PASTOR YOHANES JONGA, Pr : Menyuarakan Mereka Yang Tak Bersuara (1)

Pater John

Tanggal 10 Desember 2009 Pastor Yohanes Jonga, Pr menerima penghargaan Yap Thiam Hien Award karena kegigihannya memperjuangkan hak asasi manusia di tanah Papua. Berikut ini adalah sepenggal kisah perjalanan hidup, pengabdian dan perjuangannya.

 

Panggilan dari Tanah Papua

 Pastor Yohanes Jonga lahir pada 4 November 1958 dan berasal dari Pulau Flores. Saat ini pria yang biasa dipanggil Pater (Pastor) John tersebut menjabat sebagai Pemimpin Gereja Katolik di Kabupaten Keerom, Merauke, suatu wilayah yang merupakan perbatasan antara Papua Indonesia dengan Papua Nugini. Kabupaten Keerom adalah salah satu kabupaten hasil pemekaran kabupaten Jayapura pada tahun 2004. Keerom memiliki 7 distrik yaitu Arso, Arso Timur, Skanto, Web, Towe, Senggi dan Waris. Menurut hasil studi Tim SKP Dekenat Keerom tentang Perkebunan Sawit dan Kesejahteraan Masyarakat Arso pada bulan Juli 2008 jumlah penduduk Keerom tercatat sebanyak 42.883 jiwa dengan komposisi 41,8 % dari etnis Papua dan 58,2% dari etnis non Papua. 

 Pater John datang ke Papua pada tahun 1986 saat ditugaskan di Paroki St Stefanus di Lemah Baliem, Wamena. Ia melayani 2 komunitas umat Katolik di Kimbim dan Bogi yang berdampingan dengan komunitas Kingmi (aliran kepercayaan masyarakat) dan komunitas GIDI (Gereja Injili di Indonesia). Setelah Wamena, Pater John melanjutkan tugas keparokiannya di Kokonao, Kabupaten Mimika, Timika (1994-1999), di Distrik Waris, Kabupaten Keerom (2001-2007) dan akhirnya di Distrik Arso, Kabupaten Keerom  (Januari 2008 -sekarang). Antara tahun 1990-1993 Pater John menempuh pendidikan S1 di STFT Fajar Timur di Jayapura yang dilanjutkan dengan pendidikan pasca sarjana internal untuk calon biarawan selama 2 tahun. Selama kuliah, ia menjadi asisten Pastor Ernesto, CICM.

 Pater John mengatakan bahwa dirinya sudah mulai tertarik dengan Papua semenjak kakaknya tinggal di Keppi, suatu daerah di pedalaman Merauke, sebagai guru SD. Selain itu, ia juga pernah tinggal dengan beberapa anak Papua saat kuliah di FKIP Ruteng, Flores. Pater John memilih bertugas di pedalaman Papua sebagai guru agama –ia pernah menjadi guru agama Katolik di SMP Negeri I Asologema, Kimbim Jayawijaya- dengan alasan di sana lebih banyak tantangan dan kesulitan ketimbang di perkotaan yang banyak dihuni orang pintar dan orang mampu. Baginya, tugas sebagai pastor merupakan panggilan tugas kenabian untuk terlibat aspek-aspek sosial umat, seperti bagaimana sulitnya mendapat makan, kesehatan, pendidikan yang layak, dan sebagainya.

Selain tugas pastoral [gereja] melayani jemaat, Pater John juga terlibat dalam berbagai aktivitas kemanusiaan. Ini dilakukannya semenjak ia bertugas di Wamena. Keterlibatannya yang intensif dengan kerja kemanusiaan membuat Pater John cukup lama menjadi menjadi Frater Prodiakon [calon Imam]. Menurut Uskup saat itu, belum matangnya Yohanes Jonga sebagai Imam lebih disebabkan ia lebih banyak bekerja untuk kemanusiaan dengan masyarakat ketimbang tugas pastoralnya.  Baru  tahun akhirnya 2001 ia ditahbiskan di Jayapura sebagai Imam Projo, dan kemudian ditugaskan menjadi Pastor di Distrik Waris dan kini di Distrik Arso, Kabupaten Keerom. 


