Sang Malaikat

helping-hand1

Seorang pria, sebut saja Joe, adalah pegawai sebuah perusahaan. Pekerjaan yang ditanganinya membuat Joe selalu sibuk setiap hari. Selain berkoordinasi dengan rekan-rekan sekerja, Joe harus selalu siap berkomunikasi dengan para mitra kerja, seperti penyedia jasa. Belum lagi sejumlah rapat rutin yang harus diikutinya. Semua itu seringkali menguras energinya sehingga saat pulang kerja dengan kereta, Joe senantiasa berupaya menemukan tempat terbaik agar dirinya bisa duduk diam dan tenang tanpa diganggu. Tapi itu tak mudah, karena pada jam-jam pulang kantor kereta selalu penuh.

Pada suatu hari sepulang bekerja, Joe mendapat tempat duduk di samping seorang pria tua yang tampak tak peduli pada keadaan sekelilingnya. Saat Joe duduk di sebelahnya, pria itu juga tak bereaksi. Ia terus saja terpekur memandangi lantai. Joe merasa lega, setidaknya ia bisa duduk tenang tanpa diganggu ajakan mengobrol. Beberapa saat kemudian, hati kecil Joe menyuruhnya menyapa pria tua tersebut. Karena lelah dan ingin beristirahat, Joe mengabaikan suara hatinya. Akan tetapi, hati kecilnya terus saja berbicara dan memintanya menyapa pria di sampingnya.

Meski enggan, Joe mulai memperhatikan pria tua tersebut. Wajahnya muram, pandangan matanya yang terus mengarah ke bawah tampak kosong. Ia seolah terpisah dari dunia sekitarnya. Joe lantas menyapanya. Pria itu mengangkat wajahnya dan menoleh, kedua matanya memerah dan terlihat sisa-sisa airmata. Joe merasa tak enak, tapi desakan kuat nuraninya membuatnya tak bisa berbuat lain selain mulai mengajak pria tua itu berbicara. Sikap Joe yang hangat dan ramah perlahan membuat pria itu tertarik, dan beberapa saat kemudian keduanya larut dalam percakapan sebelum akhirnya kereta tiba di stasiun terakhir. Sebelum mereka berpisah, Joe melihat pria tua itu tampak lebih baik dan tidak semurung tadi.

Beberapa minggu kemudian, Joe menerima surat yang disampaikan resepsionis kantornya. Surat itu tak mencantumkan namanya, hanya tertulis MALAIKAT pada sampul depan. Resepsionis berkata bahwa seorang pria tua menyerahkan surat itu sambil menggambarkan dengan baik ciri-ciri Joe sebab ia tak tahu nama Joe. Dalam suratnya, pria itu berkali-kali mengucapkan terimakasih. “Saat Anda mengajak saya berbicara di kereta, saya tengah dilanda masalah besar. Hari itu sebenarnya saya memutuskan akan menyudahi hidup saya. Saya berdoa, jika Tuhan sungguh peduli pada saya maka Dia harus mengirim malaikat untuk mencegah saya bunuh diri. Ternyata, Andalah malaikat itu…” tulisnya.

Jika suatu ketika suara hati Anda menyuruh Anda melakukan kebaikan, jangan abaikan. Sebab sangat mungkin Tuhan sedang menugaskan Anda menjadi malaikat penolong bagi orang yang sungguh-sungguh membutuhkan pertolongan.***

Jakarta, Juni 2015

Octaviana Dina

2 pemikiran pada “Sang Malaikat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s