Yukio Mishima, Pengarang Yang Memilih Mati

Gambar

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia yang gemar membaca novel, nama Yukio Mishima mungkin terdengar asing. Hal ini dapat dimaklumi mengingat kebanyakan novel-novel asing yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia masih didominasi oleh karya-karya para pengarang dari Amerika dan Eropa.

Siapakah Yukio Mishima?Yukio Mishima merupakan salah satu sastrawan besar Jepang. Sepanjang karirnya sebagai pengarang, setidaknya ia menulis 257 buku yang terdiri dari  novel, kumpulan cerita pendek, esai, dan drama. Novel-novel kondangnya antara lain Confessions of a Mask, Shiosai (The Sound of Waves), The Temples of The Golden Pavilion, Kinjiki (Forbidden Colors), Utage no Ato (After The Banquet), Utsukushii Hoshi (Beautiful Star), The Sailor Who Fell from Grace with The Sea, dan lain sebagainya. Sejumlah penghargaan sastra bergengsi diraihnya. Mishima tak hanya tenar di Jepang, ia juga kondang di Amerika dan Eropa. Tercatat 75 buku terjemahan karya-karyanya beredar di kedua benua tersebut. Selain itu sekitar 10 filem telah dibuat berdasarkan novel-novelnya. Mishima dipandang sebanding dengan sastrawan-sastrawan terkenal Barat seperti  Marcel Proust, André Gide, Jean-Paul Sartre dan sebagainya. Tak heran jika semasa hidupnya ia telah tiga kali dinominasikan untuk Penghargaan Nobel Bidang Sastra.

Mishima adalah seniman serbabisa. Selain piawai menulis novel dan cerita pendek, ia juga menghasilkan esai-esai sastra yang bermutu. Di samping itu Mishima pun piawai menulis drama untuk teater Kabuki dan membuat versi modern drama tradisional Noh. Tak kurang dari 33 naskah drama telah dibuatnya. Ia bahkan ikut berperan dalam beberapa di antaranya. Mishima juga seorang aktor. Ia membintangi beberapa filem serta ikut menyutradarai sebuah filem adaptasi dari salah satu karyanya yang berjudul Patriotism, The Rite of Love and Death.

Yukio Mishima lahir pada 14 Januari 1925 dalam keluarga samurai. Nama aslinya adalah Kimitake Hiraoka. Mishima mulai menulis cerita pertamanya saat usianya 12 tahun. Ayah Mishima, Azusa Hiraoka, seorang pegawai pemerintah dengan disiplin ala militer, tidak menyukai kegemaran putranya itu pada dunia sastra. Ia kerap menggeledah kamar Mishima, dan merobek-robek naskah tulisan anaknya tersebut. Meski begitu, setiap malam secara sembunyi-sembunyi Mishima terus menulis di bawah perlindungan sang ibu, Shizue. Setiap kali Mishima selesai menulis sebuah cerita baru, ibunya adalah orang pertama yang membacanya.

Mishima  kemudian menulis cerita pendek berjudul Hanazakari no Mori (The Forest in Full Bloom) yang membuat guru-gurunya sangat terkesan sehingga mereka merekomendasikannya untuk majalah sastra bergengsi Bungei- Bunka (Literary Culture). Dalam cerita pendek tersebut Mishima memakai metafora dan aforisme yang kemudian menjadi ciri khasnya. Pada tahun 1944 Hanazakari no Mori diterbitkan dalam bentuk buku dalam jumlah terbatas, yakni 4000 buah, akibat krisis kertas semasa Perang Dunia II.

Empat tahun kemudian novel pertamanya, Tozoku (Thieves), diterbitkan dan membuat Mishima masuk peringkat Second Generation of Postwar Writers. Novel berikutnya, A Confessions of a Mask, meraup sukses besar sehingga membuat Mishima menjadi sosok termashyur pada usia 24. Mishima sempat bekerja sebagai pegawai Kementrian Keuangan dengan prospek karir yang menjanjikan begitu ia lulus dari Tokyo Imperial University pada tahun 1947. Namun ia mengundurkan diri setahun kemudian demi mendedikasikan hidupnya untuk menulis. Selain sastra, Mishima amat meminati ilmu beladiri Jepang. Ia mempelajari kendo sejak tahun 1959 selama 9 tahun hingga memperoleh gelar master tingkat lima. Tahun 1966 Mishima mulai menekuni karate.

