BAYANGAN KASMARAN

Shadow

Aku pernah hidup sebagaimana orang-orang lain hidup. Tak ada yang ganjil. Hingga pada suatu hari, cinta membuatku memilih. Aku memilih menjadi bayangan.

Aku berjumpa dengannya di sebuah perusahaan. Pertama menatapnya, hatiku bergetar aneh. Getar ganjil yang belum pernah kurasakan. Telah banyak aku berjumpa dengan perempuan-perempuan yang menarik minatku, tetapi tak pernah kurasakan getaran yang demikian. Hari itu, semalaman aku gelisah. Benakku penuh oleh bayangan raut wajahnya.
Elnara namanya. Nama yang indah. Aku ingin selalu menyebut nama itu setiap saat. Akan tetapi, jabatannya dalam perusahaan mengharuskan aku, sesuai dengan tata krama yang berlaku, menyapanya dengan sebutan formal: Bu Elnara. Ia menjabat manajer akunting. Kemampuan dan pengalamannya di bidang tersebut jelas berada di atasku. Juga usianya. Aku delapan tahun lebih muda. Saat aku diterima bekerja di bagian akunting perusahaan itu, usianya –aku diam-diam membaca biodatanya- sudah tigapuluh empat tahun. Apa boleh buat, aku tak bisa sembarang mengucapkan nama itu. Hanya jika aku sedang sendirian, kubisikkan nama itu kepada diriku sendiri. Mengejanya dengan perlahan, mendesahkan keindahannya.
Hari demi hari aku kian terperangkap perasaan kasmaran padanya. Tetapi, perbedaan posisi dan usia memaksaku menyembunyikan perasaan. Aku dididik orangtuaku untuk bersikap santun dan hormat kepada mereka yang lebih senior, baik dalam segi usia, pengalaman, atau kedudukan. Aku tak bisa lancang, meski setengah mati mencintainya. Kadang ingin aku berterus terang mengatakan perasaan cintaku. Kupikir, atas nama cinta, apalah arti perbedaan usia dan jabatan di jaman sekarang. Namun keinginan itu selalu rontok saat aku berhadapan dengannya. Sesuatu dalam diriku selalu mencegahku. Sesuatu dalam diriku membuatku memperlakukan ia dengan hormat, sesuai dengan rentang perbedaan usia dan jabatan di antara kami, sesuai dengan nilai tata krama yang tertanam sejak aku kecil.
Elnara terlibat cinta dengan salah satu manajer di departemen lain di perusahaan kami. Orang itu tampan, menarik dan brilian; kabarnya sedang dipromosikan naik jabatan ke level senior. Sangat populer di kalangan pegawai wanita, reputasinya sebagai playboy sudah lama harum.
“Dia memang hebat. Perempuan intelek macam Bu Elnara dibuat tak berkutik,” bisik Sari, rekanku, suatu ketika saat kami makan siang. “Kau tahu, walau ia bolak-balik main mata dengan perempuan lain, Bu Elnara tetap bertekuk lutut. Mereka menjalin cinta putus-sambung selama delapan tahun,” lanjutnya.
“Aku pernah melihat Bu Elnara menangis diam-diam. Pasti gara-gara dia. Mestinya Bu Elnara jangan mengalah terus. Cari pacar baru, biar tahu rasa si playboy itu,” tambah rekan itu lagi. Aku tak berkomentar. Kusimpan rapat semua perasaanku.
Akhirnya, kusaksikan sendiri kekasih Elnara merangkul mesra wanita lain di sebuah plaza. Hatiku mendidih. Rasanya, ingin kutinju wajah lelaki keparat itu. Kejadian itu tak hanya sekali; rupanya ia punya banyak koleksi wanita. Kupergoki beberapa kali ia tengah berduaan dengan perempuan yang berlainan. Sari benar, Elnara tak layak mempertahankan cintanya. Lelaki itu terlalu liar bagi perempuan seanggun dan sebaik dirinya. Tetapi, aku tak bisa berbuat apa-apa. Elnara kelewat mencintai lelaki brengsek itu.

