MANFAAT KAMUS BAGI PENULIS

kamus2“Hutan terbangun dari nidera. Halimun menghirap dalam sinau mentari. Seekor kekah mengerising menatap sambang yang tergantung sendirian pada lengan petaling. Dari kejauhan, terdengar nyanyian silampukau…”

Sebagian kata-kata dalam paragraf di atas barangkali tak kita pahami artinya. Kata-kata tersebut memang jarang digunakan dalam bahasa yang umumnya kita pakai sehari-hari. Namun jika kita sering membuka-buka kamus, pasti kita kata-kata tersebut tak asing.

Bagi kaum penulis, kamus merupakan buku yang penting. Setidaknya, penulis harus sering-sering menelusuri dan membaca kamus. Mengapa? Sebab kamus adalah markas besar kata-kata. Segenap kata-kata yang diketahui dan diakui dalam khazanah suatu bahasa berhimpun dan berdomisili di dalam kamus. Tentu saja, kamus yang dibicarakan di sini adalah kamus yang lengkap seperti misalnya Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terbitan Balai Pustaka. Sementara, kata-kata adalah senjata kaum penulis. Ide sehebat apa pun atau inspirasi sebesar apa pun tak akan punya arti tanpa kehadiran kata-kata. Tanpa kata-kata, ide atau inspirasi tak ubah bak bayangan gelap yang menghantui benak. Hanya mengganggu, tanpa manfaat. Ide maupun inspirasi harus dipintal menjadi kata-kata, dijalin ke dalam kalimat, lalu ditenun menjadi lembaran pesan yang disampaikan kepada pembaca.

Memang,  kamus lengkap seperti KBBI itu harganya tergolong mahal. Tak semua penulis mampu membelinya. Namun hal itu tidak perlu menjadi kendala. Toh kita bisa membacanya di perpustakaan. Atau, jika kita berniat memilikinya tapi dengan dana terbatas, kita mungkin bisa mencarinya dan memperolehnya dengan harga miring di tempat penjualan buku seken.

Bagi saya, membaca kamus tak ubahnya laksana menjelajahi kebun raya kata-kata di mana saya kerap dibuat berhenti sejenak untuk takjub menikmati setiap kata yang baru pertama kali saya temui. Ada beragam kata-kata yang eksotis, yang terdengar begitu puitis saat dilafalkan. Kata-kata yang indah untuk dirangkai jadi puisi. Barangkali, para penyair adalah orang-orang yang paling rajin menimba kata-kata dari dalam kamus. Ada berlaksa kata-kata yang menyampaikan pencerahan, yang memperluas cakrawala wawasan pengetahuan.

Membaca kamus membantu penulis menjadi kreatif. Alih-alih menuliskan “Pohon cemara itu meliuk-liuk ke kiri dan ke kanan ditiup angin”, kita bisa menulisnya menjadi “Pohon cemara itu melayah ditiup angin”. Seorang penulis sudah selayaknya senantiasa memperkaya kosa katanya agar ia tidak menjadi penulis yang miskin dalam variasi bahasa. Membaca kamus akan menolong penulis menjadi kaya dalam perbendaharaan kata.

Kekuatan seorang penulis terletak pada kata-katanya. Kata-kata yang dipilih dengan seksama dan dirangkai dengan cermat akan menghasilkan kekuatan tak terduga. Seorang penulis dituntut untuk selalu memikirkan pilihan kata-katanya. Penulis harus mencari dan menggunakan kata-kata yang bertenaga agar tulisannya menjadi kuat dan meninggalkan kesan mendalam bagi pembaca. Ia juga harus berusaha sejauh mungkin menghindari kata-kata atau frasa atau kalimat usang yang sudah terlalu banyak dipakai orang sehingga tak lagi menarik perhatian.

