ANANDA

ananda

April 1996
“Nastiti, kau sudah dewasa sekarang. Saatnya bagi Mama untuk mengatakan sebuah kebenaran,” katanya. Suaranya yang bergeletar dan matanya yang berkaca-kaca membuatku tak enak. Ada apa gerangan? batinku cemas. Kemudian Mama mulai berkisah. Terbata-bata pada awalnya. Tersendat-sendat di pertengahan. Mama mengakhirinya dengan terisak sambil memelukku erat. Aku mengelu. Sebuah kebenaran baru saja menghantamku.
“Engkau tetap anakku, Nastiti. Anak Mama satu-satunya. Kecintaan Mama. Tanpamu hidupku takkan berarti,” ujarnya di antara isakan. Mama terus memeluk. Aku terus membeku. Kebenaran itu membuatku pahit: Mamaku bukan ibuku.
“Jadi engkau bukan ibuku,” bisikku dengan hati sobek.
“Memang bukan. Aku Mamamu,” katanya tersedu.
“Kau bukan orang yang melahirkanku,” ujarku ngilu.
“Tapi aku merawatmu sedari kau bayi. Aku yang mengasuh dan membesarkanmu. Aku yang mencintaimu. Aku Mamamu,” jawabnya.
“Jadi aku dibuang ibuku sendiri, lalu kau memungutku,” aku meratap. Ia menyanggah. Katanya, ibuku sama sekali tak bermaksud begitu.
“Lantas, kenapa aku diserahkan padamu, kenapa ia tak kembali lagi? Tak pernah mengabari apalagi mencariku. Bukankah itu sama artinya dengan membuangku?” lanjutku terluka. Pedih perih bermekaran di sekujur hati.

Mamaku menyambung kisah. Begini ceritanya. Ketika itu keadaan begitu sulit. Ibuku terpaksa melakukannya karena amat terdesak. Mama memintanya untuk menyerahkanku padanya, sebab ia pikir itulah jalan terbaik. Akan tetapi ibuku tak pernah kembali untuk menjemputku. Tak ada yang tahu berita dan jejaknya. Bagai halimun dilumat mentari. Sirna tak berbekas.
“Aku mencemaskannya, tapi tak bisa berbuat banyak. Di mana ia berada aku tak tahu, sampai sekarang,” pungkasnya. Kutatap sosok di hadapanku dengan rasa haru. Karena dialah aku hidup sejahtera hari ini.
“Terimakasih untuk kasih sayangmu selama ini, Ma. Aku mencintaimu,” bisikku. “Selamat ulang tahun keduapuluh, Nastiti sayang,” balasnya.
Secarik foto yang memudar tergeletak di antara kami. Dua perempuan muda yang tengah tertawa lepas tergambar di dalamnya. Mamaku dan ibuku.

Juni 2004
Kupandangi lekat-lekat dua sosok perempuan dalam foto yang lama tersembunyi dalam sehelai amplop cokelat. Mamaku dan ibuku. Bulan depan Wisnu akan melamarku. Haruskah aku mengatakan kebenaran ini?
Ibuku. Tubuh tempat tubuhku ditenun. Jiwa di mana jiwaku dipintal. Raga yang dari dalamnya ragaku berasal. Dalam amarah kah ia menenunku? Ataukah ia memintalku dengan jiwa terluka? Sebab ia telah menolakku, anak yang dikandung rahimnya. Mengapa ia mengandungku dan melahirkanku untuk kemudian membuangku? Aku tak pernah memintanya untuk memilihku sebagai anak. Jika saja aku bisa bertanya. Jika saja ia bisa menjawab.

