PASTOR YOHANES JONGA, Pr : Menyuarakan Mereka Yang Tak Bersuara (2)

Pater John2

Menyuarakan Mereka Yang Tak Bersuara

 Sepanjang hidupnya hingga saat ini Pater John telah menorehkan jejak rekam yang panjang tentang pengabdiannya bagi kemanusiaan.  Ia merasa terpanggil untuk menyuarakan mereka yang tak (berani) bersuara, yakni umat dengan berbagai masalah dan kesulitan. Pater John menilai hal ini harus diperhatikan oleh gembala (pemimpin umat/penjaga keselamatan orang banyak) untuk membuat umat semakin menyadari serta mengetahui bahwa persoalan iman tidak lepas dari masalah sosial. 

 Pater John belajar banyak dari orang-orang di perbatasan yang mengidap trauma masa lalu secara turun-temurun, yakni ketakutan-ketakutan mereka yang tidak berani bersuara. Ia melihat bahwa masyarakat mengalami Trauma Budaya. Banyaknya pendatang serta transmigran mengakibatkan hutan yang selama ini berfungsi sebagai gudang makanan atau sebagai ‘Mama’ (Ibu) yang memberikan kesuburan dan makanan bagi masyarakat Papua terus menyusut dan terancam punah. Budaya asli setempat pun kian menghilang.

 Bagi Pater John, menyuarakan mereka yang tak bersuara tersebut dapat mengurangi sedikit penderitaan mereka. Ia ikut merasakan penderitaan itu, sementara di sisi lain, ia memberi semangat hidup kepada mereka. Empati seorang Pater John untuk menyuarakan mereka yang tak (berani) bersuara tersebut telah melahirkan banyak karya untuk kemanusiaan.

 Antara tahun 1986-1990 saat ia ditugaskan di Paroki St. Stefanus di Lembah Baliem, Wamena, Pater John mulai terlibat dalam kerja kemanusiaan dengan melakukan pendampingan kasus KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), dan pemberdayaan untuk perempuan mengenai martabat manusia.  Rasa kemanusiaannya bangkit tatkala menyaksikan perlakuan suami yang punya 2-3 perempuan sebagai istri sekaligus “budak” (karena perempuanlah yang harus bekerja mengolah kebun dan mengurus hewan ternak). Ia juga membentuk kelompok doa perempuan.

 Selanjutnya, antara tahun 1990-1993, Pater John ikut terlibat dalam penelitian yang dilakukan bersama Bambang Widjayanto (Direktur LBH Jayapura) tentang keterlibatan militer di daerah perbatasan dalam kasus pembalakan liarIa juga menjadi relawan untuk berbagai kelompok, antara lain KKW (Kelompok Kerja Wanita), LBH, ELSAM, serta ALDP. Pater John menulis untuk kolom Korban dari Kampung di Buletin YPMD (Yayasan Pengembangan Masyarakat Desa). Selain itu, ia membuat 10 seri artikel Arsoku Malang Arsoku Sayang yang dimuat Surat Kabar Mingguan TIFA Irian, milik Keuskupan Jayapura.

 Sejak tahun 1994 hingga berakhirnya masa tugasnya di Kokonao, Kabupaten Mimika, Timika, pada tahun 1999, aktivitasnya untuk kemanusiaan kian berlipat. Ia bergabung dengan Mama Yosepha Alomang dan Tom Beanal di lembaga LEMASA untuk gerakan mama-mama mengugat Freeport atas kasus pencemaran hutan dan sungai, yang bagi masyarakat Suku Amungmei (yang hidup dari hutan) dan suku Komoro (yang hidup dari sungai dan laut) merupakan ancaman kematian bagi mereka. Hingga kini proses kasus gugatan atas Freeport tersebut belum selesai.

 Pater John bersama masyarakat suku Amungmei dan Komoro lantas membentuk Lemasko (Lembaga Adat Masyarakat Suku Komoro). Ia juga terlibat dalam pembuatan film tentang orang Komoro dan Budaya Komoro bersama Dr. Karel Muller. Selain itu ia ikut membuat shooting tentang pencemaran kerusakan lingkungan, hilangnya tanah dan sagu dari suku di Timika, budaya tentang orang Kamoro, hutan dan sungai Amungmei  (masih berupa stock shoot, belum dibuat film). Pater John membentuk Forum Kerjasama Perempuan Amungmei-Komoro, yang beranggotakan lebih 800 orang  sebagai forum untuk para mama berkumpul untuk menyuarakan masalah mereka seperti persoalan anak-anak hingga kasus KDRT. Forum ini menyediakan berbagai pelatihan, seperti pelatihan reproduksi dan HAM. Pater John juga mendampingi Dr. Muridan S. Widjojo dari LIPI selama 1 bulan dalam penelitian tentang Budaya Suku Komoro di Mimika.

