KUCING

Kucing

Leo menggelengkan kepala. Apanya yang lucu? Kucing memang binatang goblok. Dasar Jimi tolol, gerutunya dalam hati. Buat apa mempedulikan kucing. Hewan-hewan sialan itu selalu saja menciptakan kehebohan saat musim kawin.

 

            Jimi mengawasi tingkah ganjil yang sedang dipertontonkan kucing berbulu hitam belang putih di dekat tembok tempat sampah tetangga depan rumah. Kepala mahluk kerempeng berekor tanggung itu itu mendongak, mulutnya mengeluarkan rengekan parau yang menggelikan. Di hadapannya, di atas tembok tempat sampah setinggi kira-kira satu meter, seekor kucing lain berbulu kuning duduk bertengger sambil mengibas-ngibaskan ekor panjangnya ke sana-ke mari dengan gerakan lambat. Matanya yang seperti kelereng menatap ke arah lain dengan pandangan bosan. Sama sekali tak mengacuhkan rengekan si hitam. Jelas bagi Jimi, kucing hitam belang putih itu berjenis jantan, dan agaknya sedang berupaya merayu si kuning untuk dikawini. Menilik bentuk tubuh dan suaranya, Jimi menebak si hitam adalah jantan muda dan mungkin ini kali pertama baginya merayu betina. Jimi menyeringai.

            Tak mendapat respon yang diinginkan, si jantan muda mencoba taktik lain. Seraya terus mengumbar rengekan yang menggelikan itu, ia mengubah posisi : makin mendekat, berancang-ancang meloncat ke atas tembok tempat sampah. Taktik itu berhasil. Kucing betina berbulu kuning beralih perhatian; menatap jantan muda di bawahnya. Kibasan ekornya kian cepat. Terdengar desisan marah, betina itu memperlihatkan taringnya. Tiba-tiba, salah satu kaki depannya terayun deras dengan cakar terbuka. Plak! Plak! Dua tamparan telak mendarat di kepala si jantan muda, membuat binatang itu melompat mundur akibat terkejut. Dengan penuh kemenangan kucing betina itu meloncat turun, lalu melenggang pergi dengan ekor teracung ke atas. Dua benjolan besar menggembung di kedua sisi perutnya.

             Seketika tawa Jimi jebol. Terkekeh-kekeh ia menertawai kucing jantan yang lantas mengekor betina yang tengah bunting itu sambil terus mengerang-erang merayu dengan suara menggelikan.

            “Dasar kucing goblok! Tolol kau, tolol!” ejek Jimi seraya terus tertawa geli, seolah adegan itu adalah peristiwa terlucu yang pernah dilihatnya.

            “He, Jimi. Kenapa lu ketawa sendiri?” tiba-tiba sebuah suara menyela. Jimi menoleh dengan mulut meringis menahan sisa-sisa tawa. Matanya menangkap sosok laki-laki berdiri di teras sempit yang menjorok keluar dari kamar atas rumah sebelah. Kaos singlet yang dikenakannya terlihat kepayahan menutupi bagian perut yang kelewat buncit. Tipikal perut peminum bir kronis.

            “Ada kucing goblok, Om Leo,” sahutnya menyeringai, lalu ia terkekeh lagi.

            Leo menggelengkan kepala. Apanya yang lucu? Kucing memang binatang goblok. Dasar Jimi tolol, gerutunya dalam hati. Buat apa mempedulikan kucing. Hewan-hewan sialan itu selalu saja menciptakan kehebohan saat musim kawin.

Selanjutnya baca di :http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2014/02/23/kucing-634103.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s