Perjuangan Kupu-kupu

butterfly

Pada suatu hari seorang pria menemukan kepompong kupu-kupu pada salah satu tanaman hias di pekarangan rumahnya. Selang beberapa hari kemudian, tampak kepompong itu mulai terbuka sedikit. Terdorong rasa ingin tahunya, selama berjam-jam pria itu duduk mengamati pergerakan dalam kepompong tersebut. Ia melihat si kupu-kupu yang baru bermetamorfosa dari ulat itu tengah berjuang keluar dari lubang kecil pada kepompongnya. Selama beberapa waktu kupu-kupu terus berupaya membebaskan diri, lalu mahluk itu tiba-tiba berhenti bergerak seolah kehabisan tenaga.

Melihat hal itu, si pria bangkit dan memutuskan untuk membantu kupu-kupu tersebut. Ia bergegas mengambil gunting, lalu menggunting robekan pada kepompong itu sehingga terbuka lebar. Tindakan pria itu menyebabkan si kupu-kupu dengan cepat melepaskan diri dari kurungan kepompongnya. Akan tetapi, pria itu mendapati sesuatu yang aneh. Tubuh kupu-kupu itu tampak membengkak dan kedua sayapnya mengeriput.

Sang pria terus mengamati dengan seksama. Ia berharap kedua sayap kupu-kupu itu segera terkembang sempurna dan kupu-kupu itu bisa mengepakkannya untuk kemudian melayang terbang. Sayang, hal itu tidak pernah terjadi. Kupu-kupu itu telah kehilangan kemampuannya untuk terbang. Serangga cantik itu bernasib malang; hanya bisa merayap-rayap seumur hidupnya.

Di mana letak kesalahannya? Pria itu memang bermaksud baik, ia sekedar ingin menolong kupu-kupu itu agar cepat terbebas dari kungkungan kepompongnya. Namun sungguh disayangkan, pria itu tak mengetahui bahwa setiap kupu-kupu memang harus bersusah payah keluar dari kepompongnya. Hal itu adalah mekanisme alami. Tekanan-tekanan dibutuhkan kupu-kupu saat keluar dari kepompong agar cairan tubuhnya dapat mengalir ke sayapnya dan membuat keduanya bisa terkembang sempurna untuk terbang.

Seperti halnya kupu-kupu, sebagai manusia kita sesungguhnya juga memerlukan tekanan-tekanan dalam hidup. Mengapa demikian? Sebab tekanan-tekanan hidup akan menempa karakter kita. Kita akan lebih kuat dan tangguh dalam menjalani hidup. Kita ditempa agar tak mudah menyerah. Jika hidup kita mulus dan datar-datar saja tanpa satu pun tekanan hidup, maka hidup yang seperti itu justru akan membuat kita lemah sehingga kita bisa tergoncang hebat saat terkena masalah kecil. Maka bersabarlah jika saat ini Anda tengah mengalami tekanan hidup. Percayalah, tekanan itu akan menguatkan diri Anda sehingga kelak Anda akan siap untuk terbang tinggi.***

Octaviana Dina

Jakarta, Maret 2015

4 pemikiran pada “Perjuangan Kupu-kupu

  1. Ya Mbak, saya percaya setiap kesulitan hidup akan membuat kita menjadi lebih kuat, tapi sebagai orangtua, saya nggak tega kalo anak saya harus merasakan kesulitan. Saya masih terjebak di dilema ini…

    • Saya pikir nggak apa2, Mas, sepanjang dosisnya masih wajar untuk tingkat anak-anak seperti kesulitan dalam hal pelajaran, atau kesulitan saat mencoba sesuatu yang baru. Salam sejahtera, Mas🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s