STRANGERS IN THE NIGHT

PLANE  Beberapa hari yang lalu, tiba-tiba saja kalimat Strangers In The Night melintas begitu saja dalam pikiran. Itu adalah judul sebuah lagu lama yang pernah begitu terkenal saat dinyanyikan oleh penyanyi kawakan tersohor Amerika, Frank Sinatra (alm), pada sekitar tahun limapuluhan. Awalnya pikiran saya memang merujuk pada lagu tersebut, namun entah kenapa pikiran itu lantas bergerak menunjuk pada suatu ketika di mana saya mengalami sebuah kejadian yang menempatkan saya sebagai pelaku dalam episode kehidupan yang senada dengan judul lagu tersebut di atas, Strangers In The Night – Orang-orang Asing pada Suatu Malam.

Kejadiannya begini. Bertahun-tahun lalu di penghujung bulan Agustus, saya tengah dalam perjalanan panjang pulang ke Jakarta. Petang itu, sekitar jam 5 sore, saya memasuki kabin pesawat yang akan membawa saya dari Zurich, Swiss menuju Dubai, Uni Emirat Arab. Pada boarding passyang saya pegang tertera angka 26B di bawah tulisan Seat. Itulah nomor kursi yang akan saya duduki selama sekian jam penerbangan menuju Dubai. Seorang pramugari menunjuk lajur paling kiri yang memuat deretan pasangan kursi berseri A dan B. Kabin pesawat sudah berisi sejumlah penumpang ketika kami masuk. Rupanya pesawat bernomor badan EK 36 tersebut terbang dengan rute London-Zurich-Dubai.

Setelah menelusuri deretan kursi, sampailah saya pada kursi bernomor 26B yang terletak bersisian dengan koridor tempat lalu-lalang penumpang dan awak kabin. Sebetulnya saya merasa kecewa mendapat kursi dengan seri B karena saya lebih menyukai tempat duduk yang berdekatan dengan jendela -entah itu pada saat naik kendaraan ataupun jika berada di tempat-tempat seperti restoran, kafe, dan sebagainya. Ternyata, kursi 26A yang tepat bersebelahan dengan kursi 26B milik saya telah terisi seorang penumpang dari London. Hm, jadi ini orang yang selama beberapa jam ke depan akan duduk berdampingan denganku, pikir saya sambil sekilas melirik ke arahnya.

Ia seorang lelaki muda, mungkin berusia 20-an. Berkulit putih kekuningan, tidak terlalu tinggi, bermata sipit dengan rambut hitam lurus. Tipikal Asia Oriental. Barangkali ia orang Jepang, atau juga Cina, atau mungkin Korea, atau bisa juga Vietnam. Saya belum tahu. Dan ketika pesawat telah lepas landas, mau tidak mau otak saya mulai memikirkan tentang apa yang harus saya perbuat dengan ‘tetangga’ di sebelah ini. Apakah sebaiknya saya diam saja selama perjalanan sembari menyibukkan diri dengan membaca atau menonton filem (di setiap punggung kursi dalam pesawat tersebut disediakan layar teve –kira-kira seukuran kertas A4- yang menyediakan sejumlah alternatif tontonan) toh kami adalah orang asing yang tidak saling mengenal, ataukah sebaiknya saya berinisiatif memulai percakapan, setidak-tidaknya sedikit berbasa-basi lah.

Singkat cerita, entah bagaimana mulanya tahu-tahu kami sudah terlibat percakapan. Dia berbicara dalam logat British English yang kental, dengan intonasi yang naik turun serta cengkok yang khas. Pokoknya, enak sekali didengar. Sementara saya menanggapinya dalam bahasa Inggris bergaya Amerika-amerikaan (akibat pengaruh tontonan televisi) yang terkadang ngawur dan tersendat lantaran sangat jarang dipakai. Saya sempat memuji logatnya itu dan menanyakan apakah ia lahir dan besar di Inggris. Ceritanya lalu mengalir. Menurut pengakuannya, ia berasal dari Hongkong. Dari kalangan biasa. Oleh seorang pamannya ia disekolahkan sejak SMA di Cambridge, Inggris dan setelah lulus ia kemudian masuk sebuah college di sana. Dan mengambil jurusan yang berkaitan dengan bisnis dan keuangan.
“Saya belajar sekeras mungkin agar bisa lulus tepat waktu. Kalau tidak, kasihan paman saya. Dia sudah mengeluarkan banyak uang untuk menyekolahkan saya,” ceritanya.
“Jadi sekarang kamu pulang ke Hongkong untuk berlibur ya?” celetuk saya. Ia tersenyum sekilas, “Yah, sebetulnya lebih tepat kalau dibilang saya pulang kampung buat melaporkan apa saja yang sudah saya capai selama ini pada paman saya itu,” jawabnya.
“Jadi?” tanya saya lagi.
“Semua keputusan soal kelanjutan studi saya ada pada paman saya,” lanjutnya dengan suara mengambang. Ada nada kecemasan di sana.