Kulihat Elnara menelpon seseorang. Pasti lelaki itu. Lantas, lagi-lagi aku memergokinya keluar dari toilet dengan mata kemerahan dan wajah sendu. Seperti biasa, ia bersikap seolah tak terjadi apa-apa dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Malam ini kami lembur.
“Selamat malam, Johan.”
“Selamat malam, Bu. Hati-hati di jalan.” Kubukakan pintu mobilnya. Pelataran parkir sudah sepi, hanya tersisa segelintir mobil. Aku mencintaimu, bisikku dalam hati.
“Terimakasih. Kau juga hati-hati.”
“Ya, Bu,” sahutku seraya menutupkan pintu. Kuawasi dirinya mengenakan sabuk pengaman. Aku sangat mencintaimu, bisikku lagi, masih dalam hati. Kutunggu hingga ia menyalakan mesin. Ia tersenyum sekilas, melambaikan tangan lalu melesat pergi. “Aku mencintaimu, Elnara,” ujarku sendirian di pelataran parkir yang sepi.
Aku menghidupkan mesin. Kuarahkan mobilku menguntitnya diam-diam. Hampir selalu kulakukan: membayang-bayangi tanpa sepengetahuannya. Aku ingin memastikan ia selamat tiba di tempat tujuan. Terbayang wajahnya yang belakangan ini makin muram. Si keparat itu pasti menyakitinya lagi.
“Elnara, kenapa bodoh sekali membiarkan hatimu terus dilukai?” desahku. Aku menurunkan kecepatan. Sedan bercat perak itu membelok, memasuki kompleks apartemen. Aku tahu, ia tinggal sendirian di apartemen 1507. Pasti kekasihnya yang brengsek itu amat leluasa mendatanginya. Apa yang mereka lakukan jika…ah! Sudahlah! Hatiku terbakar. Kutancap gas, mobilku melesat kencang membelah malam.

