Pelajaran Dari Sahara

sahara

RVC Bodley, seorang pria Inggris keturunan bangsawan, merasa muak dengan perang. Sebagai tentara, ia ikut berperang dalam Perang Dunia Pertama. Setelah perang usai, Bodley dikirim untuk mengikuti Konferensi Perdamaian di Paris, Perancis. Di sana, ia mendapati para politisi negara-negara Eropa justru sedang merancang dasar-dasar Perang Dunia Kedua dan tiap-tiap negara saling memperebutkan keuntungan bagi kepentingannya sendiri-sendiri.

Bodley muak terhadap perang, terhadap tentara, dan terhadap masyarakat. Selama bermalam-malam ia menjadi susah tidur akibat sedih dan gelisah memikirkan hidupnya. Bodley lalu pergi berkelana ke Afrika Barat Laut. Di sana ia memutuskan untuk tinggal di gurun dan hidup bersama orang-orang Arab. Orang-orang Arab itu merupakan suku penggembala yang hidup mengembara di Gurun Sahara.

Pada suatu hari, lokasi tempat Bodley berdiam di gurun dilanda badai siroko, yaitu badai pasir yang disertai angin kencang bersuhu amat panas. Badai siroko sangat ganas dan bisa menerbangkan pasir hingga ratusan kilometer jauhnya. Selama tiga hari tiga malam badai itu mengamuk. Bodley merasakan rambutnya seakan hangus, matanya pedih, mulutnya kemasukan pasir dan tenggorokannya sangat kering sehingga ia begitu kehausan. Rasanya seperti berada dalam tungku api karena panasnya.

Bodley nyaris gila karena tak kuat menahan keganasan badai siroko tersebut. Namun orang-orang Arab pengembara itu sama sekali tak mengeluh, dan tenang-tenang saja meski ternak kambing mereka sebagian besar mati akibat badai itu. Mereka hanya berkata, “Mektoub!” yang artinya ‘sudah ditakdirkan Tuhan begini’. Kepala suku mereka berujar demikian, “ Tidak begitu berat. Kita memang kehilangan harta, namun besyukurlah pada Tuhan bahwa 40 persen kambing kita masih hidup. Kita bisa berternak lagi.”

Ternyata begitulah sikap orang-orang Arab tersebut saat menghadapi setiap rintangan atau musibah. Mektoub! Selalu itu yang mereka katakan. Mereka tidak mengeluh, gelisah, atau senewen dalam kesulitan. Mereka sangat meyakini bahwa Tuhan sudah mengatur segalanya dalam kehidupan ini. Bodley menulis bahwa tujuh tahun tinggal bersama mereka di Gurun Sahara adalah masa yang paling damai dan menyenangkan dalam hidupnya.

Kisah di atas mengajarkan pada kita bahwa jika badai melanda hidup kita sementara kita tak mampu mencegahnya, hendaklah kita berani menerima hal itu sebagai kenyataan yang tak bisa dielakkan dan memang harus kita hadapi. Namun sesudah itu, kita harus segera bangkit dan mulai bertindak membangun hidup kita kembali.***

Octaviana Dina

Maret 2015

2 pemikiran pada “Pelajaran Dari Sahara

  1. …sebuah kepasrahan yang semoga tidak dipraktekkan secara salah ya, Mbak. Belum berusaha tapi sudah berpasrah bahwa ini adalah kehendak Tuhan. Salam siang🙂

  2. Nah, betul tuh, Mas Ryan. Kebanyakan kita lebih suka memakai dalih “ini sudah kehendak Yang Maha Kuasa” sebagai jurus ngeles dari kewajiban berusaha dan berikhtiar saat menghadapi persoalan…hehehe. Terimakasih ya sudah mampir membaca. Selamat berakhir pekan, Mas🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s