PENULIS PEMULA, HARAPAN SELALU ADA

writing3Beberapa tahun lalu, dalam sebuah artikel pada majalah yang khusus mengupas soal dunia penulisan dan perbukuan (saat ini majalah tersebut sudah almarhum) dikisahkan ihwal seorang penulis pemula yang frustasi akibat ratusan cerpen karyanya yang secara berkala ia kirimkan pada sebuah suratkabar terkemuka selalu saja ditolak. Penulis itu lantas mengirimkan lagi cerpennya namun kali ini disertai ancaman, bahwa ia akan bunuh diri jika cerpen itu tak dimuat. Ternyata cerpennya itu tetap saja ditolak. Lantas apakah penulis pemula itu bunuh diri? Tidak. Penulis itu memilih bertahan dan tidak menyerah pada penolakan. Ibarat pepatah Dukacita Mendahului Kemenangan, kegigihan penulis pemula itu tidak sia-sia. Kini ia telah menjadi salah satu cerpenis kenamaan di negeri ini.

Menjadi penulis, apalagi penulis pemula, memang tidak mudah. Malah bisa dibilang berat, khususnya di Indonesia. Jika kita penulis cerpen, misalnya, maka selera redaktur sastra sangat menentukan apakah cerpen kita laik untuk dimuat atau tidak dalam media yang digawanginya.  Katrin Bandel, doktor dalam bidang sastra Indonesia dari Universitas Hambrug,  Jerman, mengatakan dalam esainya yang berjudul Sastra Koran di Indonesia bahwa para redaktur halaman sastra pada koran-koran Minggu mempunyai kebebasan penuh untuk menerbitkan karya sesuai dengan selera atau keinginan mereka. Namun di sisi lain, kriteria mereka dalam memilih karya sama sekali tak dapat dipahami orang luar. Jadi, penulis yang karyanya ditolak paling hanya bisa termangu-mangu membaca surat penolakan redaktur (itu pun kalau ada) yang berisi kalimat ‘tidak sesuai dengan kriteria X’ (nama koran) karena tidak pernah diberitahu seperti apa kriteria yang diinginkan redaktur. Di sisi lain, ruang khusus untuk cerpen yang disediakan media cetak seperti suratkabar, tabloid atau majalah biasanya hanya diadakan seminggu sekali, atau dua minggu sekali, atau bahkan sebulan sekali (biasanya pada majalah yang terbit bulanan). Sedihnya, tak semua media cetak menyediakan tempat untuk cerpen. Mungkin karena membayar honor penulis cerpen dianggap memberatkan keuangan, atau juga karena anggapan cerpen tak memiliki nilai penting dibanding berita aktual.

Sementara itu bagi penulis buku, tantangan yang dihadapi juga sama beratnya. Berbeda dengan negara-negara lain, khususnya Barat, kita tidak mengenal sistem agen yang berperan sebagai penghubung antara penulis dan penerbit. Di Amerika Serikat misalnya, penulis biasanya memilih sendiri agennya. Penulis menyerahkan karyanya pada agen, dan selanjutnya pihak agenlah yang akan memasarkannya pada penerbit. Sementara di sini, penulislah yang menawar-nawarkan karyanya pada penerbit (mungkin hal ini tak berlaku pada penulis yang sudah memiliki nama besar). Seandainya pun naskah si penulis diterima, biasanya penulis masih harus menunggu sekian lama-bahkan bisa hingga tahunan- sampai naskahnya diterbitkan. Hal ini disebabkan penerbit-penerbit mapan, apalagi yang terkemuka,  umumnya memiliki antrian naskah yang akan dicetak hingga setahun ke depan. Terkecuali jika naskah yang ditawarkan penulis mengulas topik atau tema yang ngetren alias sedang digandrungi masyarakat, atau si penulisnya adalah penulis yang tengah kondang, maka bisa dipastikan naskahnya tak perlu menunggu terlalu lama untuk diterbitkan.

Namun demikian, untunglah saat ini sudah mulai bermunculan penerbit-penerbit independen yang menerapkan sistem POD (Print On Demand) alias cetak sesuai permintaan. Sistem POD memungkinkan siapa pun, entah penulis yang sudah punya nama atau penulis pemula, menerbitkan karya-karya mereka. Sebab penerbit yang menganut sistem POD akan mencetak berapa pun jumlah buku yang diinginkan si penulis. Dalam hal ini penulis akan membayar ongkos cetak sesuai dengan jumlah buku yang dikehendakinya. Bandingkan dengan penerbit-penerbit besar yang umumnya mematok jumlah cetak minimal 1000-2000 buku. Jika ongkos cetak per bukunya Rp. 30.000,- berarti penulis harus merogoh kocek minimal Rp. 30 juta rupiah!

Kualitas buku dengan sistem POD tak kalah dengan terbitan penerbit-penerbit besar. Sejumlah penerbit bersistem POD menggunakan kertas bermutu baik dan tetap melakukan proses penyuntingan atau editing terhadap isi naskah. Buku juga dilengkapi dengan ISBN (International Serial Book Number). Keberadaan ISBN ini sangat penting bagi eksistensi penulis sebab hanya buku ber-ISBN yang akan didata oleh Perpustakaan Nasional dan dimasukkan dalam jaringannya secara internasional. Dengan begitu identitas buku (termasuk judul dan nama pengarang) dapat diakses dari negara mana pun karena telah berada dalam satu jaringan. Lantas bagaimana dengan royalti? Sejumlah penerbit bersistem POD tetap memberikan royalti pada penulis sebab mereka memasarkan buku karya si penulis melalui jaringan mereka. Dan tentunya akan lebih baik lagi jika penulis juga ikut membantu memasarkan karyanya itu, minimal kepada lingkungan terdekatnya: teman-teman, relasi, dan sebagainya.

Jadi, bagi penulis pemula, teruslah berkarya dan jangan mudah putus asa sebab harapan itu selalu ada.

Penulis : Octaviana Dina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s