PROF. SOETANDYO WIGNYOSOEBROTO: Kesetiaan Dedikasi Sang Cendikiawan (2)

Gambar

Memandang Indonesia… 

Mengenai carut-marut hukum di republik ini, Prof. Soetandyo menganalogikan jika negara tak mampu memberantas narkoba, maka dirinya tetap berusaha agar anak cucunya tidak terjamah narkoba. “Jika dunia ini koruptif, saya berusaha agar kelas saya tidak koruptif. Jika ada kebijakan menteri yang salah, saya berusaha agar kebijakan yang salah itu tak berlaku dalam kelas  saya. Saya memang tidak punya kekuasaan untuk mengubah kebijakan, tapi saya berwenang mengatur kelas yang saya pimpin,” katanya mengumpamakan.

“Sebagai orang yang sudah lanjut umur, saya memandang suram masa depan negeri ini. Namun saya harus menyemangati anak-anak muda. Indonesia masih dalam proses. Proses yang mungkin masih memakan waktu lama. Dalam situasi mapan, pemimpin-pemimpin dari golongan tua ini tidak mau turun. Padahal jika kita menengok sejarah, dahulu pada masa kemerdekaan pemimpin-pemimpin kita rata-rata berusia kurang dari 40 tahun. Soekarno saat menjadi Presiden RI berusia tak lebih dari 40 tahun sementara Panglima Soedirman 36 tahun,” ungkapnya.

 “Habitat saya memang di bidang pendidikan dan penyuluhan. Perubahan-perubahan takkan berhasil jika kita tak merubah cara berpikir. Perjuangan saya berada`di tataran pola pikir (mind). Saya tak pernah menolak jika diminta memberikan training,” jelas Prof. Soetandyo.    Menurutnya banyak anak muda baik di dalam maupun di luar kampus yang masih memiliki kepedulian akan nasib negeri ini. “Saya tak bisa mengorganisir mereka untuk bergerak. Saya ini ibarat ahli totok darah saja. Cukup memijat titik tertentu. Sebagai pemicu saja. Merekalah (anak-anak muda ini) yang akan bergerak sendiri,” katanya lagi.

 

Bersahaja dan Senantiasa Aktif

 Prof. Soetandyo terkenal akan kebersahajaan hidupnya. Tak memiliki rumah pribadi, ia tinggal di rumah dinas Universitas Airlangga yang telah didiaminya sejak tahun 1958. Ia biasa naik sepeda jika hendak mengajar. Saat menjadi anggota Komnas HAM, gajinya dari tahun 1993-2002 adalah Rp. 800.000 ditambah Rp. 1 juta per bulan untuk uang transpor. Untuk menghemat uang transpor antarkota, Prof. Soetandyo naik bus dari bandara dan dilanjutkan berjalan kaki menuju kantor Komnas HAM.

“Sebagai seorang pribadi, beliau sangat-sangat sederhana. Beliau pernah datang ke acara pelatihan Komnas HAM di Puncak, Jawa Barat, dengan menumpang truk, karena tak ada kendaraan. Gaya hidup begitu dilalui oleh Pak Tandyo dengan tidak berkeluh kesah. Beliau ceria saja ke sana kemari jalan kaki, naik sepeda atau pun naik truk,” cerita Roichatul Aswidah.

 Sampai saat ini Pak Tandyo tetap mempertahankan kebiasaannya  menggenjot sepeda, baik ke kampus, ke bank, atau belanja ke mal. “Saya nggak punya mobil lagi, sudah diambil anak-anak. Saya suka bersepeda, saya kan sudah hidup sendiri, istri sudah pamit duluan (meninggal), anak-anak sudah mandiri semua, jadi apa pun saya kerjakan sendirian,” kata ayah tiga anak dan lima cucu ini.

