PENYIHIR IKAN

Penyihir Ikan

Hasan mengisap rokok kreteknya dalam-dalam. Matanya mengarungi riak-riak ombak Selat Malaka yang terhampar di depannya, lalu dengan muram berlabuh pada perahu-perahu yang tengah melaut di kejauhan. Sinar lampu-lampu petromaks yang terpasang di perahu-perahu itu menerangi kegelapan, bak kunang-kunang melayang di atas permukaan laut. Galau hati lelaki bertubuh kurus itu kian menjadi. Rengekan anak sulungnya yang minta dibelikan tas sekolah terus terngiang-ngiang; membuat perasaannya tertikam.

Hasan tak tahu harus berhutang ke mana lagi kali ini. Tak mungkin ia datang pada Pak Abu untuk memohon belas kasihan. Hutangnya pada lelaki berambut putih itu sudah bertumpuk.

“Bagaimana kau ini, Hasan. Hutangmu yang dulu-dulu saja belum kau lunasi, masakan sekarang kau mau berhutang lagi?” tukas Pak Abu dengan wajah masam ketika ia menemui lelaki itu.

Hasan menghela nafas. Hatinya sesak. Hidupnya sebagai nelayan dirasakan makin bertambah susah saja. Sudah dua tahun belakangan ikan kurau yang menjadi andalan hidupnya kian sulit didapat. Ikan itu sejak lama merupakan berkah bagi nelayan-nelayan Bengkalis. Harganya yang tinggi membuat para nelayan seperti dirinya hidup cukup. Untuk seekor ikan seberat sepuluh kilogram, ia bisa menerima limaratus ribu rupiah. Tak heran bila penduduk desanya yang hampir semuanya nelayan bisa memiliki sepeda motor. Biasanya, para nelayan menjualnya ke saudagar besar dari Pekanbaru, yang lantas menjualnya lagi dengan harga berlipat ke pedagang Singapura atau Hongkong. Kabarnya, di sana ikan itu sangat digemari karena kelembutan dagingnya. Harganya melangit jika sudah diolah menjadi makanan.

Tapi itu dulu. Kini keadaan sudah berbalik. Keberuntungan tak lagi berada dekat di pihak mereka semenjak kehadiran nelayan-nelayan pemburu kurau. Kebanyakan mereka adalah orang-orang bayaran pedagang besar dari Pekanbaru dan Singapura. Perahu-perahu mereka semuanya lebih besar dan lebih cepat. Mereka menggunakan jaring batu, bukan rawai seperti yang biasa dipakai para nelayan tradisional seperti dirinya. Jaring itu ditebar hingga berkilometer jauhnya. Sekali tarik, jaring dengan pemberat itu bukan saja sanggup meraup hingga duaratus ikan kurau, namun juga membuat rusak terumbu-terumbu karang yang dilanggarnya. Kini jangankan kurau, ikan jenis lain yang lebih kecil pun sulit ditemui.

Mungkin ikan-ikan itu telah beralih ke lain tempat, pikir Hasan risau. Itu artinya ia harus lebih jauh lagi berlayar. Lebih jauh berarti lebih banyak solar untuk perahunya. Hati Hasan meratap-ratap. Sampai kapan aku harus begini? keluhnya merana. Ditatapnya perahu-perahu pemburu kurau itu dengan putus asa. Meskipun amarahnya telah lama memuncak, Hasan tak bisa berbuat apa-apa. Para pemburu kurau itu bukan nelayan biasa yang gampang digertak.

“Bisa apa kita, San. Nelayan miskin macam kita manalah mampu melawan mereka itu. Kau kan tahu mereka itu bekerja untuk siapa,” tukas Rasidin pada suatu hari saat Hasan membisikkan niatnya untuk membuat perhitungan pada pemburu kurau yang dengan pongah menggerus ketenteraman hidup mereka.

“Tapi, Din, masakan kita berpangku tangan saja? Lihat lagak mereka itu! Seenaknya mengusir nelayan rawai macam kita. Hah! Memangnya laut ini milik mereka?” balas Hasan sengit.

“Sudahlah, San. Tak usah kita mencari ribut. Mereka itu orang-orang garang, San. Tak segan mencelakai siapa pun yang berani melawan. Si Rusli itu contohnya….”

Mendengar nama Rusli disebut, Hasan sontak terdiam. Rasa bersalah datang kembali menudingnya. Membuat hatinya gelisah. Sudah tiga bulan lebih Rusli menghilang. Perahunya ditemukan terombang-ambing di tengah laut dalam keadaan kosong. Berhari-hari orang-orang mencarinya. Menyusuri gelombang, mengikuti arus, menyelami kedalaman laut. Namun Rusli bagaikan asap diterkam angin. Lenyap tak berbekas, raib tanpa jejak. Memasuki hari kelimabelas orang-orang menyerah, lantas mengadakan tahlilan. Mereka menganggapnya telah mati. Sebagian yakin Rusli mati tenggelam.

“Tak mungkin. Si Rusli itu pandai benar berenang,” sanggah nelayan bernama Sanip.

