TESTAMEN SI TUMANG

Testamen Si Tumang sebelum mati berbunyi begini:

Kubiarkan anak itu merenggut hatiku dan membawanya pada ibunya. Ia akan berdusta. Berkata itu hati rusa. Tapi dusta tak bisa mengena. Dan ibunya –perempuan yang kuperistri itu- akan murka dan memberinya hantaman di kepala. Yang mengukir luka. Yang membuatnya mengembara.

Anak kembara akan kembali pada ibu yang tak mampu ia kenali. Katanya, duhai kau jelita sekali. Dan pada anak yang tak lagi ia kenali perempuan yang kuperistri itu kan mengerling berkali-kali. Batinnya, inilah lelaki sejati. Asmara terlarang memabukkan sepasang sejoli.

Mengucaplah jiwaku dalam sunyi membeku. Sebab cukuplah kutuk hanya untukku. “Sangkuriang, itu ibumu. Dayang Sumbi, ini anakmu.” Dan Dewa mendengar harapku. Bekas luka di kepala mengakhiri lupa perempuan yang kuperistri itu. Ah! Ternyata dia anakku! Aku sungguh malu! ia tersedu.

Maka bermuslihatlah Dayang Sumbi. Agar padam nyala cinta tak pantas itu. Bergegas ia mempercepat fajar. Hingga pupus jerih Sangkuriang membendung Citarum dan membuat perahu.

Kubiarkan anak itu merenggut hatiku dan membawanya pada ibunya. Sebab kutahu ia kan mencipta gunung dari perahu yang ditendangnya karena meradang. Gunung impian ibunya. Aku ingin menenun kain seraya memandangi punggung gunung setiap saat, bisik perempuan yang kuperistri itu dulu.

Maka karenanya kubiarkan anakku itu memanahku mati, merenggut hatiku dan membawanya pada ibunya. Lagipula, aku telah bosan jadi anjing.

Octaviana Dina

Jakarta, Mei 2011

TESTAMEN SI TUMANG

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s