MENGENANG THE X-FILES

Xf1

Masih ingatkah Anda pada The X-Files? Jika Anda suka menonton televisi pasti setidak-tidaknya Anda pernah menonton atau minimal mendengar tentang serial teve yang tersohor ini. Banyak pihak menyebut bahwa The X-Files adalah serial teve yang paling fenomenal di era 90-an. Serial ciptaan Chris Carter yang mengisahkan sepak terjang sepasang agen FBI, yaitu Fox Mulder dan Dana Scully, dalam menangani kasus-kasus tak terpecahkan alias X-Files memang telah menyihir banyak pemirsa televisi di dunia dan melahirkan ribuan penggemar fanatik yang tergabung dalam kelompok The X-Philes.

The X-Files memang mendobrak genre serial teve sebelumnya yang kebanyakan didominasi serial drama yang bergelimang intrik percintaan, seks, perseteruan keluarga, dan sebagainya. The X-Files juga bukan sekedar serial detektif belaka. Ia adalah gabungan dari berbagai unsur yaitu drama, detektif, laga atau action, horor/misteri, dan unsur yang paling utama yang membuatnya terkenal, yakni sience fiction alias fiksi ilmiah. Mulanya, serial ini sama sekali tak dillirik studio-studio filem besar Amerika macam Fox atau 20th Century. Alasannya, karena pihak studio meragukan kemampuan Chris Carter yang sebelumnya ‘hanya’ berprofesi sebagai wartawan olahraga.

Namun begitulah, Carter ternyata amat lihai meramu kisah yang membuat serial The X-Files melesat dan menuai sukses luar biasa. The X-Files ketika itu tidak saja mewabah di Amerika Serikat namun juga di berbagai negara di dunia. Buku-buku yang berkaitan dengan serial ini diterbitkan di mana-mana, termasuk di Indonesia. Penerbit Elex Media Komputindo pernah menerbitkan episode-episode serial The X-Files dalam bentuk buku. Satu buku per satu episode. Sebelumnya, penerbit lain yakni CV. Swakarya telah lebih dulu menerbitkannya. Namun setahu saya tak lebih dari empat atau lima episode saja. Itu baru buku, belum lagi merchandise lainnya seperti kartu, kaset, filem, T-Shirt dan sebagainya yang mengusung tema The X-Files.

Xf2Di kancah perfileman AS, serial The X-Files berhasil menyabet penghargaan Golden Globe sebanyak tiga kali sebagai serial televisi terbaik. Pada tahun 1996, The X-Files mengalahkan serial teve lainnya yang tak kalah populer saat itu yakni E.R, Law and Order, NYPD Blue, dan Chicago Hope.
Di Indonesia, serial The X-Files ditayangkan oleh stasiun televisi SCTV mulai tahun 1997 hingga 1999 setiap hari Rabu. Pada tahun 1997 The X-Files dinobatkan sebagai Filem/Sinetron Barat Terfavorit dalam ajang jajak pendapat Panasonic Award. Apa sih yang membuat serial ini istimewa?

Bagi kebanyakan penonton televisi, serial The X-Files memang bukan tontonan yang mudah dicerna. Kadar fiksi ilmiah yang kental dan jalinan kisah yang seringkali pelik dalam serial ini membuat pemirsanya harus ikut ‘berpikir’ untuk dapat memahami isi ceritanya. Bagi mereka yang terbiasa dengan tontonan yang alur ceritanya ringan dan gampang ditebak, sudah dipastikan sulit menyukai serial The X-Files. Apalagi serial ini kerap mempertunjukkan mahluk-mahluk aneh yang menyeramkan bahkan menjijikkan. Namun demikian, meski njlimet, rumit, ‘dingin’ dan banyak menyajikan mahluk aneh nan seram, The X-Files berhasil menjaring kumpulan besar pemirsa yang fanatik dan setia.

Xf3Lantas apa sih yang menarik dari serial The X-Files? Yang paling terutama adalah kekuatan ceritanya, yakni cerdas dan tidak ‘kacangan’. Sebagian besar cerita The X-Files berkisar pada isu-isu konspirasi baik yang dilakukan oleh pihak pemerintah Amerika Serikat maupun oleh pihak-pihak berkuasa di dunia internasional lainnya yang –tentu saja- berkaitan dengan kepentingan pemerintah AS. Konspirasi tersebut meliputi proyek-proyek rahasia pemerintah seperti rekayasa mutasi genetis, percobaan teknologi luar angkasa, eksperimen kimiawi pada manusia atau mahluk hidup lainnya, dan sebagainya, yang kerapkali disangkal dan disembunyikan pemerintah. Juga misteri fenomena UFO dan keberadaan alien alias mahluk angkasa luar yang terus menjadi kasus X-Files yang tak terpecahkan. Ditambah lagi intrik-intrik yang terjadi dalam tubuh FBI, lembaga tempat kedua tokoh utama The X-Files yaitu Fox Mulder dan Dana Scully bekerja. sehubungan dengan kasus-kasus yang mereka tangani.