Bukan Pastor Biasa

 Yohanes Jonga dikenal sebagai pastor yang rendah hati, ramah dan murah senyum. Ia tidak segan-segan turun ke kampung di daerah hutan yang sepi untuk tugas-tugas di luar tugas pelayanan dan bantuan pastoral, seperti Waris misalnya. Waris adalah kota perbatasan antara Papua Barat, Indonesia dan Papua Nugini. Semula Waris tak ubahnya bagai kota mati dan dicap sebagai ‘daerah merah’ akibat banyaknya kasus kekerasan. Masyarakat setempat tak berani bicara karena takut dianggap bagian dari OPM (Organisasi Papua Merdeka). Pater John melakukan berbagai kegiatan pendampingan dan pemberdayaan masyarakat melalui kerjasama dengan sejumlah organisasi terutama LSM, misalnya dengan mengadakan berbagai pelatihan untuk perempuan dengan tujuan untuk memperkuat posisi kaum perempuan.

 Selain itu, Pater John terlibat langsung menangani berbagai kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia yang dialami masyarakat.  Ia bekerjasama dengan berbagai LSM di Papua seperti ALDP (Aliansi Demokrasi untuk Papua), LBH (Lembaga Bantuan Hukum), Kontras (Komite untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan), ELSAM (Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat), maupun organisasi di luar Papua seperti Yayasan Pikul, Yayasan Jurnal Perempuan, dan sebagainya, hingga bekerjasama dengan LSM asing untuk masalah HAM, kesehatan, ekonomi, dan lainnya. 

 Ketertarikan Pater John dengan kerja-kerja Hak Asasi Manusia bermula dengan keterlibatannya dalam kegiatan-kegiatan lembaga semacam LBH, Kontras, dan lainnya semasa dirinya masih kuliah.  Hal tersebut membentuk karakter dan semangatnya untuk tidak semata mengurusi masalah pastoral dan melayani aspek rohani saja, melainkan juga masalah sosial. Menurutnya tugas pastoral tidak memerlukan pendidikan tinggi. Cukup dengan kursus saja, orang bisa melakukan kerja-kerja pastoral.  Pater John beranggapan, karena ia sudah sekolah bertahun-tahun maka tidak ada salahnya jika ia memperhatikan masalah-masalah lain di luar bidang pastoral. Dengan begitu dirinya tidak perlu merasa bersalah karena berpendidikan tinggi.

 “Pater John bersih dari kepentingan politik apapun dan tidak diragukan ideologinya”, kata Dr. Muridan S. Widjojo, Koordinator Peneliti Konflik Papua pada lembaga LIPI Jakarta, yang sudah mulai mengenal sekitar tahun 1995 saat Pater John masih menjadi Frater (calon pastor) di Dekenat Mimika, Paroki Tiga Raja, Timika, Papua dan tengah mendampingi mama-mama (ibu-ibu) untuk kasus di Timika. Hal senada juga disampaikan Katharina Lita, kontributor KBR 68H di Abepura, Papua dan Amirrudin Al Rahab, staf senior ELSAM.  Pastor Yohanes Jonga memiliki relasi sangat dekat dengan mama-mama dan anak-anak di Papua. Ia dikenal sebagai pribadi yang tidak pernah memikirkan diri sendiri. Hidupnya senantiasa ditujukan bagi kepentingan orang lain. Ini terlihat banyaknya hal yang menjadi permasalahan umat dan teman-temannya yang ia tangani. Sebisa mungkin ia datang langsung melihat permasalahan dan berdiskusi. Ia menerima siapa saja baik itu umat parokinya maupun masyarakat umum.  “Ia hapal sekali setiap nama para mama itu berikut permasalahan-permasalahan mereka”, kata Muridan. “Hanya karena komitmen dan keterpanggilan saja, seorang Pastor seperti dirinya mau ditugaskan di pedalaman Papua yang memiliki resiko besar”,  ungkap Amiruddin Al Rahab. “Berdoa dimana saja, kapan saja dan hanya ingin hidup damai”, lanjut Muridan S. Widjojo lagi. Begitulah kesan keduanya tentang Pater John yang hingga kini tetap mencintai panggilannya untuk menjadi biarawan.  Dalam menangani kasus-kasus yang di luar kapasitasnya, Pater John tidak sungkan-sungkan untuk bertanya atau meminta nasehat kepada orang lain ataupun  melibatkan orang lain.