Mamaku. Perempuan yang sepanjang usianya tak pernah mengandung dan melahirkan, namun dihabiskannya tahun-tahun hidupnya untuk merawat, mengasuh dan membesarkanku, anak yang bukan dari buah kandungannya sendiri. Anak yang tak pernah ia lahirkan. Anak seorang perempuan yang telah menikam dari belakang. Perempuan yang menenunku dari benih yang tak seharusnya ia miliki. Ia menggunting dalam lipatan, menelikung sahabat sendiri. Ibuku telah merampas kekasih Mamaku. Tapi orang yang tertikam itu justru memaafkannya. Dia memungutku, dan menyebutku: anakku. Membesarkanku dengan cinta.
Tinggallah Ibu menuai buah kesalahannya sendiri. Lelaki itu tak mau bertanggung jawab. Katanya, ibukulah yang telah menggodanya. Barangkali karena itu ia tak menginginkanku lagi. Barangkali karena aku mengingatkannya pada kepahitan itu.
Bagaimana aku bisa memaafkanmu? bisikku dalam hati.


Mei 2007
Selewat tengah malam ia tiba-tiba membangunkan anaknya. “Nastiti, aku ingin mengatakan sesuatu,” katanya dengan nafas tersengal.
“Sudahlah, Ma. Sekarang sudah tengah malam. Mama harus banyak istirahat agar cepat sembuh,” gumam Nastiti dengan mata terpicing akibat kantuk yang sangat.
“Ini penting sekali,” tukasnya bersikeras.
Nastiti mengalah. Bagaimanapun ia amat mencemaskan keadaan mamanya. Senin lalu beliau jatuh terpeleset saat menaiki tangga, kepalanya membentur lantai. Untung tak terluka. Hanya sedikit pusing, begitu ujarnya ketika itu. Namun dua hari kemudian perempuan itu mendadak pingsan. Esoknya kejadian sama berulang. Tak apa-apa, ini pasti karena anemia Mama kumat, kilahnya berusaha menolak saat Nastiti akan membawanya ke rumah sakit. Nastiti kukuh memaksa, perempuan itu pun menyerah. Benar saja, dokter mencurigai ada yang tak beres. Hasil CT Scan menunjukkan ada bayangan gelap di jaringan pembuluh otak. Ada pendarahan, begitu kata dokter. Mamanya harus tinggal di rumah sakit guna ditangani lebih lanjut.

Perempuan itu tak langsung bicara. Bibirnya bergetaran. “Ini tentang ibumu. Mama berbohong waktu itu,” ucapnya lirih. “Ibumu tidak pergi meninggalkanmu untuk mencari kerja di Jakarta. Waktu usia kehamilannya enam bulan, ia didakwa menggelapkan uang kantor tempatnya bekerja. Ibumu diganjar hukuman penjara. Saat usiamu dua bulan, aku lantas mengambilmu sebab tak mungkin baginya membesarkan anak dalam penjara. Ia terpaksa setuju, karena ia sebatang kara setelah kematian ibu angkatnya. Lagipula tubuhnya lemah setelah melahirkan. Aku berjanji akan membawamu mengunjunginya dua kali seminggu. Selama tiga bulan janji itu kutepati. Tetapi aku mangkir setelahnya. Aku sengaja melakukannya, sebab sesungguhnya aku tak benar-benar memaafkannya. Aku ingin membuatnya merasakan deritaku, karena dulu ia merampas kekasihku. Maka aku balas merampasmu darinya. Ia tak bisa mengambilmu karena aku lantas mengikuti suamiku yang dipindahtugaskan ke luar negeri. Pasti ibumu terus mencarimu, namun selama itu pula aku terus menghindar. Aku tak ingin menyerahkanmu, sebab rahimku mandul. Kau anakku satu-satunya.”

Nastiti terhenyak. Kebenaran yang dulu diterimanya ternyata berlapiskan kebohongan.
“Saat ini, ibumu tinggal di sebuah panti di kawasan Cipanas. Alamatnya ada dalam buku bersampul cokelat di laci lemari Mama. Aku baru tahu setengah tahun lalu. Aku bahkan telah mengunjunginya dua kali. Tapi, Ibumu sudah lupa semua. Ia tak ingat siapa pun, bahkan dirinya sendiri.” Dipegangnya tangan Nastiti erat-erat. “Maafkan kebohongan Mama, Nastiti. Semua itu karena aku tak ingin kehilanganmu. Mama sangat mencintaimu…”
Nastiti mematung. Perasaannya berkecamuk, membuatnya nanar. Ketika ia tersadar, beliau sudah terlelap. Itulah kebenaran terakhir yang didengarnya. Perempuan itu tak pernah lagi terbangun dari tidurnya.

