MALAM MUSIM KEMARAU

Gambar

 

 

 

 

 

Kuseka airmataku dengan punggung telapak tangan. Masihkah May menyukai lelaki yang menangis karena cinta?           

 

Rasa penat yang menyelubungi tubuhku perlahan surut ketika kakiku menapaki jalan masuk kompleks perumahan itu. Udara malam musim kemarau mengirimkan bau dedaunan meranggas ke rongga hidung. Aku melangkah tenang di atas aspal buram yang menghisap pantulan cahaya lampu-lampu jalan. Suasana lengang dan sepi. Kompleks bagaikan deretan rumah-rumah besar tak berpenghuni. Mungkin karena saat ini sudah lewat dari pukul sebelas.

            Tapi aku tahu, ada seseorang yang biasa berjaga di larut malam seperti ini. Hatiku sedikit berdebar. Perasaan aneh itu senantiasa menyeruak saat aku makin dekat menuju rumah selewat kelokan. Perempuan itu. Ia duduk di beranda rumahnya yang besar dan asri pada larut malam. Hampir selalu demikian. Sendirian membisu dalam kesunyian malam, hanya ditemani seekor kucing yang kerap duduk manja di pangkuannya dan terlihat begitu setia. Ketika pertama kali melihatnya, dalam perasaanku berkelenyar sensasi aneh. Semacam perpaduan antara bergidik, terkejut sekaligus penasaran. Di malam larut dan sepi begini,  duduk mematung dalam senyap di bawah cahaya putih kebiruan lampu neon yang membuat ekspresi wajahnya yang datar menjadi dingin, ia lebih mirip hantu. Tapi pakaiannya yang berlainan tiap malam membuatku yakin ia bukan hantu.

            Sensasi aneh itu telah menjadikanku sedikit irasional. Memilih berjalan kaki memutar sejauh tiga ratus meter tiap kali pulang kerja hanya untuk sekedar mencuri pandang selama dua-tiga detik ke arahnya. Dan selepas sekilas pandang itu benakku selalu dipenuhi beraneka reka dan duga sebab musabab kebiasaan perempuan itu. Mungkin ia sedang menunggu kembalinya sang kekasih yang hilamg entah ke mana. Mungkin ia adalah penyair kesepian yang sedang mencari sihir kata-kata dalam kesenyapan malam. Atau barangkali perempuan itu seorang penyendiri yang mencintai kesunyian. Ada bermacam ‘mungkin’ dan ‘barangkali’ yang menyalakan sebersit gairah dalam hidupku yang serbamonoton. Yang jelas, dalam kesendirian dan kesunyiannya perempuan itu membuatku merasa memiliki teman. Membuatku terkenang, bahwa aku ini anak sunyi yang dulu tumbuh dan besar di panti asuhan hingga aku berhasil hidup mandiri dalam kesendirian.

            Aku katakan, aku tidak sedikitpun mengenalnya –seperti juga terhadap penghuni-penghuni lain perumahan iini. Aku tinggal sendiri di rumah petak kontrakan di belakang kommpleks kira-kira sejak setahun lalu. Bagiku tidaklah penting mengenal para penghuni kompleks. Hidup kami masing-masing berada di jalurnya sendiri. Aku tak peduli dengan urusan orang lain. Lagipula enam hari dalam seminggu aku bekerja. Berangkat pagi dan pulang ke rumah saat malam telah larut. Apa peduliku dengan para penghuni kompleks? Yang penting masing-masing kami menjalankan aktivitas hidup dengan tenang. Dan yang terpenting bagiku adalah bekerja keras mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya demi mewujudkan impian hidup berkecukupan, setidaknya seperti orang-orang penghuni kompleks ini.

            Aku membelok. Dan seperti biasa, melambatkan ayunan kaki. Menjelang langkah kelima kutolehkan sedikit wajah ke kanan seraya melepas pandangan ke arah beranda rumah itu. Hatiku berdebaran. Ah! Kosong! Mataku tak menangkap seorang pun. Tak ada siapa-siapa di sana. Aku mendesah kecewa. Sensasi yang sudah kutumpuk sedari perjalanan pulang tadi seketika luruh berantakan. Langkahku memberat. Di mana perempuan itu? Apa yang terjadi padanya sehingga ia tak menampakkan diri malam ini. Benakku dipenuhi rentetan tanda tanya. Si kucing besar yang biasa menemaninya pun tak terlihat batang hidungnya. Tiba-tiba aku merasa kehilangan. Hatiku merawan tak keruan.

 

Baca selanjutnya di http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2014/02/07/malam-musim-kemarau-630292.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s