Masih ada lagi bumbu-bumbu yang makin menggelitik rasa keingintahuan pemirsa. Salah satunya adalah fenomena supranatural seperti vampir, indra keenam, mahluk jadi-jadian, kekuatan gaib, kemampuan telekinetis, dan sebagainya. Bumbu lainnya adalah kemisteriusan tokoh-tokoh kunci lainnya dalam The X-Files pun. Sebutlah tokoh Mr. X, atau tokoh Deep Throat, yang kerap membantu Fox Mulder dengan informasi-informasi rahasia dan pernah menyelamatkan nyawa Muder pada saat genting. Atau juga tokoh Cigarette Smoking Man dan tokoh Alex Krycek yang selalu menjegal serta tak jarang berupaya menyingkirkan dan menghabisi Mulder dan Scully. Bahkan, tokoh Walter Skinner, sang atasan Mulder dan Scully, pun tak kurang misteriusnya. Terkadang ia melindungi Mulder dan Scully, tapi lain waktu ia justru berseberangan kedua anak buahnya itu.

Semua itu dikemas dengan amat piawai oleh Chris Carter, sang kreator, menjadi suguhan yang selalu dinanti pemirsanya karena penasaran dengan teka-teki dan misteri yang selalu mewarnai episode-episode The X-Files. Dengan moto The Truth Is Out There-nya yang kondang itu, The X-Files menggiring penonton ke perbatasan antara sekedar fiksi ilmiah atau kenyataan yang sebenarnya, karena banyak pemirsa serial ini yang menyakini bahwa isu-isu yang diangkat –terutama tentang konspirasi dan fenomena UFO serta alien- berasal dari fakta yang sesungguhnya.

Xf4Di luar faktor kekuatan cerita, faktor-faktor teknis pun ikut berpengaruh menyukseskan kiprah serial The X-Files sebagai tontonan yang menyihir. Faktor pemilihan para pemain, tata fotografi, special effects, komposisi musik, serta tata desain yang tepat dan pas dengan tema The X-Files telah membuat serial ini mencapai keberhasilan besar. Tokoh Fox Mulder dan Dana Scully, misalnya, tidak diperankan oleh aktor dan aktris terkenal yang tampan dan cantik. David Duchovny yang berperan sebagai tokoh agen Fox Mulder bukanlah aktor terkenal. Ia bahkan cuma aktor yang mengawali karirnya dengan bermain dalam filem-filem ‘biru’ alias filem XXX walaupun sebetulnya ia adalah lulusan Universitas Princenton dalam bidang sastra Inggris serta memperoleh gelar Master di Universitas Yale. Namun siapa sangka Duchovny mampu bermain apik dan begitu pas dengan tokoh Fox Mulder yang diperaninya. Demikian juga dengan Gillian Anderson yang memerani tokoh agen Dana Scully. Anderson bukanlah siapa-siapa sebelum menjadi Dana Scully sekalipun ia merupakan lulusan dari Goodman Theatre School, Chicago. Ia adalah wanita dengan masa remaja yang bergelimang seks bebas, obat bius dan alkohol. Meski begitu Gillian Anderson berhasil dengan baik memerani tokoh Dana Scully yang cerdas, profesional sekaligus dingin. Maka David Duchovny dan Gillian Anderson pun menjelma menjadi pasangan agen FBI Fox Mulder dan Dana Scully yang amat serasi, dalam artian mereka sama-sama profesional, berdedikasi pada pekerjaan, serta sama-sama cerdas meskipun keduanya digambarkan punya sifat yang bertolakbelakang. Mulder percaya pada hal-hal supranatural, sementara Scully selalu berpikir rasional dan skeptis.