Saya lantas mengalihkan ke topik lain yang biasanya menarik untuk anak muda seumurnya. Soal cewek. Mulanya dia mengelak saat saya dengan usil menanyakan apakah ia pernah mengencani cewek bule. Tetapi tak berapa lama, mungkin karena terprovokasi dengan pertanyaan-pertanyaan saya, meluncur juga pengakuannya.
“Ya, ada juga sih. Tapi saya nggak berani macam-macam. Paling banter kissing. Kalau lebih dari itu saya belum berani,” bisiknya malu-malu. “Aduh, kenapa saya cerita soal itu sih. Biasanya saya nggak pernah ngomong soal yang terlalu pribadi,” lanjutnya dengan wajah memerah. “Nggak apa-apa kok. Toh saya tidak bisa bilang ke siapa-siapa,” jawab saya tersenyum lebar melihat kepolosannya.

Sepanjang perjalanan dia beberapa kali memesan red wine (memang gratis) dari pramugari. Minuman yang dikemas dalam botol hijau kecil itu membuat obrolan kami diwarnai bau manis anggur yang menyeruak dari mulutnya. Belakangan saya sempat menyesal kenapa tak ikut mencicipi minuman anggur merah gratis itu. Mbok ya sekali-kali red wine gitu, masak orange juice terus sih, ledek hati kecil saya.

Pemuda itu bertanya tentang ihwal diri saya. Saya katakan bahwa saya dalam perjalanan pulang ke Jakarta. “Habis berlibur,” kata saya. Ia pun bertanya apakah saya masih sekolah atau sudah bekerja. Saya jawab bahwa saya bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan swasta asing. “Secretary? Wooooooow,” begitu komentarnya sambil tersenyum-senyum. Saya terheran-heran melihat reaksinya. Apa maksud ucapan ‘wooooooow’ yang panjang plus senyam-senyumnya itu? Saya tanyakan hal itu padanya, tapi lagi-lagi reaksinya sama. “Secretary, wooooooow,” ulangnya sambil tetap tersenyum. Entah apa yang dipikirkannya tentang profesi sekretaris, saya tak tahu. Namun saya mendapat kesan bahwa profesi tersebut baginya adalah sesuatu yang fancy, sesuatu yang ‘wah’. Mungkin begitu.

Tengah malam menjelang tiba di Dubai, kami bercakap-cakap soal lamanya waktu transit nanti. Rupanya kami masing-masing akan turun di gate yang berbeda.
“Saya harus menunggu 3 jam lebih. Pesawat saya berikutnya akan berangkat sekitar jam 3. 45 pagi,” kata saya.
“Saya malah harus menunggu 8 jam,” sahutnya.
“Wah, kamu bisa tidur dulu dong,” balas saya.
“Tidur? Nggak bisa. Saya kan harus menjaga koper-koper saya. Kalau dicuri orang waktu saya tidur, gimana?” ujarnya. Betul juga.

Pesawat akhirnya mendarat dengan selamat. Saya pun sibuk mengemasi barang-barang bawaan. Saat bersiap-siap untuk turun dari pesawat, barulah saya sadar bahwa ‘tetangga’ saya tak lagi kelihatan batang hidungnya. Mungkin sedang ke toilet, pikir saya sambil mengantri dalam barisan penumpang yang akan turun. Pintu keluar pesawat makin dekat. Anak muda itu belum tampak juga. Saya merasa sedikit tak enak karena belum sempat mengucapkan salam perpisahan. Bagaimanapun, ia sudah menjadi teman seperjalanan sepanjang malam ini. Menjelang tiga atau empat langkah menuju pintu pesawat, pemuda itu muncul. Ia berada di antara dua orang pramugari yang berdiri dekat pintu untuk mengucapkan selamat jalan pada para penumpang yang turun. Menatap saya seraya cengar-cengir. Giliran saya tiba untuk turun. Kami bersalaman dan mengucapkan salam perpisahan sesaat sebelum saya menuruni tangga pesawat.

Ketika berjalan mendekati terminal kedatangan, kira-kira 15 langkah jauhnya dari tangga pesawat, mendadak saya teringat sesuatu. Sesuatu tentang pemuda itu yang saya lupakan. Saya membalikkan badan. Anak itu masih berdiri di pintu pesawat. Melihat saya berbalik, ia melambaikan tangan. Saya balas melambai. Sementara rombongan penumpang lainnya telah memasuki terminal. Sudah terlambat, bisik saya. Mungkin sebentar lagi pesawat akan bergerak menuju gate berikutnya, jadi riskan buat saya untuk melakukan hal itu.

Hal itu. Hal yang saya lupa lakukan dalam pesawat tadi. Saya lupa menanyakan nama pemuda itu, teman seperjalanan saya sepanjang penerbangan barusan. Dan saya juga tidak memperkenalkan nama saya padanya. Sudahlah, apa boleh buat, sesal hati saya.

So, that the way we were. We were strangers in the night.

***

Penulis : Octaviana Dina (25 Maret 2009)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s