“Bisa saja, Nip. Jika si Rusli tercebur ke laut dalam keadaan pingsan, ia pasti mati tenggelam,” sahut salah satu tetua kampung yang biasa dipanggil Pak Haji.

“Pingsan?”

“Ya. Mungkin saja si Rusli terpeleset. Kepalanya membentur bagian perahunya dengan keras. Ia pingsan, jatuh ke laut, lalu tenggelam.”

“Tapi mengapa jasadnya tak kunjung ditemukan? Jangan-jangan ia dimangsa ikan buas,” tukas yang lain.

Semua lantas sibuk membicarakan kemungkinan-kemungkinan itu. Hanya Rasidin yang punya pendapat berbeda. “Aku yakin si Rusli berselisih dengan pemburu-pemburu kurau itu. Mungkin kali ini ia tak tahan lagi dengan mereka. Bisa jadi pemburu-pemburu itu menghabisinya, lalu membuang jasadnya di tempat jauh,” bisik Rasidin pada Hasan. Hasan menelan ludah. Jauh dalam hatinya ia sependapat dengan Rasidin. Ia gundah lantaran merasa besalah; secara tak langsung dirinya punya andil dalam peristiwa itu. Suatu hari Rusli mengungkapkan rasa geramnya terhadap pemburu-pemburu kurau. Rawai miliknya sudah ke sekian kalinya rusak karena ulah mereka. Saat Rusli bertanya tentang apa yang seharusnya diperbuat, Hasan menganjurkannya untuk melawan agar pemburu-pemburu kurau itu tidak lagi berbuat sewenang-wenang. Seandainya saja aku tak membisikinya untuk melawan, sesal Hasan berkepanjangan.

Angin malam berembus kencang. Menyibak-nyibak rambut Hasan yang termenung dalam perahunya yang teronggok di pantai. Sudah seminggu lebih ia tak melaut. Jangankan membeli solar, untuk makan sehari-hari saja ia pusing tujuh keliling. Hasan menghela nafas dengan berat. Kenangan tentang Rusli membuat hatinya kian susah. “Ya, Allah, tolonglah hambaMu ini,” ratapnya pedih. Ia menangkupkan telapak tangannya ke wajah, lalu mulai terisak-isak. Suaranya timbul tenggelam di antara desau angin dan gelombang.

***

“Kaukah itu Rusli? Astaga! Rusli!” seru Hasan terperanjat tatkala akhirnya ia mengenali sosok yang duduk mencangkung di pantai menjelang dinihari.

Sosok itu menoleh padanya, lantas bangkit berdiri. Hasan menghambur ke arahnya. “Ya, Tuhan! Kau benar-benar Rusli! Kemana saja kau selama ini! Kau baik-baik saja, Rus? Kenapa kau tak mengabari kami? Kami kira kau sudah mati, Rus!”serbu Hasan bertubi-tubi sambil mengguncang-guncang tubuh di hadapannya. Tatapan matanya liar meneliti setiap jengkal tubuh itu. Tak ada yang kurang; lelaki itu benar-benar Rusli yang kekar berotot. Hasan lega tak terkira. Rusli masih hidup! soraknya dalam hati.

“Kemana saja kau selama ini, Rus? Berhari-hari kami mencarimu. Kenapa kau tinggalkan perahumu begitu saja di laut? Kami bahkan sudah mengadakan tahlilan untukmu, Rus. Kami kira kau mati tenggelam. Rasidin malah yakin benar kau dihabisi oleh pemburu-pemburu kurau,” cecar Hasan; tak sabar untuk segera mendengar jawaban Rusli.

Rusli tertawa tanpa suara. “Hari itu aku memang ribut dengan pemburu-pemburu itu. Mereka merusak rawai milikku lagi. Aku nekat loncat ke salah satu perahu mereka, lalu berkelahi. Mereka memang harus dilawan. Laut bukan milik mereka. Mereka tak boleh dibiarkan seenaknya merampoki ikan dan merusak terumbu-terumbu karang,” sahut lelaki itu.

“Apakah mereka melukaimu, Rus?”

“Yah, jumlah mereka memang banyak. Aku kalah. Seseorang memukul kepalaku keras sekali. Aku tak ingat apa-apa lagi setelahnya. Tahu-tahu aku terbangun di suatu tempat yang asing…”

“Tempat apa? Di mana? Jadi selama ini kau di sana? Mengapa sampai begitu lama?” kejar Hasan penasaran. Rusli memutar tubuhnya menghadap ke laut. Matanya menancap pada ombak yang bergantian menubruk pantai.

“Maaf, San. Aku tak bisa mengatakannya. Kau takkan bisa mengerti. Yang jelas, aku memulai hidup baru di sana. Aku bukan lagi Rusli yang dulu,” tuturnya. Kening Hasan berkerut. Ucapan Rusli memenuhi benaknya tanpa bisa ia pahami.

“Sudahlah, San. Tak usah kau pikirkan benar kata-kataku barusan,” sambungnya sambil tersenyum. Ditepuk-tepuknya bahu Hasan. “Aku datang untuk menolongmu, San. Aku akan memanggil ikan-ikan kurau untukmu.”

