Mengunjungi Les Chateaux Trianon

CT

“Anda pernah ke Perancis?”, begitu pada suatu hari seorang berkebangsaan Perancis bertanya. “Belum”, jawab saya. “Belum? Berarti suatu hari nanti Anda akan pergi ke sana?’ tanyanya lagi. Tanpa ragu dan dengan yakin saya menjawab, “Ya”. Tentu saja ketika itu saya hanya asal jawab, sebab saya tak pernah berencana untuk pergi ke sana, apalagi menabung untuk itu. Namun jalan Tuhan memang misterius. Beberapa tahun kemudian, pada suatu hari di bulan Agustus saya mendapati diri saya berada dalam rombongan turis mancanegara yang tengah mengunjungi Les Châteaux Trianon (baca: le shyato trianong), puri peristirahatan raja-raja Perancis.

Les Châteaux Trianon atau Puri Trianon terletak dalam kompleks Istana Versailles di daerah Seine-et-Oise, sekitar 12 mil barat daya Kota Paris. Istana Versailles adalah istana termegah di Perancis dan juga terindah di Eropa, bahkan terhitung sebagai salah satu monumen mahakarya seni dunia. Adalah Raja Louis XIV (1638-1715), salah satu raja Perancis paling berpengaruh serta tersohor dengan kebesarannya dan dengan semboyannya L’Etat c’est Moi (Negara adalah Saya), yang mengubah pondok untuk berburu (hunting logde) milik Raja Louis XIII menjadi istana besar yang luarbiasa indah dengan beragam taman dan kebun yang teramat cantik berhiaskan puluhan kolam air mancur dan ratusan patung di area seluas 815 hektar. Di istana inilah kemudian monarki Perancis berpusat hingga datangnya Revolusi Perancis 1789.

CT1

Puri Trianon terletak terpisah jauh di belakang istana Versailles, dan terdiri atas dua bangunan berbeda yang dikelilingi taman dan kebun yakni Grand Trianon (grand = besar) dan Petit Trianon (petit=kecil). Grand Trianon dibangun pada tahun 1687 oleh arsitek Jules Hardouin-Mansart (1646-1708) atas perintah Raja Louis XIV untuk tempat tinggal Marquise de Maintenon, isteri kedua sang raja. Ciri khas bangunan berlantai tunggal ini adalah serambi luarnya yang memanjang dengan deretan tiang-tiang besar. Baik lantai, dinding maupun tiang-tiang serambi terbuat dari marmer berwarna campuran merah muda dan putih. Taman-tamannya bergaya khas Perancis yang serba geometris dengan pohon-pohon yang dibentuk kerucut.

Dibandingkan dengan Istana Versailles yang teramat mewah, Grand Trianon terkesan jauh lebih ‘sederhana’. Namun demikian, puri ini dalah salah satu tempat favorit Raja Louis XIV dan keluarganya untuk melepaskan diri sejenak dari kehidupan istana yang formal dan sarat tatakrama yang ketat dan kaku. Dari tahun 1688 hingga akhir hayatnya sang raja bergantian menempati apartemen khusus di sayap kanan dan di sayap kiri bangunan. Setelah Louis XIV wafat, oleh raja Louis XV Grand Trianon diserahkan kepada permaisurinya, Ratu Marie Leszczinska, yang menempatinya bersama sang ayah, Raja Stanislas dari Polandia. Baru pada tahun 1750 Raja Louis XV tertarik untuk menghabiskan waktu di puri ini.

Setelah Revolusi 1789, Grand Trianon direnovasi dengan gaya Empire atas perintah Napoleon Bonaparte yang kala itu menjadi Kaisar Perancis, termasuk di antaranya mengganti furnitur yang raib semasa revolusi dengan yang baru. Selama beberapa waktu Napoleon menempati Grand Trianon bersama permaisurinya, Ratu Marie-Louise. Renovasi besar-besaran di Grand Trianon terjadi antara tahun 1962-1965 ketika pemerintah Perancis memutuskan untuk membuat apartemen khusus untuk Presiden dan untuk para kepala negara yang melakukan kunjungan kenegaraan ke Perancis.

Saat ini Grand Trianon menjadi salah satu obyek wisata terkenal yang ramai didatangi wisatawan. Ada sekitar 20 ruangan yang dapat dikunjungi meski terkadang pada waktu-waktu tertentu beberapa ruangan tidak dibuka untuk umum.

CT3

Saya berkesempatan melihat kamar tidur Raja Louis XIV yang interiornya didominasi warna putih dan merah tua dengan sentuhan ornamen keemasan. Setiap ruangan diberi nama berdasarkan fungsi atau interiornya. Ruang Cermin, misalnya, sebagian dindingnya dihiasi cermin-cermin besar yang tingginya mencapai langit-langit. Ada pula Ruang Malachite di mana furnitur-furniturnya berhiaskan malachite –sejenis perunggu berwarna hijau- yang dihadiahkan Tzar Rusia Alexander I kepada Napoleon.

Ruang Musik lain lagi. Bekas ruang duduk untuk para perwira dan pejabat semasa kekaisaran Napoleon yang lalu berubah fungsi sebagai ruang biliar Raja Louis-Philippe (1774-1850) itu dinamakan demikian karena mereka yang duduk berada di dalamnya dapat menikmati musik yang disajikan para musisi kerajaan di tribun khusus pada saat jamuan makan. Selain itu ada Galeri Cotelle. Ruangan berbentuk koridor panjang itu memang bagai galeri; penuh lukisan-lukisan pemandangan istana Versailles dan Puri Trianon karya Jean Cotelle bersama pelukis Etienne Allegrain dan Jean-Baptise Martin.