Bagi para pemirsa wanita, pasangan agen Mulder dan Scully ini menimbulkan daya tarik tersendiri, yaitu apakah keduanya akan terlibat cinta seperti halnya yang kebanyakan terjadi pada pasangan-pasangan seprofesi yang berbeda jender/jenis kelamin dalam serial-serial televisi pada umumnya. Sepanjang masa tayang serial ini (terakhir sampai season 5) memang tidak ada pernyataan eksplisit –baik dari tokoh Mulder maupun Scully- tentang bagaimana perasaan mereka sesungguhnya terhadap satu sama lain. Meskipun demikian, ada beberapa episode yang menunjukkan secara halus perasaan mereka. Misalnya dalam episode The End  Scully sedikit cemburu terhadap kedekatan Mulder dengan agen FBI bernama Diana Fowley, sedangkan dalam episode Never Again Mulder menunjukkan ekpresi ketidaksukaannya terhadap keterlibatan Scully dengan seorang pria bernama Ed Jerse. Pada episode Small Potatoes pemirsa dibuat gregetan dengan adegan di mana Mulder nyaris mencium Scully, namun –sayangnya- itu bukanlah Mulder yang asli. Meski demikian, bagi penonton yang setia mengikuti episode-episode The X-Files pastilah bisa merasakan adanya ikatan spesial antara Fox Mulder dan Dana Scully, entah itu cinta atau bukan.

Xf5Gillian Anderson dan David Duchovny sendiri pernah membuat fans The X-Files heboh bukan main saat mereka berpose untuk sampul Majalah Rolling Stones edisi khusus tahun 1995. Dalam pose tersebut keduanya bertelanjang dada dan berpelukan erat di atas ranjang dan diberi judul yang provokatif pula : X-Files Mulder & Scully Undercovered. Pose heboh itu akhirnya membuat Chris Carter angkat bicara. Menurut Carter yang berpose itu bukanlah Fox Mulder dan Dana Scully, melainkan Gillian Anderson dan David Duchovny. Dan ia menegaskan bahwa adegan seperti dalam pose tersebut takkan pernah terjadi antara Mulder dan Scully.

Begitulah. Suka atau tidak, The X-Files memang telah mendapat label sebagai serial televisi paling fenomenal di era 90-an. Walaupun banyak serial teve bertema sejenis yang dibuat, misalnya Millenium, Dark Skies, The Profiler ataupun The Pretender, namun tak ada yang menyamai kesuksesan The X-Files. Pertanyaannya kini, akankah serial ini kelak dilanjutkan? Seandainya ya, akankah tokoh Fox Mulder dan Dana Scully tetap ada dan tetap diperankan oleh David Duchovny dan Gillian Anderson? Jika tidak, mampukah serial ini mempertahankan ‘greget’nya seperti pada masa keemasannya satu dekade silam?
The answer is out there…

Agen Fox Mulder (David Duchovny)
Nama lengkap : Fox William Mulder
Nomor Lencana: JTT047101111
Senjata : Smith & Weason 1056 (9mm)
Tempat/Tgl lahir : Chilmark, Massachusetts, 13 Oktober 1961
Tinggi/Berat Badan : 183 cm/76 kg
Pendidikan : Sarjana Psikologi dari Oxford University
Alamat : Apt. 42, Alexandria, VA
Telp. : (202) 555-9355
Fox Mulder masuk ke FBI pada pertengahan tahun 80-an lewat Quantico FBI Training Academy. Ditugaskan ke X-Files Department tahun 1991 saat ia mendesak FBI membuka kembali kasus-kasus X-Files.

Agen Dana Scully (Gillian Anderson)
Nama lengkap : Dana Katherine Scully, M.D.
Nomor Lencana : 2317-616
Senjata : Smith & Weason 1056 (9mm)
Tgl. lahir : 23 Februari 1964
Tinggi badan :160 cm
Pendidikan : Sarjana muda Ilmu Fisika dari Maryland University
dan Dokter spesialis Ilmu Forensik
Alamat : 3170 W, 53 Rd. #35, Annapolis, MD
Telp. : (202) 555-6431
E-mail : D_Scully@FBI.gov
Dana Scully masuk ke FBI pada tahun 1990 dan mulai mengajar Forensik di Quantico FBI Training Academy. Ditugaskan ke X-Files Department pada 6 Maret 1992 untuk mengawasi agen Fox Mulder.

Penulis : Octaviana Dina (10 Maret 2010)

STRANGERS IN THE NIGHT

PLANE  Beberapa hari yang lalu, tiba-tiba saja kalimat Strangers In The Night melintas begitu saja dalam pikiran. Itu adalah judul sebuah lagu lama yang pernah begitu terkenal saat dinyanyikan oleh penyanyi kawakan tersohor Amerika, Frank Sinatra (alm), pada sekitar tahun limapuluhan. Awalnya pikiran saya memang merujuk pada lagu tersebut, namun entah kenapa pikiran itu lantas bergerak menunjuk pada suatu ketika di mana saya mengalami sebuah kejadian yang menempatkan saya sebagai pelaku dalam episode kehidupan yang senada dengan judul lagu tersebut di atas, Strangers In The Night – Orang-orang Asing pada Suatu Malam.