Lagi-lagi Hasan tak mengerti. Memanggil ikan kurau? Apa ikan punya telinga? Aih, makin sulit saja ucapan si Rusli ini dipahami, pikirnya.

“Apa sih yang kau maksud, Rus?” tanya Hasan bingung.

Rusli kembali tertawa tanpa suara. “Mari ikuti aku,” ajaknya seraya melangkah menuju laut. Hasan ragu, namun kakinya lebih dulu beranjak mengikuti lelaki itu. Rusli terus maju ke tengah. Air laut melewati pinggangnya. Hasan tersok-seok menyusul.

“Rus!” panggilnya. Rusli menghentikan langkah. “Berhentilah di situ. Jangan bersuara dan jangan bergerak,” perintah Rusli. Hasan menurut meski tanda tanya mengerubuti benaknya.

Rusli tegak mematung, sama sekali tak goyah diterpa gelombang. Sementara berupaya menyeimbangkan dirinya yang kian oleng oleh ombak, telinga Hasan menangkap suara dengungan. Lamat-lamat, lalu makin kuat. Hasan menoleh ke sana kemari mencari sumbernya. Belum lagi ia menemukannya, sesuatu membuat kedua matanya terbelalak. Ada cahaya yang merebak dari laut di sekeliling tubuh Rusli. Seperti lampu neon bersinar di dalam laut. Cahaya itu kian terang dan besar. Membentuk lingkaran besar dengan tubuh Rusli sebagai pusatnya. Hasan gemetar. Rasa takut menjalari hatinya; mulutnya terkunci dan kakinya bagai membatu.

Rusli masih mematung. Dengan gentar Hasan menatap cahaya terang itu. Mendadak mulutnya ternganga. Ikan-ikan kurau! Banyak sekali! Ikan-ikan itu menyerbu ke dalam lingkaran cahaya. Berenang mengitari tubuh Rusli.

“Lihat, Hasan! Aku memanggil ikan-ikan ini datang!” seru lelaki itu senang. Ia bergerak ke sana ke mari sambil tertawa riang. Ikan-ikan itu terus mengikuti dan mengitarinya.

“Aku akan menyihir ikan-ikan ini pergi menjauh bersamaku bila pemburu-pemburu itu melaut, Hasan!” serunya lagi. Rusli menarik kedua tangannya dari dalam air, seekor ikan kurau berukuran besar ditangkapnya. Ikan itu sama sekali tak meronta. “Ini, ambillah!” Dilemparnya ikan itu pada Hasan. Tergagap-gagap Hasan menyambutnya, kemudian terseok-seok naik ke pantai untuk meletakkan ikan itu. Rusli tertawa-tawa. Ditangkapnya seekor lagi, lalu dilemparkan pada Hasan. Berulang-ulang.

“Ah, cukuplah kali ini. Lihat, nafasmu sudah nyaris putus, Hasan. Harusnya tadi kau bawa keranjang,” ujarnya. “Nah, kau pulanglah. Aku harus kembali sekarang.”

Sebelum Hasan sempat membuka mulut, lelaki bertubuh kekar itu telah membenamkan dirinya dalam gelombang.

“Hei! Tunggu, Rusli! Aku masih ingin bicara denganmu!” teriak Hasan mencegah. Ia berlari ke tengah laut, mengejar pendaran cahaya yang berangsur menjauh. Rusli dalam cahaya itu.

“Rusli! Tunggu aku! Rusli!” jerit Hasan.

Cahaya itu meredup, lalu lenyap dalam laut yang gelap. Rusli, sekali lagi, sirna tak berjejak. Menghilang tanpa pesan setelah menyihir ikan-ikan kurau datang padanya.

“Rusliiiiii!!!”

***

Mata Hasan membuka; nanar menatap cahaya kemerahan yang menyeruak di cakrawala biru di atas sana. Seketika mata itu meliar saat bayangan wajah Rusli datang menyambar ingatannya. Rusli! Di mana dia! Mengapa ia bisa memanggil ikan kurau sebanyak itu! benaknya bergemuruh. Perlahan kecamuk dalam pikiran Hasan mereda segera kesadarannya kembali. Aih, rupanya aku tertidur dalam perahu. dan memimpikan si Rusli. Cuma mimpi. Mana ada manusia yang bisa menyihir ikan seperti itu. Atau, jangan-jangan memang si Rusli sudah mati dan hantunyalah yang menemuiku semalam, pikirnya. Rasa bersalah bercampur takut merayapi hatinya. Maafkan aku Rusli, sesalnya berkepanjangan.

Sesuatu yang dingin dan licin menyentuh kulitnya. Hasan bangkit. Ia nyaris menjerit. Sepuluh ikan kurau berukuran besar bergeletakan di kakinya.

“Ya, Allah….Ya, Allah,” desisnya dengan suara tercekat. Matanya membeliak. Tubuhnya menggigil. Lalu semuanya gelap.

Penulis : Octaviana Dina

Dimuat dalam Jurnal Nasional, edisi 15 Maret 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s