Pada tahun 1968 ketika penghargaan Nobel bidang Sastra akhirnya dimenangkan oleh Yasunari Kawabata, salah satu sastrawan besar Jepang, banyak yang menduga jika Mishima sengaja ‘memberi jalan’ bagi Kawabata karena ia sangat menghormati seniornya tersebut. Adalah Kawabata yang pertama kali memperkenalkan Mishima pada komunitas sastra di Tokyo pada awal tahun 1940.

Mishima memiliki nasionalisme yang tebal. Ia memegang teguh komitmen terhadap bushido (prinsip hidup samurai yang salah satunya adalah menjunjung tinggi kesetiaan pada Kaisar) yang membuatnya dibenci golongan kiri Jepang. Mishima juga kerap disalahartikan sebagai seorang ‘kanan’ karena ia secara pribadi memiliki apa yang disebutnya sebagai Tatenokai (Shield of Society), yakni pasukan beladiri tak bersenjata yang terdiri dari ratusan pemuda. Mishima melatih mereka dengan ilmu beladiri dan disiplin ragawi, serta mengambil sumpah setia mereka untuk melindungi Kaisar.

Pada tanggal 25 November 1970, beberapa saat setelah menyelesaikan halaman terakhir Tennin Gosui (The Decay of The Angel) –novel penutup dari rangkaian tetralogi novel Hojo No Umi (Sea of Fertility) yang ditulisnya sejak tahun 1965- Mishima mengakhiri hidupnya dengan amat dramatis justru ketika ia tengah berada di puncak keemasan karirnya sebagai pengarang.

Hari itu, Mishima dan 4 anggota Tatenokai berkunjung ke Markas Besar Pasukan Beladiri Jepang di Kamp Ichigaya, Tokyo. Setelah membarikade kantor dan menyandera komandannya, Mishima naik ke balkon, dan menyerukan agar semua pasukan berkumpul di bawah. Ia lantas berorasi selama beberapa menit yang isinya merupakan imbauan untuk melakukan kudeta guna merestorasi kekuasaan Kaisar. Orasi tersebut tak mendapat sambutan kecuali cemooh dan ejekan. Mishima lalu kembali ke kantor sang komandan dan melakukan seppuku (ritual bunuh diri dengan cara merobek perut dengan pedang samurai) yang sebelumnya diawali pembacaan jisei (puisi kematian).

Ritual berdarah tersebut diselesaikan oleh Hiroyasu Koga, salah seorang dari keempat anggota Tatenokai, yang bertindak sebagai kaishakunin (orang yang ditugaskan pelaku seppuku untuk memenggal kepalanya saat sang pelaku dalam keadaan sekarat).

Konon Mishima memang sudah lama mengangan-angankan kematiannya ini. Kepada beberapa kawannya, Mishima kerap mengatakan keinginannya untuk mati muda. Ia bahkan telah mengatur dan merencanakan jalan kematiannya ini dengan sangat detil. Sesaat sebelum kematiannya, Mishima menulis kepada teman-teman terdekatnya tentang kekosongan yang ia rasakan setelah mencurahkan semua perasaan dan pikirannya mengenai kehidupan dan dunia dalam tetralogi Sea of Fertility, dan bahwa ia akan mati setelah menyelesaikan halaman akhir novel terakhir dari tetralogi tersebut.

Kepada Donald Keene Mishima mengatakan, “Judul Sea of Fertility (Laut Kesuburan) dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa sebutan ‘laut’*) bagi daerah gersang di permukaan bulan telah memberikan gambaran yang salah. Atau boleh dibilang bahwa sebutan itu diletakkan di atas gambaran nihilisme kosmik tentang laut yang subur.”

Penulis : Octaviana Dina

dimuat pertama kali dalam http://www.penulislepas.com, Sept 2009 & dimuat kembali dalam http://www.zona-buku.com, 9 Jan 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s