 Pada bulan Mei 2000, Pater John membentuk Forum Perempuan Asmat Akat Cepes (yang berarti Perempuan Membawa Sinar/Terang). Setelah ditahbiskan menjadi Imam Projo dan menjabat Pastor Paroki di Distrik Waris, Kabupaten Keerom, ia mendirikan Forum Kerjasama Fulwun Fermanggem (yang berarti Bintang Pagi). Selama tugasnya di Waris antara tahun 2000-2007, Pater John banyak menghadapi kasus rumit baik di lingkup tugas pastoral maupun kemanusiaan lainnya, seperti kasus ancaman dan intimidasi Kopassus terhadap masyarakat perbatasan. Ia mendampingi Deky Murib dalam kasus yang dikenal sebagai Mile 62 pada tahun 2001. Tahun 2002 ia mengkoordinir pembentukan Sekretariat Perempuan Dekenat Keerom di mana untuk aspek hukumnya ia dibantu oleh lembaga-lembaga LBH, ALDP dan LP3AP.

 Sementara antara tahun 2007-2008 Pater John membuat  penelitian bersama SKP (Sekretariat untuk Keadilan dan Perdamaian) Jayapura mengenai dampak kehadiran perkebunan kelapa sawit di Distrik Arso, Kabupaten Keerom. Masuknya perkebunan kelapa sawit PT Perkebunan Nusantara (PTPN) II Tanjung Morawa Medan sejak tahun 1982/1983 dan jalan trans Irian membawa perubahan baru dan sekaligus tantangan bagi masyarakat pribumi di Kabupaten Keerom. Tidak semua warga menerima perkebunan kelapa sawit karena kehidupan keseharian masyarakat Arso yang bergantung pada hutan (berburu, mencari ikan, sayur, sagu, kayu bakar, obat-obatan alami, dan lain-lain) menjadi terancam.  Terjadi perubahan pola ekonomi dan konsumsi. Yang semula makan sagu beralih makan nasi, atau tetap makan sagu tapi bukan lagi sebagai menu utama. Pater John membantu mengadvokasi masyarakat dalam kasus perkebunan kepala sawit tersebut.

 Keterlibatan Pater John menangani berbagai kasus yang terjadi di kalangan masyarakat Keerom didasari keinginannya agar masyarakat dihargai dan diberikan hak yang layak untuk hidup sejahtera serta tidak dicap sebagai OPM. Banyak warga setempat yang setiap mau berkebun selalu mendapat pemeriksaan dokumen dan pertanyaan seputar kepemilikan senjata dan keterlibatan dengan OPM. Akibat pekerjaan-pekerjaannya inilah Pater John bahkan pernah diancam akan dibunuh oleh tentara[1] (Pater John mendampingi masyarakat melaporkan intimidasi tentara kepada Gubernur saat berkunjung ke Distrik Arso).

 Sejak Januari 2008 Pastor Yohanes Jonga ditugaskan di Distrik Arso, Kabupaten Keerom. Ia menjadi Koordinator Tim Pastoral Dekenat Keerom. Pater John membantu advokasi kasus penembakan Isak Pesakot, anak berusia 13 tahun yang ditembak tentara di Keerom. Ketika itu Isak Pesakot baru saja pulang dari Papua Nugini dan lantas dikejar anjing-anjing milik tentara. Ia naik ke pohon tapi justru ditembak dari jarak jauh.[2] Anak itu selamat, namun salah satu paru-parunya tertembus peluru sehingga kondisinya kritis. Hingga kini pelakunya tak kunjung diadili.

Pater John juga menjadi  Ketua Delegasi Masyarakat Kabupaten Keerom, Provinsi Papua yang berangkat ke Jakarta menemui Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni (ketika itu) untuk menyampaikan penolakan hasil test CPNS Departemen Agama (Depag) sekaligus membahas penyelesaian problem pola penerimaan CPNS di Kanwil Agama Papua pada tahun 2008. Delegasi tersebut terdiri atas tokoh masyarakat, pemuka agama, pemangku adat serta pemuda. Sebelumnya Pater John bertemu Kakanwil Agama Papua untuk membahas masalah penolakan hasil test CPNS Depag yang oleh masyarakat Keerom dinilai tidak mengakomodir sumber daya manusia Keerom yang mampu dan siap bekerja.