Jam delapan. Kantor telah lengang. Terkecuali ruang kerjanya, hampir seluruh penerangan di lantai duapuluhdua sudah dipadamkan. Elnara mematung di depan jendela. Mata indahnya menerawang, menembus lautan cahaya lampu yang menyelubungi kota, menatap entah apa di kejauhan. Ini hari terakhir ia bekerja di sini. Sejumlah bingkisan kenang-kenangan dari para atasan, rekan sejawat, dan anak buah tersusun di atas meja. Aku tahu, ia merasa berat meninggalkan tempat yang bertahun-tahun menjadi pusat kehidupannya. Tempatnya meniti karir hingga ke posisinya sekarang. Menurutku keputusannya untuk pergi sudah tepat. Terlalu banyak kenangan pahit di sini. Lukanya sulit sembuh jika ia tetap bertahan. Aku ingin ia segera terbebas dari kepedihan. Elnara, kenapa bisa begitu dalam kau mencintai keparat itu? keluhku dalam hati.
Ia masih mematung di situ. Kubiarkan ia begitu. Aku akan sabar menungguinya. Sejak berhenti dari perusahaan ini aku benar-benar bebas; tak lagi terikat ruang dan waktu. Dengan leluasa aku membuntuti perempuan pujaanku itu ke mana pun; kapan pun kumau. Tentu saja tanpa diketahuinya. Aku bahkan bisa menyusup hingga ke ruang-ruang pribadi. Diam-diam dan tanpa suara. Dalam senyap aku mengawasi sampai ia terlelap. Kubisikkan kata-kata lirih yang sama tiap malam. Kata-kata yang selalu kuucapkan sendirian: “Elnara, aku mencintaimu…” Aku menjaganya dalam sunyi hingga ia terbangun.
Kuputuskan untuk menghabiskan waktu. Kubiarkan kakiku membawaku pergi. Pintu lift terbuka. Aku masuk. Lift bergerak turun. Lantai duapuluh satu, duapuluh, sembilanbelas. Pintu terbuka, dua perempuan muda melangkah masuk. Ternyata Sari, bekas rekan sekerjaku, dan Like, pegawai departemen Marketing. Mereka asyik mengobrol hingga tak mengendus keberadaanku.
“Apa benar bos-mu keluar karena patah hati?” tanya Like.
“Entahlah, Bu Elnara tak pernah membicarakan masalah pribadinya,” jawab Sari dengan suara renyahnya.
“Kurasa dia patah hati. Bayangkan, delapan tahun pacaran lalu berakhir secara menyakitkan begitu,” lanjut Like lagi.
“Huh! Lelaki itu memang keparat! Kalau aku jadi Bu Elnara, pasti bakal kubuat perhitungan. Akan kusiram mobil mahal kebanggaannya dengan cat. Biar tahu rasa!” geram Sari.
“Kau ingat Johan kan? Dulu ia menabrak mobil playboy tengik itu hingga ringsek.”
“Ya. Kasihan Johan,” ujar Like dengan nada prihatin; membuatku sedikit tersentuh.
“Tragis memang. Tapi, rasanya ada yang aneh. Ssst, kurasa Johan sengaja berbuat itu,” bisik Sari. Mata Like membesar, “Astaga, maksudmu bunuh diri?” tanyanya.
“Bukan. Begini, sudah lama aku tahu Johan diam-diam mencintai Bu Elnara. Kurasa Johan hanya berniat memberi pelajaran. Ia pernah mengatakan beberapa kali memergoki lelaki brengsek itu menggandeng perempuan lain. Sayang, Johan bernasib malang dalam insiden itu,” ungkap Sari.
“Bagaimana kau tahu?” sambar Like penasaran.
“Johan memang pendiam dan tertutup. Tapi aku sering menangkap basah ia diam-diam memandangi Bu Elnara. Sorot matanya penuh cinta…”
Aku menyeringai. Aih, Sari, Sari! Selalu saja tahu banyak hal. Sorot mata penuh cinta! Bisa saja dia, batinku geli. Mendadak pikiran jahilku muncul. Akan kutunjukkan sorot mata penuh cinta itu. Aku mendekat, bayangan wajahku yang pucat memantul di pintu lift yang berkilat. Kutatap mereka dengan pandangan melankolis penuh cinta. Sekian detik sebelum lift menyentuh lantai dasar. Kulihat Sari dan Like terkesiap. Mata mereka membeliak. Aku tak sabar menanti kehebohan yang akan segera terjadi.
“Lihat itu, bayangan di pintu…itu… itu kan…itu kan…” desis Like terputus. Mukanya menegang ketakutan. Sari tak menjawab, matanya tak berkedip menatap bayangan wajah di pintu lift. Rasa takut juga melandanya.
“Itu mirip wajah Jo.. Johan kan?” bisik Like dengan suara gemetar seperti hendak menangis. Tubuh Sari dan Like serentak mundur. Keduanya saling merapat. Ting! Pintu lift membuka. Lantai dasar. Kosong dan sunyi.
“Haantuuu!!!”
“Setaaaaannn!!!”
Jeritan itu membahana saat keduanya lari menghambur ke luar lift. Aku meringis-ringis sendirian, merasa geli sekaligus bersalah karena telah menakuti mereka. Ah, terlalu kalian ini! Aku bukan hantu, apalagi setan, gerutuku. Aku hanyalah bayangan. Bayangan kasmaran yang gelisah dirundung cinta dan merana dibelit asmara tak berbalas. Bayangan yang setia membayangi perempuan pujaanku. Setiap hari, dari siang ke siang, dari malam ke malam.
Aku, bayangan yang kesepian memendam cinta sendirian.

Penulis : Octaviana Dina
dimuat dalam Majalah SriArum nomor 10 edisi 1-15 Agustus 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s