KOIN HATI

Koin hati

Angin berhembus kencang. Dingin menusuk tulang. Di tengah hujan yang mulai deras, kupandangi laut di depanku. Ombak bergulung memukul pantai, berdeburan menggetarkan jantung. Langit kelabu menggantung di atas air. Di kejauhan halilintar sambung menyambung menyengati cakrawala. Sungguh bukan saat yang tepat untuk berenang-renang di laut.

Aku menghela nafas. Tetapi perempuan itu justru menyukai saat-saat seperti ini. Dengan pelampung sewaan, ia beria-ria berenang di air yang gelisah. Mengambang menghadap langit. Menyambut air hujan jatuh di wajahnya. Suatu kesenangan yang ganjil di mataku.

***

“Apa kau tidak takut disambar petir?” tanyaku waktu itu. Perempuan itu hanya tertawa kecil. “Justru itulah sebabnya aku berenang telentang. Supaya aku bisa mengawasi kilat. Kalau sudah makin dekat, barulah aku naik ke darat,” kilahnya saat itu. “Tapi, ajal kan di tangan Tuhan. Kalau memang sudah takdir ajalku di laut, yah…matilah aku,” lanjutnya lagi. Aku jadi bergidik mendengarnya.

“Kenapa tidak kau coba? Ini sungguh menyenangkan. Ayolah, temani aku,” ajaknya. Aku mengikuti jejaknya. Kuraih pelampung, lalu bergegas menembus hujan. Menghampiri laut. Beberapa saat kemudian aku menemukan diriku sudah mengapung di sampingnya.

“Bagaimana? Asyik kan?!” serunya di antara hujan. Matanya terpejam dan kedua lengannya terentang ke samping. Sekilas aku melihat seulas senyum membayang di bibirnya. Dia sungguh-sungguh menikmati kesenangannya ini. Aku jadi sedikit iri dibuatnya.

Entah beberapa menit lamanya kami berayun-ayun di atas ombak. Meresapi terpaan hujan dan angin. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk menyudahinya.
“Aku harus melakukan sesuatu,” ujarnya sambil membalikkan tubuhnya dan bergerak berenang menuju pantai. Aku mengikutinya. Dia bergegas-gegas ke bungalow tempat kami bertujuh –aku, dia dan lima rekan sekantor lainnya- tinggal berakhir pekan selepas meeting tahunan divisi kami. Ia melemparkan pelampungnya begitu saja di halaman, lalu memeras bagian bawah T-shirt-nya serta rambutnya yang basah kuyup di tangga sebelum masuk ke dalam. Beberapa detik kemudian ia muncul dengan sesuatu dalam genggamannya.

“Apa itu?” tanyaku. Ia tersenyum simpul seraya mengedipkan mata. Aku suka cara ia melakukannya. “Sst, ini rahasia. Jangan bilang siapa-siapa ya,” pintanya sambil membuka telapak tangan kanannya. Tujuh koin seukuran uang logam seribu rupiah. Semuanya mengilat. Mulus, kecuali satu. Koin itu berlubang di bagian tengah. Lubang berbentuk hati. Heran, darimana ia memperoleh koin berlubang seperti itu?

“Untuk apa koin-koin itu?” rasa ingin tahuku kian tergelitik. Lagi-lagi ia hanya tersenyum. Gemas aku dibuatnya. Ia menunjuk ke arah laut, lalu beranjak dari sisiku. Dengan penasaran aku membuntutinya berjalan ke pantai. Hujan belum lagi reda, namun langit mulai nampak benderang. Kulirik arlojiku, hampir jam empat sore. Pantai sepi. Hanya satu dua orang terlihat di kejauhan.

Tiba-tiba ia berteriak senang. “Lihat! Ada pelangi! Ada pelangi! Aduuuh, indahnya! Kau lihat kan? Itu di sana!” serunya sambil menunjuk-nunjuk batas cakrawala. “Wah, beruntung sekali aku!” lanjutnya lagi. Aku tersenyum geli, terpikat menyaksikan kegirangannya. Ia bagaikan anak kecil mendapat hadiah. Womanchild, desisku dalam hati. Perempuan dengan kanak-kanak di dalam jiwanya. Sungguh perpaduan yang memesona. Segera ia kembali ke laut dan terus berjalan hingga air melewati pinggangnya. Kubiarkan ia sendiri. Aku tahu ia tak ingin diganggu. Sambil duduk di pasir yang basah aku mengawasinya. Ia mematung sesaat, lantas mulai melemparkan dengan sekuat tenaga satu-per satu koin-koin itu sejauh mungkin ke tengah laut. Aku benar-benar tak paham dengan apa yang dilakukannya.

