Jatah Si Miskin & Mental Gratisan

bread-and-coffee-free-desktop-wallpaper-3840x2400Dalam sebuah artikel disebutkan suatu kebiasaan unik penduduk di salah satu kota (tidak disebutkan namanya) di negara Italia bagian selatan. Kebiasaan tersebut adalah menyediakan kopi gratis bagi mereka yang miskin. Caranya bukan dengan membagi-bagikan gelas-gelas berisi kopi di jalanan, namun dengan membayarkan jatah minuman kopi bagi si miskin di kedai kopi.

Ceritanya begini. Seorang pria berkunjung ke sebuah kedai kopi. Ia memesan dua cangkir kopi. “Yang satu masukkan dalam daftar kopi gratis,” katanya pada pelayan kedai. Istilah untuk daftar kopi gratis adalah Coffee On The Wall atau Kopi Di Dinding. Pria itu meminum secangkir kopi namun ia membayar seharga dua cangkir kopi. Pelayan kedai lalu menuliskan “satu kopi gratis” pada sebuah kertas dan menempelkannya di dinding. Tak berapa lama kemudian, datang dua orang pria, Mereka memesan tiga cangkir kopi. “Yang satu Coffee On The Wall,” kata salah satu dari mereka. Maka pelayan kedai membawakan dua cangkir kopi bagi mereka. Dan mereka membayar harga untuk tiga cangkir kopi. Pelayan kembali mencatat “satu kopi gratis” pada selembar kertas dan menempelkannya di dinding.

Menjelang siang, seorang pria berpakaian lusuh masuk. “Saya minta secangkir Coffe On The Wall,” ujarnya pada pelayan kedai. Sang pelayan lalu memberikan secangkir kopi pada pria tersebut. Setelah menikmati dan menghabiskan kopinya, pria berpakaian lusuh itu pergi tanpa membayar. Sang pelayan kedai segera mencabut salah satu kertas yang tertempel di dinding dan membuangnya ke tempat sampah. Demikian seterusnya. Selalu saja ada jatah kopi gratis tertulis di dinding kedai.

Jadi demikianlah cara orang-orang kota itu berbagi minuman kopi untuk mereka yang miskin. Mereka membayarkan secangkir atau lebih kopi yang kelak akan digratiskan bagi kalangan tak mampu yang mengunjungi kedai kopi tersebut. Dan orang-orang miskin itu tak sungkan untuk datang ke kafe setempat untuk meminum kopi sebab mereka tahu ada minuman kopi tersedia secara gratis bagi mereka yang dibayarkan oleh warga yang lebih mampu.

Cerita lain adalah soal roti gratis bagi mereka yang tak mampu. Cerita tersebut konon merupakan pengalaman seseorang berkebangsaan Indonesia yang tengah berkunjung ke Australia. Kisahnya begini, selepas menikmati sore di sebuah kafe yang terkenal dengan minuman Cappucinno-nya yang enak, ia mampir ke sebuah toko roti untuk membeli roti kismis. Ia menyodorkan selembar 10 dolar untuk membayar, namun tak disangka si gadis pelayan toko roti menolak uang tersebut seraya menjelaskan bahwa semua roti di toko itu akan diberikan secara gratis pada siapapun yang menghendaki pada saat toko akan tutup. Hal itu sudah menjadi aturan main toko-toko roti di sana untuk tidak menyimpan roti yang tak terjual. Semua roti yang tak terjual akan diberikan gratis pada siapa pun yang menginginkannya pada saat toko akan tutup, atau akan diantarkan ke Second Hand Shop untuk disalurkan bagi kalangan tak mampu yang membutuhkannya.

Sementara itu sepasang suami-isteri datang. Si suami tampaknya adalah orang Australia sedangkan sang istri orang Asia. Rupanya si isteri hendak meminta roti gratisan, namun niatnya buru-buru dicegah sang suami. “Sayang, kita punya cukup uang untuk membeli roti, kenapa harus meminta roti gratis? Biarlah roti gratis itu untuk mereka yang membutuhkannya. Jangan kita ambil jatah mereka,” begitu kira-kira perkataannya. Akhirnya sang isteri mengurungkan niatnya.

Sungguh cara yang unik sekaligus indah untuk berbagi. Jika kita mau, kita pun bisa menerapkan cara seperti itu di sini. Mungkin bukan sekedar kopi, tapi makanan gratis. Menunya bisa bermacam-macam. Bisa nasi rames, atau indomi rebus, atau nasi goreng, dan lain sebagainya. Maka setiap kali kita makan di kedai makanan –entah itu warteg atau restoran- kita bisa membayarkan seporsi makanan bagi si miskin. Akan tetapi pada praktiknya cara mulia ini tidak bakal semudah itu. Diperlukan keikhlasan dan kejujuran yang kuat untuk melaksanakannya. Yang membayari harus ikhlas, sementara si pemilik kedai makanan pun harus jujur menyediakan makanan gratis. Dan satu lagi, diperlukan sikap mental terhormat bagi mereka yang mampu membeli untuk menahan diri agar tidak ikut-ikutan mengantri makanan gratis untuk kalangan tak mampu.

Sudah jadi rahasia umum bahwa sebagian masyarakat kita masih bermental gratisan. Saya teringat cerita seorang teman yang selama beberapa waktu tinggal di negeri Paman Sam. Menurutnya, setiap kali ada restoran baru yang tengah berpromosi dengan membagikan makanan gratis, selalu saja orang Indonesia yang terbanyak berdiri dalam antrian. Padahal mereka bukan orang-orang yang masuk kategori miskin alias tak sanggup membeli makanan. “Gue sebagai orang Indonesia jadi malu,” ungkap kawan saya kesal. Dan tentu kita masih ingat bagaimana hebohnya antrian orang-orang berebut es krim gratisan di Surabaya beberapa waktu lalu yang membuat Bu Risma Walikota Surabaya murka akibat antrian itu merusakkan taman kota yang dibangunnya dengan susah payah. Itu baru soal makanan lho yang harganya nggak mahal-mahal amat. Apalagi hal lain yang nilainya lebih besar seperti layanan kesehatan misalnya. Yang mengantri untuk mendapatkan layanan gratis untuk masyarakat tak mampu ini justru tak sedikit yang datang dengan mengendarai mobil pribadi. Hadeeeuuhhhh!!

Jakarta, 11 Desember 2014

dimuat dalam http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2014/12/h11/jatah-si-miskin-mental-gratisan-709881.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s