Saya Juga Kepengen Diculik!

Kira-kira dua minggu lalu, saya dan teman saya singgah ke sebuah mall dekat perumahan kami untuk sekedar jajan es krim di salah satu resto cepat saji. Karena ingin membeli sesuatu, teman saya mengajak mampir ke supermarket. Di sana ia bertemu teman-teman lamanya. Ia lantas permisi pada saya untuk mengobrol sejenak dengan mereka. Sambil menunggu, saya pun berkelana ke bagian lain. Kira-kira 20 menit kemudian, teman saya itu menghampiri saya seraya berkata: “Itu tadi teman-teman lamaku. Tau nggak, tadi aku bilang temanku yang sama aku itu (maksudnya saya) seorang novelis. Wah, mereka kagum lho.” Saya terperangah mendengar kata-katanya. Apaaa??? Novelis??? Waduuuh! Karuan saja saya segera memprotes. “Aduh, Mbak, aku kan belum jadi novelis. Aku baru nulis beberapa cerpen aja kok. Belum mampu nulis novel,” kata saya. Teman saya menjawab, dan jawabannya lagi-lagi membuat saya terpana. “Nggak apa-apa, say. Biarin aja. Aku bangga lho sama dirimu. Aku bangga punya teman penulis,” ujarnya membuat saya terkesima, terharu, sekaligus malu hati. Terimakasih, Mbak!

Kejadian itu menohok diri saya untuk segera menuntaskan janji pada diri sendiri. Saya memang berkeinginan menulis novel. Jika sudah mampu menulis cerpen, menurut saya seharusnya seorang penulis harus berusaha naik ke tingkat selanjutnya dengan cara menulis novel. Akan tetapi, meski sudah lumayan fasih menulis cerpen sejak satu dekade lalu, tragisnya saya belum mampu mewujudkan mimpi menelurkan karya novel. Separuh pun belum. Padahal saya sudah menuliskan satu dua plot cerita yang rencananya akan saya buat menjadi novel. Yaaahhh, memalukan sekali memang!!

Lalu, kenapa saya GM2 (gagal maning, gagal maning) melulu dalam mengentaskan janji menulis novel? Saya akui saya punya beberapa kelemahan. Pertama, tekad saya kurang kuat. Kedua, saya bukan tipe penulis Coca Cola alias yang kapan saja dan di mana saja mampu menulis (dengan baik tentunya). Sebab itu, berbahagialah para penulis yang masuk kategori Coca Cola. Maaf, saya tidak sedang beriklan minuman merek ini lho. Bagaimana enggak bahagia kalau seorang penulis bisa menulis dengan baik apa situasi dan kondisi apa pun, ya toh?! Bayangkan betapa produktifnya seorang penulis jika meski sekedar nyender di tembok namun bisa menghasilkan tulisan, nongkrong di warung yang berisik tapi bisa membuat tulisan, duduk di sebelah kompor panas membara tapi tetap mampu menelurkan tulisan ciamik, dan sejenisnya, dan seterusnya. Sayangnya saya tidak beruntung termasuk penulis jenis ini. Saya adalah tipe penulis yang membutuhkan pe-we alias posisi wuuenak alias nyaman dan tenang untuk menulis. Maka dari itu saya lebih suka menulis selepas tengah malam alias begadang bin ngalong agar dapat lancar jaya dalam menulis, meski saya tahu bahwa kebiasaan begadang itu sangat buruk bagi kesehatan.

Kelemahan saya berikutnya adalah enggak sabaran. Bagaimana mau menulis novel kalau maunya cepat-cepat sampai di bagian ending?? Setahu saya syarat panjang halaman untuk sebuah novel yang ideal itu minimal sekitar 150 halaman. Bagus jika bisa mencapai lebih dari 250 halaman. Dengan begitu, menurut saya, peristiwa, kejadian, konflik, serta karakter tokoh-tokoh dalam novel punya ruang yang cukup untuk berkembang sehingga cerita akan menjadi kaya dan semakin menarik. Karena faktor sifat enggak sabaran itulah, selama ini saya lebih suka menulis cerpen karena singkat. Dalam cerpen ending cerita bisa saya tuntaskan rata-rata di halaman ke-7 atau 8. Enggak pake lama… (*_*)

Namun walaupun saya termasuk golongan conditional writer alias penulis yang butuh kondisi tertentu untuk dapat lancar menulis, anehnya saya bisa sangat fokus dan mampu menulis dengan cepat jika berada dalam tekanan, misalnya sudah terikat kontrak/perjanjian menulis dengan tenggat waktu tertentu. Hal ini saya alami ketika saya dikontrak untuk menulis artikel harian untuk website sebuah organisasi nirlaba. Saya diminta menulis sebanyak 30 artikel pendek (400 kata) per bulan alias satu artikel per hari. Artikel-artikel tersebut dikirim setiap dua minggu sekali lengkap dengan ilustrasi yang sesuai dengan isi tulisan. Saya mampu menyelesaikannya jauh sebelum tanggal jatuh tempo alias deadline tiba.

Nah, berdasarkan hal itu saya paham bahwa untuk menulis novel agaknya saya memerlukan situasi dan kondisi yang bisa memaksa saya untuk menuntaskannya. Untuk yang satu ini, saya sangat mengidam-idamkan sebuah kultur dalam dunia tulis-menulis yang lazim terjadi di Jepang. Apa itu? Menculik penulis! Di Jepang, para penulis/pengarang yang karya-karya telah menunjukkan kualitas bagus, antara lain telah memenangkan penghargaan sastra –apalagi yang sekaliber penghargaan Akutagawa (penghargaan di bidang sastra paling bergengsi di Jepang)-kerap menjadi rebutan penerbit. Demi memperoleh hasil karangan yang bagus, penerbit tak segan ‘menculik’ sang pengarang untuk kemudian menyekapnya dalam kamar hotel mewah selama beberapa waktu dengan harapan si pengarang bisa menghasilkan karya yang bagus (lihat Bambu dan Orang Jepang karya Ajip Rosidi, terbitan Pustaka Jaya 2003, hal.69).

Wah, saya jadi iri. Kepengen juga diculik seperti itu. Akan tetapiiiiii….seandainya pun penerbit-penerbit kita akhirnya mengadaptasi kebiasaan ‘culik-menculik’ seperti itu, apakah saya bakal masuk daftar target penulis yang akan diculik??? Lha wong, kualitas karangan (cerpen) saya masih biasa-biasa saja kok. Nulis novel saja belum mampu. Apalagi memenangkan hadiah sastra bergengsi. Ya sudahlah, nggak diculik juga rapopo. Mimpi aja dulu deh alias mengkhayal dotkom. Semoga tahun ini saya benar-benar mampu menulis novel meski tanpa proses diculik terlebih dulu. Hehehe. Salaaaam! (^__^)/ ***

Octaviana Dina

Jakarta, 8 Mei 2014

dimuat dalam Kompasiana.com tanggal 8 Mei 2014

4 pemikiran pada “Saya Juga Kepengen Diculik!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s