Ia kembali mematung, lalu berbalik dan berjalan perlahan ke arahku. Mataku tak berkedip menikmati setiap gerakan pinggulnya yang bulat. Ia membaringkan diri di sampingku. Tangannya dilipat di bawah kepala. Kedua matanya terpejam.
“Apa sih yang kau lakukan tadi?” tanyaku ingin tahu. Kucondongkan tubuhku ke arahnya. Sungguh mati aku ingin mendekapnya erat-erat. Ia tersenyum kecil. Matanya terus terpejam. Kulihat bibirnya bergetar. Aku yakin ia mulai kedinginan. Langit beranjak membiru. Gerimis menyisakan rinai.

“Kau belum menjawab pertanyaanku,” desakku tak sabar menanti sekian detik tanpa jawaban. Perempuan itu membuka matanya dan menatapku seolah terkejut. “Oh? kamu menunggu jawaban ya?” sahutnya geli. Matanya mengerjap menggoda. Kurang ajar, batinku gregetan. Perempuan satu ini memang gemar membuatku gemas dan penasaran. Ia senang melontarkan tebakan-tebakan tentang apa saja yang sedang kurasakan atau kupikirkan. Lantas mengolok-oloknya. Sialnya, hampir sebagian besar tebakan yang dilontarkannya padaku itu benar adanya. Membuatku mati kutu di depannya. Ia bagai satelit pemantau yang tahu betul cuaca hatiku. Sebenarnya aku tak menyukai permainan tebak-tebakan itu. Namun di hadapannya aku selalu tak berkutik. Aku rasa aku telah jatuh cinta padanya. Dan tampaknya ia tahu itu.

“Begitu ya. Awas, kucium kau biar tahu rasa,” desisku lantas bersiap seolah hendak menerkam tubuhnya. Ia menjerit kecil sambil menjauhkan diri dariku. Aku tahu, ia tahu aku tak sungguh-sungguh berniat menciumnya kala itu. Walau sebenarnya aku ingin sekali bisa nekat melakukannya.

***

“Pa, ayo kita kembali ke pondokan. Sudah gerimis, pasti sebentar lagi hujan,” ajak isteriku sambil membereskan tikar, handuk dan pernak-pernik mainan plastik milik Indra dan Kresna, putera kembarku yang berusia lima tahun. Ia mulai memanggili mereka. Dengan patuh anak-anak itu menyudahi keasyikan mereka bermain di laut, dan berlari-lari menghampiri kami. Anak-anak yang manis, pikirku. Banyak orang mengatakan, aku adalah laki-laki yang berbahagia. Isteri cantik dan ramah, sepasang putera kembar yang cakap dan berkelakuan manis, serta karir yang sangat menjanjikan. Ya, seharusnya aku merasa benar-benar berbahagia dan beruntung. Ninis adalah isteri yang baik. Selain cantik dan ramah, ia seorang yang tenang, lembut juga teratur. Di mataku Ninis bagaikan danau di lembah hijau. Tenang, teduh tak beriak. tetapi, sejujurnya kukatakan, jiwaku selalu merindukan laut. Air yang gelisah.

Kresna menjatuhkan diri di sampingku. “Pa, Kresna nemu uang. Tau-tau ada di dekat kaki Kresna. Ini dia,” ujarnya sambil menyodorkan sebentuk koin kusam. Jantungku berdegup hebat. Koin itu seakan memancarkan kilat yang menyambar mataku. Koin seukuran uang logam seribu rupiah dengan lubang berbentuk hati di tengahnya. Ada guntur mengelegar dalam hati. Kenangan empat tahun silam di pantai ini datang melanda dan menyiksa benakku.

***

“Ayo bilang, untuk apa sih kau melempar koin-koin itu? Jangan buat aku penasaran dong,” desakku lagi ketika aku mengantarnya pulang tatkala itu. Perempuan itu tertawa tergelak-gelak. Seolah pertanyaanku itu begitu lucu kedengarannya. “Ayolah, jawab aku,” tambahku makin tak sabar.
“Oke, oke. Penasaran betul kau rupanya ya,” jawabnya tersenyum menggoda yang membuat hatiku gemas untuk kesekian ratus kalinya. “Begini, koin-koin itu adalah perlambang harapan. Melemparnya ke laut, apalagi saat ada pelangi, konon akan membantu harapan-harapan kita tercapai,” sambungnya. Kali ini wajahnya tampak serius. Diam-diam aku tersenyum. Bodoh, desisku dalam hati. Teori darimana itu? Mungkin dari dunia kanak-kanaknya. Kulirik dia dengan perasaan sayang.

