MALAM

Gambar

Ketiga lelaki itu diam-diam menguntitnya sejak tadi. Perempuan itu sama sekali tak tahu. Lelaki-lelaki itu tahu, perempuan itu sama sekali tak tahu dirinya diikuti. Dan perempuan itu tak kunjung tahu bahwa ketiga lelaki itu mengetahui dirinya sama sekali tak tahu telah dibayang-bayangi mereka sejak tadi.

         

            Beberapa belas menit lalu, ketiga orang brengsek  itu menodongku dengan pisau, lantas membekap dan menyeretku ke dalam sebuah bangunan setengah jadi yang terbengkalai di balik kerumunan ilalang tinggi. Tempat suram yang sarat aroma kejahatan. Sebatang lilin menyala lemah di sudut ruang. Mungkin ini tempat ketiga orang itu biasa berkumpul merencanakan aksi jahatnya. Hatiku gemetar menebak-nebak perbuatan apa yang mereka rencanakan bagiku.

Mendadak ia muncul di hadapan kami. Sangat tiba-tiba. Seperti menjadi ada dari ketiadaan. Ketiga orang itu terkejut setengah mati. Dengan suara rendah ia meminta mereka melepaskanku. Dua dari ketiga orang itu meradang, lantas langsung menyerang. Penolongku gesit berkelit dari serangan yang datang membabi buta. Gerakannya amat cepat, hingga sulit diikuti mata. Tiba-tiba ia mencekal tangan kedua orang itu, lalu melontarkan mereka dengan amat kuat ke dinding beton. Mereka terhempas keras, dan jatuh berdebum di lantai.

Orang ketiga yang terus membekapku segera bernasib sama. Terkapar tak bergerak. Erangan tertahan mengalir dari mulutnya. Aku nyaris tak mempercayai mataku. Bagaimana bisa sosok sekurus itu memiliki tenaga demikian hebat. Ketiga begundal itu bak kulit-kulit pisang yang begitu ringan untuk dilontarkan sesukanya.

“Pergilah,” ucapnya padaku dengan nada rendah yang datar. Ia lalu mendekati ketiga orang yang terkapar itu, dan berlutut di dekat salah satu dari mereka. Ia seolah tak mengindahkanku. Pandangannya tertuju hanya pada ketiga orang itu. Seberkas kilatan ganjil menyala di matanya.

Benakku masih sibuk dengan kejadian yang kusaksikan tadi. Rasa ingin tahuku bercampur aduk dengan perasaan takut dan bingung. Setidaknya aku harus mengucapkan sesuatu, pikirku.

            “Apakah kau manusia?” bisikku. Benar-benar kuberanikan diri untuk bertanya meski sekujur hatiku menggigil tak keruan. Dalam ruangan temaram  sesunyi ini  pertanyaan itu menyimpan resiko tak terduga.

Sosok yang kutanya tak menjawab. Hanya terkekeh pelan. Mungkin pertanyaanku menggelikan hatinya. Bulu kudukku meremang saat tawa lirih itu bergema dalam kesenyapan. Aku dicekam perasaan seram. Sosoknya memang seperti manusia. Tak jelas berjenis kelamin apa.  Namun siapa pun dia, kelihatannya ia punya perikemanusiaan. Setidaknya ia telah meloloskan aku dari cengkeraman begundal-begundal brengsek yang kini bergelimpangan di hadapanku.

            “Pergilah,” desisnya. Ia menoleh dan menatapku. Aku melangkah mundur. Mundur. Terus mundur. Seluruh tubuhku bergidik dan bergemetaran. Mata itu! Seketika aku teringat pada mata Kimu, kucingku, yang menyala kehijauan saat di dalam gelap.

 

***

Baca kisah selanjutnya di : http://m.kompasiana.com/post/read/635811/1/malam.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s