SEPATU MERAH

Gambar

 

Kar mengintip dari balik celah sempit antara teralis pagar besi dan tembok yang tak tertutup sekat penghalang pandangan. Di garasi yang berukuran jauh lebih luas dari rumahnya di kampung itu berserak berbagai barang. Tumpukan koran, majalah, buku, kardus, jerigen plastik, aneka keranjang plastik berisi entah berapa macam benda lainnya, bergeletakan di sana-sini. Hati Kar sontak mekar penuh harap. Mudah-mudahan banyak barang yang dibuang, batinnya senang. Bola matanya makin berbinar saat pandangannya tertumbuk sepasang sepatu merah berhak tinggi dengan hiasan pita besar di bagian depannya. Belum pernah ia melihat sepatu secantik itu. Kar berharap semoga saja sepatu itu juga dibuang.

 

“He, kamu pemulung ya!”Seorang perempuan berambut pendek bercelana pendek menegurnya dengan suara keras. Kar menatapnya dengan gugup. “Sini kamu,” perintahnya dengan isyarat agar Kar mengikutinya masuk. Sesaat Kar berdiri ragu di depan pagar yang terbuka baginya. Karung dan tongkat pengais ini haruskah dibawa masuk? tanyanya pada diri sendiri. “Ayo! Bawa saja!” sergah si rambut pendek melihat gelagat Kar yang hendak meninggalkan peralatannya di situ.

 

Seorang perempuan lain tersenyum menyambutnya. Masih muda, tapi jelas jauh lebih tua dibanding dirinya maupun si galak itu. Walau hanya mengenakan kaos putih pendek dengan celana selutut, Kar tahu perempuan itu berbeda. Pasti ini si majikan, ujarnya dalam hati. Ada gelang emas melingkar di salah satu pergelangan kakinya.

 

“Siapa namamu?”

 

“Kar…,” sahut Kar dengan sikap canggung. Perempuan itu mendekat. Kar menatapnya kagum. Perempuan itu sungguh cantik, seperti bintang filem yang kerap ia lihat gambarnya di tempat Pak Sim, bandar koran dan majalah bekas. Rambutnya panjang. Hitam berkilau. Kulitnya bersih bersinar. Bahkan tubuhnya berbau harum.

 

“Ini ada barang-barang yang sudah tak terpakai lagi, ambil saja mana yang kamu mau.” Mata Kar berkerjap-kerjap memandangi tumpukan barang yang ditunjuk perempuan cantik itu. Segera terbayang lembaran-lembaran uang yang akan diperolehnya kelak dari para penadah barang bekas.

 

“Benar, Bu? Barang-barang ini boleh saya ambil semua? Sepatu itu juga, Bu?” Kar menunjuk sepatu merah berpita itu dengan hati berdebar karena takut ucapannya salah. Perempuan cantik itu mengangguk.

 

“Boleh saya panggil adik saya dulu, Bu? Dia bawa gerobak…” Hati Kar serasa melambung saat perempuan itu mengiyakan. Bagai terbang ia menuju gerbang. “He, cepat ya! Saya banyak kerjaan!” tukas si rambut pendek sebelum Kar melewati pintu.

 

Tubuh kurus Kar langsung melesat mencari Rasidi. Kar berharap adiknya itu masih berada di jalan sebelah. Semoga saja nasib mujurnya hari ini tak pupus. Ia tak mau rejekinya disabot si Jangkung, saingannya yang selalu lebih gesit, lebih lihai darinya, dan yang gerobaknya lebih besar. Jangan sampai sepatu merah itu diserobot si Jangkung, bisik Kar mewanti-wanti dirinya sendiri. Nafas Kar tersengal saat tiba di jalan Pinus. Ini sudah jalan keempat yang ia lalui, namun Rasidi belum juga terlihat. Matanya nyalang mencari, hatinya gelisah. Kata-kata si rambut pendek yang galak itu, sepatu merah nan cantik, dan wajah si Jangkung bergantian berkelebatan di benaknya. Ah, ke mana sih Rasidi, keluhnya. Tiba-tiba mata Kar berhenti di satu titik. Gerobak biru kusam di dekat pohon flamboyan. “Diiii!!!” Gadis empatbelas tahun itu menghambur laksana anak panah menuju tempat adiknya berada.

 

Lewat tiga perempat jam, dengan wajah berseri dan tubuh penuh keringat Kar mendorong gerobak Rasidi yang sarat berisi barang.

 

 

 

>> Baca selanjutnya di http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2014/01/26/sepatu-merah-627427.html

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s