 Keinginan Pater John hanyalah untuk menolong semata, seperti ketika dia merintis usaha warung yang menjual aneka kebutuhan hidup masyarakat dengan harga yang lebih murah. Warung tersebut dikelola oleh para mama janda. Ia juga pernah membuat usaha wartel telpon satelit (sekarang sudah tidak aktif) untuk pelayanan kepada masyarakat di Waris yang berjarak 5jam perjalanan dari kota Jayapura.

 Pater John lebih suka bertindak ketimbang harus selalu mencatat dan menceritakan masalah-masalah dan segala aktivitasnya. Ia juga kritis terhadap pihak Keuskupan setempat. Kini kegiatan-kegiatannya mendapat ruang yang cukup berkat pemahaman Uskup dan struktur gereja bahwa aktivitas yang dijalaninya merupakan gerakan kemanusiaan bagi masyarakat.  

 Selain dekat dengan masyarakat, Pater John berhubungan baik dengan berbagai elemen baik Pemerintah, LSM, bahkan OPM tanpa memandang agama dan suku, dan etnis. Tidak pernah menggurui tentang apa itu kemanusiaan, atau cinta kasih. Penampilannya jauh dari kesan seorang Pastor, bahkan lebih mirip aktivis yang vokal ditambah lagi kesenangannya mengalungkan tas dan kamera di leher. Hangat, selalu ramah, serta respek terhadap orang, demikian kesan siapa saja yang mengenalnya.  

Menurut Katharina Lita, seorang jurnalis kontributor KBR 68H di Abepura, Papua, Pater John adalah sosok yang low profile. Personalitasnya baik, dan semua yang dilakukan untuk masyarakat murni dari hati tanpa embel-embel apapun. Ia takkan pernah bercerita tentang dirinya kecuali jika ditanya, apalagi bercerita tentang kesuksesannya. Ia mau bergaul dengan siapapun, seperti dengan kelompok penderita HIV hingga ibu-ibu pedagang sayur.  Tidak pernah pilih-pilih termasuk makanan, apapun disukainya. Makan di warung pun ia mau. Namun sekarang Pater John menderita Diabetes sehingga ia membatasi makanan tertentu. Pendeknya, Pater John mudah beradaptasi di manapun ia berada.  “Walaupun saya seorang Muslim, materi khotbah kita diskusikan dulu sebelum disampaikan pada Misa”, kenang Muridan.  “Ia  juga mau hadir di acara tahlilan”, ungkap Lita yang mengenalnya sejak tahun 1999 dalam sebuah demonstrasi. 

 Pater John banyak memberikan pendampingan dan semangat kepada anak-anak Papua maupun anak-anak kaum pendatang supaya optimis.  “Pater John pernah ikut berdemo bersama mahasiswa Keerom untuk kasus ketidakadilan dalam penerimaan Beasiswa Mahasiswa di mana hanya terdapat 2 atau 3 penerima saja yang merupakan anak asli Papua, sementara dalam data yang digelembungkan tercatat ada 20 siswa penerima beasiswa,” cerita Lita.  Semangat kemanusiaan yang besar juga tercermin dalam kasus yang diceritakan Amiruddin tentang seorang anak yang ditelantarkan ibunya di pedalaman Papua. Anak itu kemudian diambil dan diurus oleh Pater John.

 “Hal-hal yang dilakukannya melebihi tugasnya sebagai pastor”, kata Amiruddin yang mulai mengenal Pater John sejak tahun 1997.  “Pater melakukan tugas-tugas kemanusiaan hanya semata untuk perdamaian dan penguatan”, tutur Muridan.

 Keterlibatannya dalam berbagai kegiatan kemanusiaan di berbagai bidang membuat Pater John mendapat bermacam julukan baik dari masyarakat maupun aparat, misalnya “Pastor HAM” (karena banyak menangani kasus HAM), atau “Pastor Perempuan” (karena prioritas pendampingannya untuk pemberdayaan dan peningkatan martabat perempuan), atau bahkan “Pastor OPM” (karena dianggap dekat ataupun terlibat OPM). Muridan S. Widjojo,  yang bersahabat dengannya, menyebut Pater John sebagai “Pastor Idpoleksusbudhankam” karena begitu banyak hal yang ditanganinya. 

bersambung ke bagian 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s