Punya Keahlian Itu Penting ! Sebuah Pesan dari Tokyo Sonata

Gambar

Kemarin malam saya menonton Tokyo Sonata, sebuah filem drama keluarga  Jepang yang disutradarai Kiyoshi Kurosawa. Filem keluaran tahun 2008 ini telah berhasil memenangkan dua penghargaan, antara lain Filem Terbaik dalam 3rd Asian Film Award 2008 dan Prix Un Certain Regard dalam Festival Filem Cannes 2008, serta masuk nominasi untuk kategori Achievement in Directing dan Best Screenplay pada Asia Pacific Screen Award 2008.

Filem ini menceritakan kisah Ryuhei Sasaki (diperankan dengan baik oleh aktor Teruyuki Kagawa), 46 tahun, seorang direktur administrasi perusahaan alat-alat kesehatan yang dipecat karena perusahaannya memilih mempekerjakan tenaga kerja asal China yang bergaji jauh lebih murah. Saat akan dipecat, atasannya memanggilnya dan menanyakan keahlian khusus apa yang dimiliki Sasaki yang bisa didedikasikan untuk kemajuan perusahaan sehingga dengan demikian ia wajib dipertahankan. Sasaki tak bisa menjawab dengan tepat. Ia pun dipecat.

Demi menyembunyikan status barunya sebagai pengangguran dari keluarganya, setiap pagi Sasaki berpura-pura berangkat ke kantor seperti biasanya. Setiap hari ia mendatangi biro pencari kerja dan mengantri berjam-jam bersama para pekerja yang di-PHK perusahaan mereka. Sayangnya, pekerjaan-pekerjaan yang tersedia dan ditawarkan kepada Sasaki adalah pekerjaan ‘rendahan’ jika dibandingkan jabatan prestisiusnya sebagai direktur administrasi, seperti penjaga pabrik, pegawai klub karaoke, petugas supermarket dan sebagainya. Sasaki sudah barang tentu tak berminat.

Hingga suatu ketika, Sasaki mendapat panggilan wawancara di sebuah perusahaan yang cukup bonafid. Lagi-lagi pertanyaan yang sama meluncur dari calon atasannya. “Keahlian apa yang kau miliki?” tanyanya. “Aku bersedia mengerjakan apa saja,” sahut Sasaki. “Tidak bisa begitu, Sasaki-san. Usiamu sudah 46 tahun, jadi setidaknya kau harus mempunyai satu keahlian khusus yang bisa kau berikan untuk perusahaan ini,” tegas sang pewawancara. Begitulah kira-kira percakapan yang terjadi di antara mereka. Sekali lagi, Sasaki tak mampu menunjukkan keahlian apa yang ia miliki secara spesifik. Ia gagal dalam wawancara itu.

Pertanyaan-pertanyaan tentang keahlian itu sungguh menohok, sebab menyadarkan kita akan betapa pentingnya kita sebagai individu memiliki dan menguasai setidak-tidaknya sebuah keahlian dengan baik. Sebagian orang ada yang sangat beruntung mempunyai kemampuan diri yang amat baik sehingga bisa menguasai beberapa keahlian sekaligus dengan mumpuni, sehingga mereka menjadi golongan orang yang sangat dicari dan dihargai oleh sebab keahlian-keahliannya tersebut. Sebagian orang menguasai sebuah keahlian dengan baik, sebagian lagi menguasai keahlian namun dengan mutu seadanya alias tanpa keistimewaan. Sementara ada pula sebagian orang yang terpaksa bernasib sial karena tak mampu menguasai satu keahlian pun, atau dengan kata lain kualitas pekerjaan mereka buruk.

Kenapa golongan yang terakhir saya sebut ‘terpaksa bernasib sial’? Itu karena saya berpendapat bahwa sesungguhnya setiap manusia terlahir di dunia tidak dengan tangan kosong, alias kita sudah dilengkapi dengan karunia Tuhan yang spesifik. Dengan kata lain, Tuhan selaku Sang Maha Pencipta Alam Semesta tak mungkin membiarkan manusia ciptaanNya terlahir tanpa satu pun keistimewaan. Semua diberiNya keistimewaan khusus. Setidaknya satu. Bukankah Tuhan itu Maha Kaya lagi Maha Pemurah? Nah, mereka yang saya katakan ‘terpaksa bernasib sial’ adalah karena mereka tak sungguh-sungguh mencari tahu di mana letak keistimewaan diri mereka.

Dan seandainya pun mereka telah tahu, itu belum selesai. Sebab setiap kita bertanggung jawab untuk mengasah keistimewaan itu agar menjadi berlian yang cemerlang. Dan semua itu memang membutuhkan usaha dan upaya. Berlatih, berlatih dan terus berlatih. Mencoba, mencoba dan terus mencoba. Semua itu diperlukan agar diri kita menjadi mahir dalam setidaknya satu bidang.

Menjadi mahir berarti punya keistimewaan. Punya keunggulan. Kita tidak bisa menguasi keahlian tanpa menambahkan mutu dan keunggulan di dalamnya. Sebab jika mutu pekerjaan kita seadanya tanpa keistimewaan, kita akan gampang bernasib sial akibat terdepak mereka yang unggul dan bermutu dalam hasil pekerjaannya.

Jadi, pada akhirnya adalah penting untuk kita camkan bahwa memiliki keahlian dalam setidaknya satu bidang. Dan bahwa keahlian itu harus dibarengi oleh mutu dan keunggulan. Daripada mencoba menguasai banyak hal namun dengan mutu biasa-biasa alias tanpa keistimewaan, jauh lebih berharga hanya mempunyai satu keahlian dengan keunggulan yang baik, dengan keistimewaan. Jauh lebih berharga seorang juru ketik yang mumpuni dalam pekerjaannya ketimbang seorang insinyur yang hasil kerjanya tak berkualitas. Maka jadilah seorang yang mumpuni setidaknya dalam satu bidang, dan tandailah dirimu dengan keunggulan hasil kerjamu.***

 

 

Penulis : Octaviana Dina

Jakarta, Januari 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s