Kejadiannya begini. Bertahun-tahun lalu di penghujung bulan Agustus, saya tengah dalam perjalanan panjang pulang ke Jakarta. Petang itu, sekitar jam 5 sore, saya memasuki kabin pesawat yang akan membawa saya dari Zurich, Swiss menuju Dubai, Uni Emirat Arab. Pada boarding passyang saya pegang tertera angka 26B di bawah tulisan Seat. Itulah nomor kursi yang akan saya duduki selama sekian jam penerbangan menuju Dubai. Seorang pramugari menunjuk lajur paling kiri yang memuat deretan pasangan kursi berseri A dan B. Kabin pesawat sudah berisi sejumlah penumpang ketika kami masuk. Rupanya pesawat bernomor badan EK 36 tersebut terbang dengan rute London-Zurich-Dubai.

Setelah menelusuri deretan kursi, sampailah saya pada kursi bernomor 26B yang terletak bersisian dengan koridor tempat lalu-lalang penumpang dan awak kabin. Sebetulnya saya merasa kecewa mendapat kursi dengan seri B karena saya lebih menyukai tempat duduk yang berdekatan dengan jendela -entah itu pada saat naik kendaraan ataupun jika berada di tempat-tempat seperti restoran, kafe, dan sebagainya. Ternyata, kursi 26A yang tepat bersebelahan dengan kursi 26B milik saya telah terisi seorang penumpang dari London. Hm, jadi ini orang yang selama beberapa jam ke depan akan duduk berdampingan denganku, pikir saya sambil sekilas melirik ke arahnya.

Ia seorang lelaki muda, mungkin berusia 20-an. Berkulit putih kekuningan, tidak terlalu tinggi, bermata sipit dengan rambut hitam lurus. Tipikal Asia Oriental. Barangkali ia orang Jepang, atau juga Cina, atau mungkin Korea, atau bisa juga Vietnam. Saya belum tahu. Dan ketika pesawat telah lepas landas, mau tidak mau otak saya mulai memikirkan tentang apa yang harus saya perbuat dengan ‘tetangga’ di sebelah ini. Apakah sebaiknya saya diam saja selama perjalanan sembari menyibukkan diri dengan membaca atau menonton filem (di setiap punggung kursi dalam pesawat tersebut disediakan layar teve –kira-kira seukuran kertas A4- yang menyediakan sejumlah alternatif tontonan) toh kami adalah orang asing yang tidak saling mengenal, ataukah sebaiknya saya berinisiatif memulai percakapan, setidak-tidaknya sedikit berbasa-basi lah.

Singkat cerita, entah bagaimana mulanya tahu-tahu kami sudah terlibat percakapan. Dia berbicara dalam logat British English yang kental, dengan intonasi yang naik turun serta cengkok yang khas. Pokoknya, enak sekali didengar. Sementara saya menanggapinya dalam bahasa Inggris bergaya Amerika-amerikaan (akibat pengaruh tontonan televisi) yang terkadang ngawur dan tersendat lantaran sangat jarang dipakai. Saya sempat memuji logatnya itu dan menanyakan apakah ia lahir dan besar di Inggris. Ceritanya lalu mengalir. Menurut pengakuannya, ia berasal dari Hongkong. Dari kalangan biasa. Oleh seorang pamannya ia disekolahkan sejak SMA di Cambridge, Inggris dan setelah lulus ia kemudian masuk sebuah college di sana. Dan mengambil jurusan yang berkaitan dengan bisnis dan keuangan.
“Saya belajar sekeras mungkin agar bisa lulus tepat waktu. Kalau tidak, kasihan paman saya. Dia sudah mengeluarkan banyak uang untuk menyekolahkan saya,” ceritanya.
“Jadi sekarang kamu pulang ke Hongkong untuk berlibur ya?” celetuk saya. Ia tersenyum sekilas, “Yah, sebetulnya lebih tepat kalau dibilang saya pulang kampung buat melaporkan apa saja yang sudah saya capai selama ini pada paman saya itu,” jawabnya.
“Jadi?” tanya saya lagi.
“Semua keputusan soal kelanjutan studi saya ada pada paman saya,” lanjutnya dengan suara mengambang. Ada nada kecemasan di sana.

