Cerita Sepotong Siang Yang Hujan

hujan

I

 Sepotong siang diguyur hujan, lebat sesaat lalu menjelma gerimis liris yang lirih menjatuhi jalan sunyi. Aku melangkah pelan, menjauhkan kaki dari gerombolan air yang berkerumun dalam genangan besar-kecil yang bening lagi hening pada sekujur jalan berkulit aspal legam

 Lewat pos satpam aku menoleh, siempunya terkantuk-kantuk dibius rengekan lagu cinta yang meruap dari tivi empatbelas inci. Semarak bunga pukul empat berbaju merah jambu yang merimbun tak jauh dari situ memesona mata. “Aih, cantiknya,” bisikku dengan sekelumit senyum terbit di bibir

 Terus aku berjalan di bawah payung jingga yang sesekali bergoyang geli digelitik jemari angin. Menuju aku pada pertigaan lengang, cabangnya yang tiga menanti untuk kupilih : kelokan kanan, kelokan kiri, atau lurus. Aku suka jalan lurus, meski jauh dan menanjak. Karenanya kupilih jalan yang lurus

 Seorang perempuan berpayung hijau bergegas di depan sana di tengah gerimis yang tak juga sudah. Di muka sebuah rumah, cepat tangannya berkelebat. Jinjingan berbalut plastik putih susu terlontar liar, melayang jatuh ke lubuk bak sampah

Pangkal-pangkal alisku segera bertaut, mengiring kening yang berkerut diliput tanda tanya sementara si payung hijau berlekas-lekas menjauh. Apa yang barusan dilakukannya? Mengapa membuang bala di tempat orang? Tak punyakah ia? Tak mampukah ia? cetus sebuah suara dalam hati

Sudahlah! Jangan usil dan jangan berpikir yang tidak-tidak! sergah suara lain yang juga di dalam hatiku. Lewat rumah terakhir di ujung jalan lurus aku melirik, sebuah bak sampah menganga. Cepat-cepat kulempar semua syak wasangka kedalamnya…


hujan2

II

 

Aku bersua hujan lagi pada suatu siang yang lain. Hujan gemerisik yang sibuk menampari payung jinggaku. Lekas bergegas aku menerobos garis teralis hujan yang kian rapat mengurung. “Aku tak suka hujan…,” sekelumit suara kecil menggema dalam tempurung kepala

Dan, seperti paham akan keluh suara kecil itu, langit mencerabut gemerisik hujan dan menyisakan liris gerimis yang lirih menjejak pada payung jinggaku.

Langit berkedip pucat kebiruan dan tiba-tiba hatiku merindu pada pelangi :

Suatu ketika seorang lelaki bersayap turun dari pelangi. Dalam kerlip kerling matanya yang kecubung aku terkurung. Tersungkur di lekuk senyum berlumur anggur. Aku pun tersesat hingga jauh ke sarang mimpi

Sekuntum bunga sepatu merah dadu termenung sendirian di tepian jalan. Pada kelopaknya kutitipkn rinduku pada pelangi…

 

 Octaviana Dina

Jakarta, 13 April 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s