SONATA HUTAN HUJAN

Gambar

 

Malam makin temaram, tapi aku masih saja mengeja jiwamu dan menerka-nerka lekuk hatimu. Hati yang kau sembunyikan di balik lapisan kelok liukan kata. Kata-kata yang bertumpuk merapat, tebal merimbun bagai gugusan pepohonan belantara hutan hujan yang enggan kumasuki. Hutan hujan tempatmu timbul tenggelam. Tempatmu menghirap, sirna lalu muncul kembali.

Kukira engkau kabut dingin banal belaka yang tak pernah jemu menggerayangi setiap pagi yang jatuh di pucuk belantara. Akan tetapi ternyata kau adalah sepasang mata bercahaya yang tak pernah lekang mengintai dari balik kelindan belukar gelap rimba basah yang enggan kujejaki.

Mata yang menyorotkan cahaya purba yang menerabas hingga jauh ke ujung relung labirin hati, meski sudah kubentangkan benteng waktu di antara kita. Aaah! Aku tak menyukai permainan ini. Mengapa aku hanya mampu membaca punggungmu yang hana dan kelam sementara cahaya matamu memantik sinar yang memandumu menelisik sekujur benakku.

Selanjutnya di : http://fiksi.kompasiana.com/puisi/2014/05/24/soneta-hutan-hujan-659660.html

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s