KATRIN INGIN BERCERITA

GambarBerbagilah, sekalipun hanya sekelumit kenangan keindahan…”.  Kalimat-kalimat itu –mungkin Tuhan sengaja meletakkannya- menggenangi pikirannya sehingga ia tergerak melukiskan keindahan itu dalam tulisan.

 Katrin kesal. Ini sudah kali ketiga naskah cerita pendeknya dikembalikan redaktur sastra suratkabar itu –koran papan atas di kota tempatnya berdomisili semenjak lahir. Diiringi komentar yang masih itu-itu juga: “tema cerita tidak sesuai dengan kriteria yang ada”. Padahal Katrin bukannya tidak berusaha memperbaiki. Ia memperbaiki kosa katanya agar semakin matang dan dalam. Ia memperbaiki jalan ceritanya agar tidak bertele-tele dan pas dengan format halaman yang diinginkan redaksi. Diperbaikinya hal yang menurutnya masih bisa dan patut diperbaiki sebelum mengirimkan naskah itu kembali. Ia memperbaiki, bukan mengubah. Bagi Katrin, jelas berbeda besar antara ‘memperbaiki’ dan ‘mengubah’. Memperbaiki sudah pasti menghasilkan yang lebih baik dari yang sebelumnya. Namun mengubah, siapa menjamin hasilnya pasti akan lebih baik? Katrin kukuh berpijak pada pendiriannya. Baginya, ada sesuatu dalam ceritanya itu yang sangat indah. Keindahan itulah yang ingin ia sampaikan kepada khalayak ramai lewat cerita pendeknya –jika dimuat dalam suratkabar tersebut tentunya.

            Katrin memandangi naskah itu dan mulai membacanya kembali dengan seksama. Satu kali. Dua kali. Empat kali. Katrin mendengus. Masih tetap indah. Tak ada cacat yang ditemukannya. Masih saja ia tergetar oleh keindahan yang memancar dari lubuk cerita itu. Jemari Katrin yang panjang-panjang menggaruk-garuk kepalanya yang sembilan puluh sembilan koma sembilan puluh sembilan persen sama sekali tidak gatal. Dahinya berkernyit-kernyit. Ia berusaha menemukan di mana letak kesalahannya. Akan tetapi, lagi-lagi ia  tak bersua sepotong pun cela. Begitu sulitkah membaca sebuah keindahan? Apakah terlalu rumit keindahan yang kuceritakan? Katrin membaca lagi. Ini entah sudah ke berapa ratus kali membaca sejak ia menulis cerita itu.

***

             Sesungguhnya tak ada yang rumit pada cerita yang dikisahkan Katrin. Juga tidak sulit untuk memahaminya. Cerita itu amat sederhana. Kisah tentang sehelai kantong plastik dan angin di suatu siang di bulan Juli. Cerita yang mungkin kelewat amat sederhana bagi sebagian orang. Tetapi, memang begitu adanya cerita yang berangkat dari pengalaman empiris Katrin. Sehelai kantong plastik dan angin adalah suatu momen yang banal belaka. Hal yang bisa ditemui di mana pun tanpa kesan apa pun. Bayangkan, apa yang istimewa dari peristiwa kantong plastik yang –katakanlah- terbang ditiup angin? Tapi itulah Katrin. Ia sendiri sebenarnya tak sepenuhnya paham mengapa kejadian tak berarti itu bisa menjelma menjadi keindahan yang luar biasa di matanya. Barangkali karena ia menyaksikannya lewat sepasang mata cokelat terangnya. Barangkali juga karena ia melihat dengan dua pasang mata sekaligus. Sepasang mata cokelat terangnya ditambah sepasang lagi matanya yang tersembunyi jauh di dalam hati.

Baca selanjutnya di : http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2014/02/13/katrin-ingin-bercerita-631644.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s