JAJANAN ANAK-ANAK ERA 70AN

makan es Kegiatan apa yang paling menyenangkan bagi kanak-kanak  selain bermain? Jawabannya kemungkinan besar adalah jajan! Bagi mereka yang memulai masa sekolah dasar pada awal dekade 70-an, tentu punya kenangan tersendiri tentang bagaimana jenis, rupa dan rasa jajanan anak-anak di masa itu. Di jaman di mana supermarket masih sangat asing buat masyarakat kita dan jumlah toko belumlah semelimpah sekarang, warung adalah surga belanja bagi anak-anak meski mayoritas adalah warung kampung yang sederhana.

Nah, tulisan ini dimaksudkan untuk menyegarkan kembali ingatan kita mengenai jenis-jenis jajanan yang populer di kalangan anak-anak pada era tersebut. Ketika itu aneka permen umumnya dijajakan dalam toples-toples beling tebal dengan bentuk membulat bermotif garis vertikal horisontal yang membentuk pola kotak-kotak. Tutup toples juga terbuat dari beling dengan ‘benjolan’ besar di bagian atas sebagai pegangan.

 Saat itu –antara tahun 1972-1974- dikenal istilah ‘lima perak seraup’. Artinya setiap lima rupiah seorang anak berhak menganbil sebanyak-banyaknya permen dalam toples dengan sekali raupan tangan. Sang penjual tentu takkan rugi; berapa besar sih ukuran telapak tangan anak-anak? Lagipula ketentuan ini biasanya hanya berlaku bagi anak-anak kecil alias di bawah usia 10 tahun.

 Dari jajaran permen, kita tentu tak lupa permen susu cap Kelinci, permen telur cicak yang berwarna-warni, Hopjes alias permen Belanda, permen rokok, permen Trebor yang asam manis, dan permen karet yang menyediakan ‘tatto’ di balik bungkusnya. Gambarnya macam-macam, biasanya sih tokoh animasi atau kartun. Cara mengaplikasikan ‘tatto’ adalah dengan membasahi bungkus permen bergambar tersebut dengan sedikit air lalu menempelkannya ke kulit tangan atau kaki. Jarang ada yang berani menempelkan ‘tatto’ ini di kulit muka karena amat beresiko dimarahi orangtua dan guru…hehehe. Masih banyak lagi jenis permen lainnya. O ya, ada juga coklat payung, coklat batangan super mini merek Van Houten, coklat batangan merek Milk, dan sebagainya.

Gambar

Selain permen, gulali adalah jajanan favorit karena rasanya yang begitu manis. Ada tiga jenis gulali yang biasa dikonsumsi anak-anak jaman itu. Yang pertama adalah gulali serabut yang sekarang dikenal dengan nama gulali Rambut Nenek karena memang rupanya mirip rambut berwarna putih krem, mirip rambut uban nenek. Gulali ini biasanya dijual dalam wadah serupa kaleng kerupuk dengan kaca, namun ukuannya lebih tinggi dan sempit. Si abang penjual memakai garpu untuk mengambil gulali tersebut dan menempatkannya di antara dua kepingan ‘kerupuk’ pipih berwarna jambon atau hijau telur asin.

 Gulali jenis kedua adalah gulali kental seperti dodol berwarna merah cerah. Gulali ini ditaruh dalam wajan mini dan selalu dipanaskan dengan api kecil . Bila ada yang membeli, si abang penjual akan menunjukkan aneka cetakan dari kayu berbentuk ikan, burung, ayam, dan lainnya. Lantas gulali diambil dari wajan dengan bambu kecil berongga dan diletakkan pada satu sisi cetakan yang terlebih dulu dibedaki dengan tepung agar tidak lengket. Cetakan lalu ditutup dan bambu ditiup. Gulali akan mengembang mengikuti pola cetakan. Setelah jadi, gulali dikeluarkan dan sebatang lidi ditusukkan ke bagian bawah gulali sebagai pegangan. Gulali pun siap dinikmati. Gulali ini kini masih bisa ditemui, namun dengan warna lebih beragam dan bentuknya kian bervariasi mengikuti perkembangan jaman.

 Jenis gulali ketiga adalah gulali kapas. Bahan dasar untuk membuatnya adalah gula pasir. Gula pasir dituang ke dalan tabung silinder di tengah-tengah wadah mirip panci tanpa pegangan. Lalu si abang penjual menginjak pedal. Silinder berputar dan…sim salabim! Seperti sulap, serabut halus serupa kapas merah jambu mulai bermunculan dalam wadah panci. Kian lama kian banyak seiring makin cepatnya putaran tabung silinder hingga gula pasir habis. Si abang lantas mengumpulkan ‘kapas’ manis tersebut dengan garpu dan memasukkannya dalam kantong plastik. Nah, gulali siap disantap.

 Gambar

Jajanan lain adalah es mambo. Es aneka warna dan rasa dalam kemasan plastik ini biasanya disimpan dalam termos khusus es. Sekarang termos model seperti itu mungkin sudah musnah karena telah digantikan kotak berpendingin alias freezer. Dan es mambo menjadi barang langka sebab kalah bersaing dengan rupa-rupa es krim buatan pabrik. Pada masa awal dekade 70-an itu amat lazim kita jumpai penjaja es mambo yang berkeliling menenteng termos. Selain es mambo, beberapa penjaja menjual es kue. Bentuknya seperti potongan kue lapis, berwarna coklat susu atau putih susu. Rasanya amat enak dan gurih, mirip agar-agar santan yang dibekukan. Jenis es lainnya antara lain es cincau, es doger, es serut, es dungdung, es goyang dan sebagainya. Hhhh, nikmatnya.

Selain permen, coklat, gulali dan es, masih ada aneka kue kering. Masih ingat kue tambang? Kue berulir berwarna coklat muda keemasan itu dahulu banyak dijual di warung-warung. Rasanya gurih. Juga ada kue sagon dan kue koya. Khusus kue koya, penganan satu ini amat enak dan bikin ketagihan. Bentuknya bulat seperti kepingan berdiameter sekitar 3 sentimeter. Bagian pinggirnya tebal sementara bagian tengahnya lebih tipis. Ada semacam aksara Cina tercetak pada bagian tengah kepingan. Jika dimakan, pada bagian tengah itu disisipkan adonan kacang hijau berwarna pekat. Kue koya dikemas dengan kertas tipis. Satu kemasan berisi 4 atau 5 keping kue. Sekarang kue koya sudah amat jarang kita temui di warung. Penganan ini dijual di supermarket besar dengan harga cukup mahal dan ukurannya pun tak sebesar dulu.

 Demikian selintas kenangan akan jajanan khas anak-anak  tempo dulu. Jika teman-teman pembaca sekalian masih ingat jenis penganan lainnya, silahkan berbagi dalam komentar .

Penulis : Octaviana Dina, 21 Apr 2013

4 pemikiran pada “JAJANAN ANAK-ANAK ERA 70AN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s