Saya lantas mengalihkan ke topik lain yang biasanya menarik untuk anak muda seumurnya. Soal cewek. Mulanya dia mengelak saat saya dengan usil menanyakan apakah ia pernah mengencani cewek bule. Tetapi tak berapa lama, mungkin karena terprovokasi dengan pertanyaan-pertanyaan saya, meluncur juga pengakuannya.
“Ya, ada juga sih. Tapi saya nggak berani macam-macam. Paling banter kissing. Kalau lebih dari itu saya belum berani,” bisiknya malu-malu. “Aduh, kenapa saya cerita soal itu sih. Biasanya saya nggak pernah ngomong soal yang terlalu pribadi,” lanjutnya dengan wajah memerah. “Nggak apa-apa kok. Toh saya tidak bisa bilang ke siapa-siapa,” jawab saya tersenyum lebar melihat kepolosannya.

Sepanjang perjalanan dia beberapa kali memesan red wine (memang gratis) dari pramugari. Minuman yang dikemas dalam botol hijau kecil itu membuat obrolan kami diwarnai bau manis anggur yang menyeruak dari mulutnya. Belakangan saya sempat menyesal kenapa tak ikut mencicipi minuman anggur merah gratis itu. Mbok ya sekali-kali red wine gitu, masak orange juice terus sih, ledek hati kecil saya.

Pemuda itu bertanya tentang ihwal diri saya. Saya katakan bahwa saya dalam perjalanan pulang ke Jakarta. “Habis berlibur,” kata saya. Ia pun bertanya apakah saya masih sekolah atau sudah bekerja. Saya jawab bahwa saya bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan swasta asing. “Secretary? Wooooooow,” begitu komentarnya sambil tersenyum-senyum. Saya terheran-heran melihat reaksinya. Apa maksud ucapan ‘wooooooow’ yang panjang plus senyam-senyumnya itu? Saya tanyakan hal itu padanya, tapi lagi-lagi reaksinya sama. “Secretary, wooooooow,” ulangnya sambil tetap tersenyum. Entah apa yang dipikirkannya tentang profesi sekretaris, saya tak tahu. Namun saya mendapat kesan bahwa profesi tersebut baginya adalah sesuatu yang fancy, sesuatu yang ‘wah’. Mungkin begitu.

Tengah malam menjelang tiba di Dubai, kami bercakap-cakap soal lamanya waktu transit nanti. Rupanya kami masing-masing akan turun di gate yang berbeda.
“Saya harus menunggu 3 jam lebih. Pesawat saya berikutnya akan berangkat sekitar jam 3. 45 pagi,” kata saya.
“Saya malah harus menunggu 8 jam,” sahutnya.
“Wah, kamu bisa tidur dulu dong,” balas saya.
“Tidur? Nggak bisa. Saya kan harus menjaga koper-koper saya. Kalau dicuri orang waktu saya tidur, gimana?” ujarnya. Betul juga.

Pesawat akhirnya mendarat dengan selamat. Saya pun sibuk mengemasi barang-barang bawaan. Saat bersiap-siap untuk turun dari pesawat, barulah saya sadar bahwa ‘tetangga’ saya tak lagi kelihatan batang hidungnya. Mungkin sedang ke toilet, pikir saya sambil mengantri dalam barisan penumpang yang akan turun. Pintu keluar pesawat makin dekat. Anak muda itu belum tampak juga. Saya merasa sedikit tak enak karena belum sempat mengucapkan salam perpisahan. Bagaimanapun, ia sudah menjadi teman seperjalanan sepanjang malam ini. Menjelang tiga atau empat langkah menuju pintu pesawat, pemuda itu muncul. Ia berada di antara dua orang pramugari yang berdiri dekat pintu untuk mengucapkan selamat jalan pada para penumpang yang turun. Menatap saya seraya cengar-cengir. Giliran saya tiba untuk turun. Kami bersalaman dan mengucapkan salam perpisahan sesaat sebelum saya menuruni tangga pesawat.

Ketika berjalan mendekati terminal kedatangan, kira-kira 15 langkah jauhnya dari tangga pesawat, mendadak saya teringat sesuatu. Sesuatu tentang pemuda itu yang saya lupakan. Saya membalikkan badan. Anak itu masih berdiri di pintu pesawat. Melihat saya berbalik, ia melambaikan tangan. Saya balas melambai. Sementara rombongan penumpang lainnya telah memasuki terminal. Sudah terlambat, bisik saya. Mungkin sebentar lagi pesawat akan bergerak menuju gate berikutnya, jadi riskan buat saya untuk melakukan hal itu.

Hal itu. Hal yang saya lupa lakukan dalam pesawat tadi. Saya lupa menanyakan nama pemuda itu, teman seperjalanan saya sepanjang penerbangan barusan. Dan saya juga tidak memperkenalkan nama saya padanya. Sudahlah, apa boleh buat, sesal hati saya.

So, that the way we were. We were strangers in the night.

***

Penulis : Octaviana Dina (25 Maret 2009)