SARAPAN

Gambar

Menurut pakar kesehatan, sangat penting dan bergunba untuk membangun stamina tubuh agar prima dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Sarapan selalu identik dengan ‘makan sesuatu’ di samping ‘minum sesuatu’ pada pagi hari. Umumnya antara jam 5 hingga jam 9. Mayoritas orang-orang yang saya kenal merasa wajib sarapan sebelum memulai aktivitas agar tubuh bertenaga dan tidak lemas.

Ketika pertama kali saya memasuki dunia kerja pada awal era tahun 90an, waktu antara jam 7.30 hingga jam 8 pagi adalah saat-saat ramai di kantin atau di dapur kantor. Bahkan berlalu lalang dengan piring atau mangkok berisi makanan di ruang kerja sebelum jam kerja resmi dimulai (jam 8) merupakan hal yang dapat dimaklumi. Namanya juga demi menjaga stamina kerja. Perut kenyang, kerja lancar. Sepanjang pengamatan saya, makanan seperti mi instan, bubur ayam, lontong sayur, bahkan nasi, adalah menu sarapan paling populer.

Akan tetapi, berlawahan dengan kebiasaan umum tersebut, saya justru tidak nyaman jika harus memulai aktivitas (baca: bekerja) dengan perut kenyang. Secangkir teh manis atau susu sudahlah cukup. Masih bolehlah jika ditambah setangkup roti. Mi instan, lontong sayur, apalagi nasi, adalah makanan yang terlalu ‘berat’ untuk saya santap sebagai sarapan. Seingat saya, nasi hampir tak pernah lagi jadi menu makanan pagi saya semenjak lulus sekolah dasar.

Sekali waktu, saya pernah mendapati seorang pria asyik menikmati semangkok mi pangsit yang masih berkepul-kepul di pinggir jalan. Ketika itu belum lagi jam 6.30 pagi. Saya pun bertanya-tanya dalam hati, bagaimana bisa sarapan dengan menu demikan. Perut saya pasti berontak jika sepagi itu sudah dijejali mi pangsit. Namun akhirnya saya menjadi geli sendiri setelah teringat bahwa saya pun pernah sarapan dengan menu yang jauh lebih ‘parah’.

Ketika masih kuliah, selama beberapa waktu menu sarapan saya adalah sebotol softdrink alias minuman ringan dingin! Kala itu saya mengambil mata kuliah yang dimulai pada jam 8 pagi. Dari rumah saya hanya minum secangkir teh manis saja. Begitu sampai di kampus sekitar jam 7.30 saya langsung ke kantin dan sarapan softdrink dingin. Mulanya sih karena haus saja, tetapi lama kelamaan menjadi kebiasaan. Dan karena cukup mengenyangkan, saya tidak merasa perlu untuk makan apa-apa lagi hingga saat makan siang. Saya bersyukur tidak terkena penyakir maag karena menu sarapan yang ‘nyentrik’ itu.

Menu ‘parah’ lainnya adalah buah gohok –buah sebesar kira-kira dua kali ukuran kelereng, berwarna hitam keunguan dengan rasa asam. Suatu pagi seorang rekan sekantor saya membawa sejumlah buah gohok yang rencananya akan dirujak saat istirahat makan siang nanti. Rupanya kaum hawa memang suka makanan yang asam-asam kecut. Akibat terlanjur ngiler membayangkan nikmnatnya rasa asam kecut buah itu bila dimakan dengan sedikit garam, beberapa orang termasuk saya tak tahan lagi untuk segera beraksi mengganyangnya. Alhasil sepiring buah gohok ludes disantap secara keroyokan. Untung saja perut saya yang cuma terisi teh manis tidak protes.

Karena saya tidak terlalu suka makanan dan minuman panas, menu sarapan saya kerap kali bersuhu dingin alias keluar dari dalam kulkas. Suatu ketika saya bekerja di perusahaan yang lokasinya lumayan jauh dari rumah. Agar tidak terlambat dan juga demi menghindari macet, saya acap kali berangkat sekitar pukul 5.45 pagi. Tiap lagi kira-kira jam 5, setelah doa pagi dan sebelum mandi, saya langsung sarapan. Karena teh biasanya baru dihidangkan si mbak sekitar jam 5.30 pagi (dan harus menunggu samapai agak dingin), maka yang pertama saya minum adalah air mineral dingin. Bila sedang bosan atau tidak ada roti, sarapan saya adalah buah-buahan yang disimpan di kulkas: pisang, pepaya, atau apel dingin pun jadilah.

Sarapan di negara orang ternyata juga punya cerita sendiri. Beberapa tahun lalu saya dan tiga orang teman berkunjung ke Barcelona, Spanyol. Kami menginap di sebuah hotel kecil bintang tiga. Saat sarapan, menunya sungguh berlimpah. Berbagai jenis roti, kue-kue, sosis, irisan daging asap, krim sup, aneka buah, dan beberapa jenis masakan lain yang tak begitu saya ingat. Kami dipersilahkan makan sepuasnya, namun makanan tak boleh dibawa keluar ruang makan. Akan tetapi karena kami berpatokan pada perjalanan liburan ke Hongkong –kami berpergian bersama- dua tahun sebelumnya di mana petugas hotel tidak menegur tamu hotel yang membawa keluar sisa makanannya, kami sepakat membawa sisa sarapan kami keluar.

Saya nekat mengeluarkan sehelai kantong plastik untuk menyimpan potongan roti yang tak habis saya santap. Rupanya suara kresek-kresek kantong plastik tersebut menarik perhatian pengawas ruang makan. Tanpa diduga orang tersebut menghampiri meja kami. Dengan suara pelas tapi tegas ia menegur teman yang duduk di sebelah saya bahwa tamu hotel dilarang membawa makanan keluar ruang makan. Alasannya adalah untuk mencegah agar produk makanan hotel ditiru  pihak lain.

Dengan hati kecut dan sedikit gelagapan kami berusaha menjelaskan bahwa kami sama sekali tak berniat menyontek produk makanan tersebut. Boro-boro terpikirkan! Kami hanya ingin menghabiskan sisa sarapan di jalan, sebab pagi itu kami akan mengikuti tur di lain tempat. Setelah melarang sekali lagi, penhgawas itu pun berlalu. Namun diam-diam, saya simpan juga sisa roti yang terlanjur dibungkus. Tanpa suara secepatnya kami meyelinap ke luar menuju lobi dan langsung mengarahkan langkah ke pintu keluar. Begitu tiba di pintu keluar hotel, segera saja kami berhamburan kabur berlarian ke jalan hingga beberapa meter jauhnya seraya tertawa cekikikan. Tak ubahnya seperti bocah-bocah bengal yang baru nyolong jambu di kebun orang. Betapa tidak geli, kami merasa bagai maling yang menggondol beberapa potong sisa roti yang sebetulnya sah menjadi milik kami karena tarif kamar hotel yang kami bayar sudah termasuk biaya makan pagi alias sarapan. Aiiiihh, ada-ada saja.

****

Octaviana Dina

September 2003

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s