1965

dark

Hari itu
dari segala penjuru tiba-tiba saja kami dikepung
ratusan jari menuding, ratusan mulut melaknat
menimpakan nista atas kami
yang sampai detik ini tak sedikitpun kami mengerti
mengapa…

Hari itu
dengan tangan terikat dan
leher berkalung jerat kami digiring
di bawah penindasan sepatu lars dan bedil-bedil terkokang
dosa tak berampun dinaikkan ke atas pundak kami
Maka jadilah kami kaum terkutuk pengkhianat negara

Ada tertulis : upah dosa adalah maut
Maka di hari itu jadilah kami
petani-petani desa yang miskin
sama rendah dengan tikus-tikus yang tiap tahun menghamai sawah kami
Tak ada hak tanya, tak ada hak jawab
apalagi hak bela di mulut kami
Serupa dengan hama tikus, kami patut dibasmi tanpa alasan lagi

Maka jadilah kami di hari itu
takluk sebagai mangsa maut
yang datang dengan segenap kengerian
tubuh-tubuh kami menyerah
pasrah menerima segala
kebuasan parang dan kelewang
dan bengisnya berondongan peluru

O! darah, darah, darah, dan darah
tumpah ruah dari tubuh-tubuh kami
yang meregang nyawa dalam pedih
Hingga lepas nafas kami yang terakhir,
laknat dan nista itu terus mencerca
Hingga tandas tulang kami diterkam tanah,
belum pula sirna laknat juga nista itu

Hingga hari ini
Jiwa-jiwa kami masih tersesat
dalam kecamuk sejuta tanya
di kegelapan kubur massal
tak bernama tak bertanda
Maka jadilah kami kini
kegelapan itu sendiri…

Octaviana Dina
Jakarta, 30 September 2004

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s