah kapan pun kita bisa, sebab kita tak pernah tahu seberapa besar perubahan yang kita lakukan pada hidup seseorang pada saat kita tersenyum padanya.*** (od)

Jakarta, 2015

Octaviana Dina

2 pemikiran pada “Harga Sebuah Senyuman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s