September 2007
“Nah, itu Ibu Tari, “kata perawat itu menunjuk seorang perempuan tua yang tengah duduk di bangku sebuah taman luas yang asri. “Itu tempat kesukaan beliau. Mari saya antarkan,” lanjutnya.
Nastiti menoleh pada Wisnu. “Pergilah. Temuilah beliau. Aku akan menantimu di ruang tunggu,” ucap suaminya. Hari itu, akhirnya ia memutuskan untuk datang menemuinya. Ibunya. Perempuan yang darinya ia berasal.
“Ibu Tari, Anda kedatangan tamu,” sapa perawat dengan ramah. Perempuan yang dipanggilnya menoleh sejenak, memandangi mereka bergantian, tersenyum tipis, kemudian kembali asyik memandangi halaman. Perawat mempersilahkan Nastiti duduk di sebelah perempuan itu. “Harap maklum, beliau kerap larut dalam dunianya sendiri,” bisik perawat itu sebelum berlalu.

Dengan canggung Nastiti duduk. Perasaannya bercampur aduk. Darimana aku harus memulai? batinnya. Memperkenalkan diri, menanyakan kabarnya, berbasa-basi, atau langsung memeluknya dan mengatakan bahwa dirinya adalah anaknya yang hilang? Tapi ia berasa asing, lagi mulutnya bagai terkunci. Diam-diam Nastiti memperhatikan. Perempuan di sisinya itu memang mirip dengan sosok dalam foto. Hanya saja ia kini meranggas dimakan usia.
“Tempat ini jauh, apa ibumu tak mencarimu nanti?” cetus perempuan itu tiba-tiba mengejutkan Nastiti. Matanya tak beralih dari rumpun kembang sepatu yang marak berbunga. Nastiti terperangah, itu pertanyaan yang di luar dugaan.
“Ah, tidak apa-apa. Ibuku takkan mencariku,” jawab Nastiti sekenanya. Lantas ia mendapat ide. “Bagaimana dengan anak Ibu jika ia pergi, akankah Ibu mencarinya?” ia balik bertanya. Nastiti berharap pertanyaannya bisa mengingatkan beliau pada sekelumit masa lalu,. Namun respon yang dinantinya tak kunjung muncul. Hanya hening yang datang di antara mereka.

Nastiti membuka tasnya. Barangkali ini bisa berhasil. “Lihat, Ibu ingat siapa mereka ini?” katanya seraya menunjukkan foto. Foto Mama dan Ibu.
Perempuan itu menoleh, menatap sekilas foto yang disodorkan Nastiti, lalu menggeleng. “Aku tak ingat,” ujarnya singkat. Nastiti terus berusaha. “Bukankah ini Ibu sewaktu muda?” diarahkannya telunjuk pada gambar gadis bergaun kotak-kotak. Ia menggeleng. “Bukan,” katanya. Nastiti mencoba lagi beberapa kali, tapi tetap sia-sia. Perempuan itu tak juga ingat. Tak ada gunanya. Mama benar, ia memang sudah lupa semua, batinnya sedih. Keduanya kembali berselubung sunyi.

Tiba-tiba, tanpa diduga, perempuan itu berbisik, “Tapi, Ananda, jika kau anakku dan kau pergi, aku pasti mencarimu. Jika kau hilang tak kembali, aku akan terus mengingatmu sampai aku tak ingat apa-apa lagi.” Digenggamnya tangan Nastiti. Genggaman yang lemah. “Aku senang kau datang, Ananda,” sambungnya membuat Nastiti tertegun. Rasa haru seketika mengepungnya.
“Ibu… Ini aku, Bu, anandamu yang dulu hilang. Aku…” Nastiti tak sanggup lagi. Dipeluknya perempuan tua itu. Dan tangisnya runtuh.

Penulis : Octaviana Dina
dimuat dalam Majalah SiArum no. 6/ April 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s