“Lantas, bagaimana dengan koin berlubang hati itu?” Ia tak segera menjawab. Matanya menerawang jauh. “Untuk harapan akan cinta?” lanjutku lagi. Ia hanya mengangguk. Pelan. “Kau jatuh cinta?” aku meneruskan. Lagi-lagi ia hanya mengangguk pelan.
“Apakah aku mengenalnya, laki-laki yang kau cintai itu?” Ia menoleh. Ditatapnya aku dalam-dalam tanpa sepatah kata pun. Hatiku berdebar kencang. Waktu seakan tiba-tiba berhenti.

“Suatu hari kelak, koin berlubang itu akan kembali,” akhirnya ia menjawab dengan suara berbisik.
Gemetar menahan perasaan. “Sebab cinta sejati tak pernah mati. Selalu hidup dalam hati. Kau akan tahu nanti,” lanjutnya masih bergemeletar. Puitis dan pedih. Kulihat kabut turun di kedua matanya. Perasaanku berkecamuk tak keruan. Aku rasa, tak perlu aku bertanya lagi. Kucari tangannya dan kugenggam erat-erat. Jemarinya balas mengenggam. Hanya sesaat. Ia tak pernah memberiku kesempatan untuk berbuat lebih jauh. Padahal, sungguh mati aku ingin merangkulnya, memeluknya, dan menciumnya. Berkali-kali aku mencoba mencuri kesempatan itu, tapi masih saja gagal. “Karena aku perempuan,” begitu alasannya dalam suara bergetar. “Dan karena isterimu juga perempuan,”
sambungnya dalam bisikan lirih. Telak! Membuatku akhirnya memutuskan tidak meneruskan niat itu lagi.
Kutatap dalam-dalam matanya yang berkabut itu. Ia kelu dalam diam dan membiarkan mataku merangkulnya, memeluknya, dan menciuminya. Lagi, lagi, berkali-kali.

***

Ninis, Indra dan Kresna berjalan lekas-lekas meninggalkan pantai. Aku mengekor dengan langkah berat. Langit semakin mendung. Di kejauhan kilat bergantian melecutkan cahaya. Hujan mulai turun. Aku menoleh ke belakang. mataku menjelajahi laut, berharap menemukan sosok perempuan mengapung telentang dengan pelampung. Beria-ria di air gelisah. Menyambut hujan turun di wajahnya. Harapan yang kosong. Sama kosongnya seperti lubang di relung hatiku yang tersembunyi. Entah di mana dia sekarang. Aku tak pernah berjumpa lagi dengannya. Ia pergi saat aku ditugaskan ke luar negeri tak lama setelah liburan di pantai itu. Kabarnya ia pindah ke luar kota. Tak ada yang tahu dengan pasti. Ia pergi begitu saja. Tanpa pesan, tanpa jejak. Meninggalkan aku dengan luka.

Jika ada yang bertanya mengapa aku mencintainya, aku tak bisa menjawabnya dengan pasti. Huh, jawaban yang klasik. Klise. Akan tetapi, memang begitulah adanya. Aku tak tahu kenapa hatiku harus bergetar-getar saat pertama menatap matanya. Juga kerinduanku padanya, aku tak tahu kenapa begitu berbeda. Ada banyak perempuan sebelum dirinya. Dan lebih banyak lagi sebelum Ninis. Tapi belum pernah ada yang seperti dia. Kurasa, cinta memang datang begitu saja. tak kenal batas. Tanpa ampun. Tanpa mampu ditahan. Juga jika dipertanyakan kenapa koin ini bisa jatuh kembali ke tanganku, aku pun tak tahu. Barangkali benar katanya dulu. Cinta sejati tak pernah mati. Barangkali inilah cinta sejati.
Koin hati dalam genggamanku menghangat. Aku menengadahkan wajah, mencari jatuhan air hujan. Aku yakin Ninis takkan mengenali airmataku.

Penulis : Octaviana Dina
Dimuat dalam Majaah Femina edisi Desember 2005

3 pemikiran pada “KOIN HATI

    • Halo, Selly. Terimakasih banyak ya untuk komentarnya. Resep agar cerpen kita dimuat di media -menurut yang saya pelajari- ada 3, yaitu : mengenali selera media ybs, membuat cerpen dgn tema yg unik atau bisa juga temanya biasa tapi disajikan dgn sudut pandang yg berbeda, tulislah cerita anda dgn sepenuh hati. Sukses ya buat Selly (^__^)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s