Meski kini usianya sudah mencapai 79 tahun pada 19 November lalu, Prof Soetandyo tetap aktif dalam menjalani hidup. Fisiknya terlihat bugar, semangatnya tetap menyala-nyala, dan yang terpenting gagasannya tentang demokrasi, keadilan, hukum, terus mengalir deras. “Kegiatan saya tidak ada, kecuali menyibukkan diri sendiri,” katanya dalam suatu wawancara dengan Kompas beberapa waktu silam. Hari-hari Pak Tandyo senantiasa dipenuhi oleh berbagai kegiatan mulai dari menulis artikel, memberikan konsultasi pada mahasiswa -termasuk menguji mahasiswa di Malaysia, berceramah di berbagai tempat dan kota, berdiskusi dengan banyak kalangan, dan lain sebagainya. Sebagai guru besar emeritus, dirinya juga masih aktif mengajar di sejumlah universitas. Seakan masih kurang, Pak Tandyo juga aktif terlibat di HUMA, sebuah lembaga nonpemerintah yang bergerak di bidang hukum berbasis ekologi. “Hukum masyarakat selalu terkait dengan ekologi sebab ekologi adalah bagian dari hidup masyarakat,” ujar pak Tandyo. Beliau lantas mencontohkan jika masyarakat Dayak tak lagi memiliki hutan, atau jika masyarakat Ambon tak lagi mempunyai laut. “ Jika kedua hal demikian terjadi maka hilanglah eksistensi mereka sebagai masyarakat adat,” jelasnya.

Bagi Pak Tandyo, pensiun sejak 10 tahun silam tak lantas membuatnya “berhenti berpikir”. Bulan Desember 2007 lalu, di usianya ke-75 saat itu, Profesor yang telah menelurkan sejumlah buku ini masih meluncurkan karya, sebuah buku berjudul  Hukum dalam Masyarakat. Apa resep awet mudanya? Menurutnya, resep utama yang membuatnya tetap “awet muda” adalah kemauan untuk beradaptasi dengan kenyataan. “Kalau tidak, saya menjadi konservatif, menjadi orang tua yang tidak bisa menerima keadaan. Hidup ini harus selalu menyesuaikan. Ini kan termasuk dalam teori perubahan dan perkembangan. Hewan bisa survive kalau beradaptasi dengan lingkungan, begitu juga manusia, tidak hanya fisik, tapi juga kultural,” demikian ujar peraih penghargaan Cendikiawan Berdedikasi yang diberikan oleh Kompas tahun 2008.

Kemauan beradaptasi dengan perubahan jaman ini ditunjukkan Prof Soetandyo melalui kefasihannya dalam menggunakan teknologi internet. Seperti yang diakui Margaretha Saulinas, yang pernah bekerja sama dengan  beliau dalam sesi-sesi Pelatihan Dasar HAM bagi staf Komnas HAM. “Bapak (Pak Tandyo) itu hi-tech, mahir dalam soal internet seperti e-mail, Facebook, dan sebagainya, padahal Bapak kan sudah sepuh,” ujarnya kagum. “Karena Bapak penggemar Celine Dion, suatu ketika saya iseng men-posting sebuah lagu Celine Dion dari situs YouTube ke akun Facebook beliau. Bapak menjawab posting-an saya dengan meminta versi bahasa Perancis lagu tersebut,” tambah Margaretha.

 

Tentang Anugerah Yap Thiam Hien Award 2011

Saat menerima penghargaan Yap Thiam Hien Award   tanggal 14 Desember 2011 dalam acara Malam Penganugerahan Yap Thiam Hien Award 2011 yang mengambil tempat di gedung Komisi Yudisial, Jakarta, Prof Soetandyo mengatakan bahwa penghargaan yang diberikan kepadanya itu merupakan penghormatan kepada seluruh masyarakat Indonesia. Menurutnya, penghargaan tersebut adalah beban berat yang harus dipikulnya untuk tetap meneruskan perjuangannya bagi masyarakat Indonesia. “Perjuangan itulah suatu masa depan jutaan manusia yang mereka itu tak mesti cuma eksis dalam lingkup kehidupan nasional, dengan hak-hak yang dijamin sebagai hak konstitusional, melainkan juga suatu masa depan manusia dengan jaminan hak-hak yang pasti akan lebih bersifat universal,” katanya.