Pertemuan dengan Kakanwil tersebut menghasilkan tiga kesepakatan. Pertama, Kantor Departemen Agama Kabupaten Keerom yang dipalang sejak 30 Desember 2008 dibuka agar aktivitas pelayanan kepada umat beragama dapat berjalan seperti biasa. Kedua, proses administrasi penerimaan CPNS yang sudah dinyatakan lulus test dihentikan untuk sementara hingga Tim khusus masyarakat Keerom menemui Menteri Agama.  Ketiga, dibentuk Tim khusus yang terdiri atas tokoh masyarakat Keerom, pemangku adat, pemuka agama dan pemuda untuk selanjutnya berangkat ke Jakarta menemui Menteri Agama guna membahas proses penerimaan CPNS Departemen Agama Kabupaten Keerom dengan memperhatikan kekhususan Papua sebagai daerah otonomi khusus.

Saat ini Pater John tengah merintis radio komunintas untuk masyarakat umum yang baru mencapai 80% tahap persiapan.

 

Benih Yang Menjadi Buah

Kerja panjang yang tak kenal lelah Pastor Yohanes Jonga dalam menabur karya kemanusiaan telah menghasilkan buahnya. Menurut pendapat sejumlah kalangan, masyarakat yang selama ini mendapat pendampingan dari  pria yang lebih sering disapa Pater John ini sudah lebih pintar dan dinamis. Berbagai kelompok yang mayoritas merupakan kelompok perempuan telah terbentuk. Sejumlah jaringan kerja pun terbuka baik bagi masyarakat, LSM, maupun Pemerintah. Bagi teman-teman LSM, Pater John dianggap sebagai ‘Pembuka Pintu’ bagi mereka yang terisolir secara politik dan ekonomi. “Orang yang takut jadi berani”, kata Muridan S. Widjojo

 Pater John menjalin relasi dengan banyak pihak. Pribadinya yang hangat dan akrab, bahkan kepada orang yang baru dikenalnya, serta sikap hidupnya yang tanpa henti menabur benih kebajikan di manapun ia berada, membuat sosoknya melekat dalam hati. Seperti yang dialami Amiruddin Al Rahab ketika bertugas di Papua. Saat itu dia sakit dan malamnya ia menelpon Pater John yang baru saja dikenalnya. “Keesokan paginya Pater John sudah datang membawa obat”, kenangnya.

 

***


[1] Pastor Djonga mendapat ancaman dan intimidasi dari tentara-tentrara Indonesia di perbatasan. “Pastor Paroki Di Papua Mengklaim Diancam oleh Anggota Kopassus,” 1 Oktober 2007. http://www.mirifica.net/artDetail.php?aid=4398

[2]Dalam perjanjian militer dengan penduduk Keerom, jika ada orang yang melintasi perbatasan, tentara-tentara  seharusnya bertanya dulu dan melihat kartu penduduk, atau bertanya kepada kepala dusun untuk konfirmasi. Pada kejadian penembakan Isak Pesakot, tentara langsung melepaskan anjing-anjingnya tanpa peduli dengan perjanjian itu. “Shot Papuan Child Still Alive, but in Critical Condition,” 24 Juni 2009, http://thejakartaglobe.com/national/shot-papuan-child-still-alive-but-in-critical-condition/314246

Ditulis kembali oleh Dina Octaviana P  berdasarkan berbagai sumber termasuk dari riset awal oleh  Fahri Salam dan wawancara oleh Regina JBF Astuti dengan: Dr. Muridan S. Widjojo, Koordinator Peneliti Konflik Papua-LIPI (Jakarta), Amiruddin Al Rahab – Staf Senior ELSAM (Jakarta), Katharina Lita, kontributor KBR 68H (Abepura, Papua), dan Pastor Yohanes Jonga,  Koordinator Tim Pastoral Dekenat Keerom (Papua), serta wawancara dengan: Mama Yosepha Alomang (Yamahak, Papua), Yusan Yeblo (JKPIT, Papua), Anum Siregar (ALDP), Poengky Indarti (Imparsial) dan J. Septer Manufandu ( FOKER LSM Papua)

Artikel asli dimuat dalam Buku Acara Malam Penganugerahan Yap Thiam Hien Award 2009 yang diselenggarakan di Jakarta tanggal 10 Desember 2009.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s