Kapal-kapal di Samudera Liar Tak Bernama

sailing

I

Bukan tanpa takdir, dua kapal berpapasan pada suatu malam buta di samudera liar tak bernama. Satu mengarah ke Barat, satu menuju ke Timur. Berlalu tanpa ucapan perpisahan

Bukan tanpa takdir, tangan waktu menggiring haluan kapal-kapal itu untuk sekali lagi bertemu, lantas bersisian menempuh gelombang. Dekat tapi jauh, jauh tapi dekat. Namun alun pacu mereka kian serupa, menuju dermaga berantah yang entah di mana

Sementara itu, samudera liar tak bernama tanpa lekang memintal dan menenun ombak demi ombak, tanpa bosan melahirkan badai demi badai yang tersebut namanya : rindu dendam, harap hasrat, mimpi angan. Tak berkesudahan. Sunyi tapi ganas menerjang. Tak henti memberi ngilu pada layar-layar, pada haluan dan buritan, pada geladak-geladak, pada sekujur tubuh-tubuh kapal

Dua kapal berlayar bersisian. Jauh tapi dekat, dekat tapi jauh. Saling melempar sinyal dan bertukar sandi yang hanya dimengerti hati. Hati yang telanjang dan sarat luka-luka kesepian

Milik merekalah samudera liar tak bernama itu. Hingga sampai waktunya tiba untuk membuang sauh di pelabuhan takdir. Maka, selamanya kedua kapal itu kelak karam dalam haribaan cinta, yang telah lama dituliskan semesta

Untuk membaca lanjutannya, silahkan kklik tautan berikut :

http://fiksi.kompasiana.com/puisi/2014/01/24/kapal-kapal-di-samudera-liar-tak-bernama-627153.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s