Lovers2

 

 

 

 

 

 

 

Mara, kekasih jiwaku, kau datang ketika hari hujan panas. Menghampiri hidupku dan merobek kepompong senyapku. Mara, engkau mengusik tidur panjangku. Alam mimpi nirwanaku lantas sirna bagai halimun ditelan pagi

Mimpi-mimpi wangi yang selalu kuhirup, mimpi-mimpi manis yang selalu kukecup, menguap saat itu juga di tengah rinai gerimis yang disinari mentari. Dan seharusnyalah aku terjaga, namun tenyata aku limbung lagi nanar. Rupanya kau, Mara. Kau nirwana yang lain lagi

Kemudaanmu menawarkan segala : anggur, madu, mawar dan candu. Menggapai tubir-tubir kerinduan yang tersia-sia. Tapi sementara aku berkata : “Takkan kubiarkan ular menyelinap di antara kita..”, engkau menyesahku dengan kemilau sorot matamu hingga jatuh aku berlutut dan dengan ngilu lalu mengerang : “Mengapakah kau datang padaku?”

Aku pun semakin ngilu tatkala kau menjawab dalam bisikan lirih menikam kalbu : “Safinne, aku rusa kembara yang merindukan air. Delapanpuluh empat purnama sudah aku berkelana, sebab tiada aku berbapa dan beribu, lagi dari kaumku pun aku terbuang. Gurun, lembah, bukit dan gunung kulintasi. Segenap daratan kulalui. Mara, begitu aku disebut sebab pahit kisah hidupku. Aku terhilang, lelah dan haus. Bagiku kau telaga di senja berpelangi. Aku ingin minum, dan biarlah kiranya aku berakhir di sini…”

Dalam ngilu yang kian dalam mengerat hati aku menjawab : “Baiklah, Mara. Kau singgahlah. Semalam ini saja waktu bagimu. Ketika bintang fajar telah naik di langitku, kau haruslah berlalu. Sebab kita berbeda kisaran : telah dua kali tujuh masa aku di depanmu. Kau takkan bisa mengejarku dan aku tak kuasa mengembalikan waktuku….”

Ah, Mara. Betapa inginnya aku mengelus wajahmu sementara kau menyiksaku dengan tatapan memuja. Katamu : “ Safinne, bukankah Tuhan menjanjikan Daud bagimu? Daud si anak Isai ketujuh, Daud pada masa mula ia menjadi kesayangan Tuhan. Pandanglah aku, Safinne, bukankah aku ini dia? Tatap mataku, Safinne. Tataplah mataku. Kau membelenggu jiwamu pada kesunyian. Kini aku telah menemukanmu…”

Tak kuasa lagi aku menahan hatiku, hingga berjatuhan airmata dari pelupuk mata sebab ia memegang kunci rahasiaku.
“Mara, aku telah lama menunggu-nunggumu…”
“Safinne, aku mengembara mencarimu…”
“Sungguh kita orang-orang kesepian,” bisikku
“Tapi kesepian kita tumbuh dalam pengharapan dan cinta itulah buahnya,” ujarmu

Langit senja indah bukan kepalang oleh cahaya surya yang beranjak terbenam.
“Mara, mari kita hentikan waktu…”
“Ya, Safinne, biar cinta kita abadi..”

Octaviana Dina
Jakarta, 19 April 2001

KIDUNG CINTA DARI TANAH HUR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s