CT5

Pengunjung juga dapat melihat-lihat apartemen pribadi Kaisar Napoleon, namun harus didampingi pemandu. Aturan untuk mengambil foto amat ketat, pengunjung dilarang memotret ruangan-ruangan tertentu. Jika diperkenankan, kerap hanya diperbolehkan untuk kamera tanpa lampu blitz.

Dari Grand Trianon saya menuju Petit Trianon yang terletak agak jauh terpisah. Berbeda dengan Grand Trianon, puri yang satu ini merupakan bangunan berlantai dua. Petit Trianon didirikan sekitar tahun 1762 oleh arsitek Jacques Ange Gabriel atas perintah Raja Louis XV. Dari segi komposisi dan proporsinya, Petit Trianon dianggap sebagai salah satu mahakarya seni arsitektur Post Renaissance. Bagian eksteriornya bercirikan serambi bertiang empat gaya Corrinthian, sedangkan interiornya bergaya rococo. Gaya rococo adalah seni dekorasi yang bercirikan motif asimetris seperti bentuk lengkungan dan bentuk-bentuk dari alam seperti bunga, anggur, daun, kerang dan sebagainya. Gaya ini berkembang di Perancis pada era Louis XV dan menyebar ke seluruh Eropa sehingga disebut juga Gaya Louis XV.

CT4

CT2

Petit Trianon dibangun untuk Madame Pompadour, salah satu selir Raja Louis XV yang terkenal amat cantik, cerdas, berwawasan luas dan menguasai bidang kesenian serta memiliki pengaruh besar dalam kehidupan istana. Lalu Countess du Barry, selir terakhir Raja Louis XV, menempatinya sebelum akhirnya menjadi kediaman favorit Ratu Marie-Antoinette, permaisuri Raja Louis XVI (1754-1793), yang terkenal itu. Ratu berkebangsaan Austria ini membangun hameau –semacam pedesaan mini lengkap dengan pondokan, bangunan tempat penyimpanan susu, tempat penggilingan gandum, water-mill, bahkan kandang merpati. Konon di tempat ini Marie-Antoinette sering mementaskan sandiwara kehidupan pedesaan dengan dirinya sendiri berperan sebagai wanita penggembala domba. Ini mungkin terkait dengan pribadinya yang periang dan agak kekanak-kanakan (yang kerap dicibir kalangan aristokrat Istana Versailles yang penuh tata krama itu).

Jardin

Marie-Antoinette amat menyukai kebun gaya Inggris. Ia mengubah taman di sekitar puri menjadi kebun luas dengan pepohonan besar berikut danaunya. Berbeda dengan taman ala Perancis yang terkesan artifisial, kebun gaya Inggris amat natural; mirip hutan kecil yang rapi dan terawat. Tatkala menyaksikan kehijauan dan keasriannya, ingin rasanya saya berlama-lama di kebun itu. Terbayang betapa enaknya piknik atau sekedar membaca buku di bawah kerindangan pepohonan di situ. Apakah Marie-Antoinette dahulu melakukannya? Tiba-tiba saya menjadi miris mengingat hidupnya yang berakhir tragis.

Marie de Antoinette

Pada Oktober 1793 Marie-Antoinette diseret ke pengadilan revolusioner dan dinyatakan bersalah karena menguras uang negara serta bersekutu dengan musuh-musuh Perancis. Bertolak belakang dengan sifat kekanak-kanakannya, dalam sidang pengadilannya sang ratu justru menunjukkan keteguhan hati, bahkan dengan ketenangan luarbiasa menerima putusan hukuman mati. Pada hari itu juga Marie-Antoinette, 38 tahun, dipenggal dengan pisau guillotine. Ia menyusul sang suami, Raja Louis XVI, yang dihukum mati dengan cara sama sembilan bulan sebelumnya.

Menyaksikan ruangan-ruangan Les Châteux Trianon dengan dekorasi sedemikian indah: lampu-lampu kristal gemerlap, beragam furnitur dengan bentuk serta corak menawan, dan beraneka lukisan memesona, saya menjadi kagum. Ruangan-ruangan itu beserta segala isinya tetap terpelihara dengan sangat baik dan tetap memancarkan kebesaran jaman di mana para raja dan kaum bangsawan Perancis tersebut hidup. Warna-warna interiornya tetap cemerlang dan bagian-bagian yang bersepuh emas tetap berkilauan, seolah tak tersentuh waktu.

Dalam hati saya bertanya-tanya, seperti apa rasanya kehidupan gemerlap yang dulu pernah ada di puri ini? Bahagiakah mereka ditakdirkan hidup sebagai raja dan kaum aristokrat yang pernah berkuasa di negeri itu? Di hadapan jejak-jejak lampau kehidupan gemerlap para raja dan kaum bangsawan Perancis di kedua puri Trianon tersebut, bagaimanapun, saya merasa amat bersyukur dengan kehidupan bersahaja yang saya miliki. Merci beaucoup, Dieu. Terimakasih banyak, Tuhan.

Penulis : Octaviana Dina (ditulis kembali tgl 30 Januari 2009)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s