Bangsal Cermin

Bangsal Cermin

Pada suatu ketika di sebuah negeri di benua Eropa, terdapat sebuah istana kecil yang indah. Di dalam istana itu ada sebuah bangsal atau ruangan besar yang disebut Bangsal Cermin sebab di ruangan itu terdapat seribu cermin dalam berbagai ukuran; baik ukuran kecil, sedang hingga yang sebesar tubuh manusia dewasa. Pada hari-hari tertentu, istana itu dibuka untuk umum dan siapa saja boleh memasukinya dengan cuma-cuma.

Suatu hari seorang gadis kecil berusia 8 tahun datang mengunjungi istana itu bersama kakak tertuanya. Gadis cilik itu memiliki sifat periang, murah senyum dan suka tertawa. Dengan antusias ia berkeliling dan menjelajahi setiap bagian istana indah itu hingga sampailah ia ke Bangsal Cermin. Melihat cermin, gadis kecil itu mulai beraksi. Ia tersenyum dan tertawa serta menari-nari riang di depan cermin. Seketika tampaklah seribu anak-anak serupa dirinya yang juga tengah tersenyum, tertawa dan menari dengan riang. Gadis itu senang melihat ada banyak bayangan dirinya. “Wow! Ini sungguh menyenangkan!” serunya gembira.

Sementara itu, pada keesokan harinya seorang gadis kecil lain juga datang bersama kedua orangtuanya berkunjung ke istana tersebut. Berbeda dengan gadis kecil pertama, gadis berambut panjang ini tak suka tersenyum apalagi tertawa. Ia hanya mengekor di belakang orangtuanya tanpa ada sedikitpun rasa ketertarikan terhadap keindahan istana itu. Tak berapa lama, sampailah ia di Bangsal Cermin. Ketika ia memasuki ruangan penuh cermin itu dan berkaca, ia melihat seribu bayangan seorang gadis kecil berambut panjang dan berwajah muram sedang menatapnya dengan pandangan murung. Tak pelak gadis kecil itu pun terkejut. Hih, tempat ini menyeramkan, aku tak suka ada di sini, katanya dalam hati. Dengan terburu-buru ia segera keluar dari ruangan itu.

Seperti halnya Bangsal Cermin dalam cerita di atas, orang-orang di sekeliling kita pun juga demikian. Mereka adalah cerminan dari apa yang diri kita tampilkan kepada mereka. Jika kita senang menggembirakan hati orang lain, maka kita akan mudah mendapati wajah-wajah gembira orang-orang di sekitar kita. Begitu juga sebaliknya. Jika kita suka menyusahkan dan mempersulit orang lain dengan perbuatan kita, maka ke mana pun kita melangkah kita akan menemui wajah-wajah masam dan pandangan tak bersahabat mengarah pada kita. Apabila kita enggan tersenyum pada orang di sekitar kita, maka orang pun akan malas tersenyum pada kita. Jika kita gampang marah pada orang lain, maka orang pun mudah kesal pada kita. Demikian pula sebaliknya. Jadi, cerminan wajah seperti apa yang ingin kalian lihat dari orang-orang yang kalian temui dalam kehidupan sehari-hari? Tentukanlah sendiri dengan bijak.***

Octaviana Dina

Jakarta, 2013

2 pemikiran pada “Bangsal Cermin

  1. Setuju, Mbak. Kalo saya bilang itu yang namanya karma; kita rajin menyapa, pasti suatu ketika giliran kita yang akan disapa, kira rajin menolong, suatu saat kita akan dipermudah ketika butuh pertolongan. Tulisan yang inspiratif di hari ini, keren😎

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s