Prof. Soetandyo merasa sangat bersyukur karena telah digolongkan ke dalam golongan pejuang hak asasi manusia (human rights defender) dan/atau sebagai guru hak asasi manusia (human rights educator). “Saya memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT atas karuniaNya yang mengizinkan saya dalam ujung-ujung akhir kisah hidup saya masih diberikan olehNya suatu kenikmatan, boleh berjumpa dengan kaum muda yang bersedia menggolongkan saya ke dalam golongan mereka yakni golongan yang tak kunjung henti mengupayakan  termajukannya dan terlindunginyahak-hak asasi manusia, khususnya hak-hak asasi mereka warga sebangsa dan setanah air yang belum juga beruntung,” ucapnya dalam kata sambutan beliau pada acara penganugerahan penghargaan Yap Thiam Hien tahun 2011 itu.

Sebelumnya, pada tanggal 24 November 2011, ketika pihak Yap Thiam Hien mengkonfirmasikan secara tertulis (selain via telepon) melalui e-mail tentang dipilihnya beliau sebagai penerima anugerah Yap Thiam Hien 2011, Prof. Soetandyo mengaku sangat terkejut. “Berita yang saya terima per tilpon siang tadi merupakan berita yang di luar dugaan saya. Sesuatu yang surprising.  Betapa tidak, sepanjang dasawarsa sejak saya lepas dari kegiatan Komnas HAM (th. 2002) saya merasa apa yang saya kerjakan yang tak lagi beroleh back up struktural — alih-alih individual saja — seperti tak mendatangkan dampak signifikan dalam perjuangan penegakan HAM.  Bersyukur dan berterimakasih.” Demikian ungkapan beliau dalam email balasan.

 

Kata Mereka :

“Bapak Tandyo selalu bersikap hangat sekalipun kepada kami yang jauh lebih muda. Jika saya bertanya atau berkomentar di akun Facebook beliau, beliau tak lupa untuk membalas. Perlakuan beliau sangat friendly, seakan beliau mengenal saya dengan baik, padahal beliau itu punya banyak sekali kenalan. Itu membuat saya merasa amat dihargai.” (Margaretha Saulinas, mantan staf Komnas HAM, Pustakawati di Demos)

“Saya mengenal Pak Tandyo sejak pertama saya masuk menjadi staf Komnas HAM yaitu pada 1995. Saya relatif dekat dengan beliau karena saya bekerja dalam satu Biro/Sub Komisi. Periode 1999 – 2002 saya menjadi Kepala Biro Pendidikan dan Penyuluhan dimana beliau menjadi anggota Sub Komisi Pendidikan dan Penyuluhan. Beliau adalah sosok yang sangat menghormati staf dan sangat menghargai anak muda. Saya pernah mengurus visa beliau di Kedubes China karena beliau mau pergi ke sana. Saya mengantri visa, tetapi oleh Pak Tandyo saya disuruh duduk. Lalu beliau yang antri sendiri. Saya bersyukur mengenal dan pernah menjadi staf beliau.” (Roichatul Aswidah, mantan  anggota Komnas HAM, Deputi Riset Lembaga Kajian Demokrasi & Hak Asasi DEMOS).

Prof. Soetandyo Wignyosoebroto sehari-harinya aktif sebagai dosen dibeberapa Universitas di Indonesia. Diantaranya Jakarta, Sumatera, Kalimantan dan Jawa Tengah serta Jawa timur juga kerap kali menjadi pembicara pada acara-acara seminar maupun pelatihan-pelatihan/training, seperti yang biasa diselenggarakan oleh Huma. Karena Pengalaman mengajar beliau di beberapa universitas sampai saat ini, sudah banyak mahasiswa-mahasiswanya  jebolannya yang mampu menjadi Profesi-Profesi baik dalam instansi pemerintah maupun profesi yang lain. Beliau pribadi yang rendah hati serta tidak suka menerima pujian, sehingga tidak mudah mendapat informasi yang terekspos media, seperti yang tercetak dalam buku berjudul Sosok Guru yaitu kumpulan rekaman Soetandyo di mata para sahabat dan rekan intelektual.” (HUMA)


***

Penulis : Dina Octaviana Pattiwaellapia, November 2011. Tulisan ini dimuat dalam buku 20 Tahun Wajah HAM Indonesia 1992-2011 yang diterbitkan Yayasan Yap Thiam Hien bekerja sama dengan Kedutaan Besar Swiss (2012).

(Ditulis berdasarkan berbagai sumber dari media cetak dan internet, wawancara dengan Prof. Soetandyo Wignyosoebroto, serta wawancara dengan narasumber pendukung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s