Kamus menyediakan begitu banyak kata untuk dipilih dan dipergunakan. Namun demikian, penulis juga tidak boleh asal pilih tanpa mengetahui latar belakang kata yang akan dipakainya.  Setiap kata dalam kamus memiliki asal-usulnya (etimologi) sendiri dan sebagian telah mengalami perubahan makna sehingga penulis harus berhati-hati. Sebagai contoh, kata ‘kakek’, ‘aki’, dan ‘opa’ merupakan kata yang lazim dipakai untuk menyebut orangtua laki-laki ayah kita. Namun pada pemakaiannya, kita tak bisa sembarangan. Misalnya, kita membuat cerita di mana ada tokoh kakek yang berasal dari etnis Sunda tengah berbicara dengan cucunya. Pada konteks ini kita tak bisa memakai kata ‘opa’ dalam kalimat ujaran tokoh cucu untuk memanggil sang kakek. Sebab kata ‘opa’ tidak lazim dipakai masyarakat etnis Sunda untuk menyebut kakek. Kata ‘aki’ lah yang seharusnya kita pakai. Contoh lainnya, perhatikan ketiga kalimat di bawah ini.

Perempuan itu tengah mengandung tiga bulan.

Perempuan itu tengah hamil tiga bulan.

Perempuan itu tengah bunting tiga bulan.

Kata ‘mengandung’, ‘hamil’, dan ‘bunting’ adalah kata-kata yang serupa tetapi tak sama. Di antara ketiganya, kata ‘hamil’ adalah yang paling umum dan bermakna denotatif, yakni tak memuat perasaan  tambahan (asosiasi) lain. Kata ‘mengandung’ terasa lebih formal dan sopan, sementara kata ‘bunting’ justru sebaliknya.

Membaca kamus juga membantu mengingatkan penulis untuk bersetia pada ortografi, yaitu aturan  ejaan yang benar. Kita seringkali lupa membubuhkan garis hubung satu (-) pada pengulangan kata seperti ‘centang-perenang’, ‘susul-menyusul’, ‘mondar-mandir’, ‘bintang-bintang’, dan sebagainya. Kita terkadang keliru menuliskan, misalnya, ‘di antara’ menjadi ‘diantara’  , “di mana’ menjadi ‘dimana’, atau ‘di atas’ menjadi ‘diatas’ (tanpa spasi). Kita juga tak jarang ragu-ragu memilih menulis antara, misalnya, ‘mencampuradukkan’ ataukah ‘mencampur adukkan’, antara ‘kasatmata’ ataukah ‘kasat mata’ (dengan spasi), dan seterusnya.  Kamus akan memandu penulis menemukan jalan yang benar.

Kamus memperbesar otoritas penulis atas kata-kata. Timbunan kata-kata dalam kamus membuat penulis leluasa dan berkuasa penuh menentukan kata-kata mana yang hendak digunakannya sejalan dengan pesan yang ingin disampaikan pada publik pembacanya.

Kata-kata yang merimbun dalam kamus melarungkan pesan bagi kaum penulis: “Kami menanti engkau mengangkat kami untuk bicara dan berarti. Kami menunggu engkau memilih, agar tak selamanya kami mendekam dalam diam”.

Penulis : Octaviana Dina

Dimuat dalam Ibu-ibu Doyan Nulis/facebook.com

Satu pemikiran pada “MANFAAT KAMUS BAGI PENULIS

  1. Ada semacam pertentangan dalam diri ketika membeli kamus dari pasar buku loak. Beberapa buku ternyata merupakan bajakan dari buku aslinya. Seperti memadupadankan kebutuhan vs uang. Di satu sisi ada kebutuhan akan wawasan, tapi di sisi lain ada hati yang tidak sreg. ^_^

    Kadang ada penulis yang merasa mereka tidak perlu memakai kata-kata tersebut karena jarang digunakan. Mungkin ini absurd, tapi ada keinginan beberapa penulis dimana artikel atau bukunya bisa dibaca oleh banyak orang tanpa perlu berkernyit dahi. Bagaimana mengatasinya? Mungkin beberapa penulis memilih kata-kata yang lebih populer dan mudah dicerna meski harus ‘terpaksa’ menggunakan bahasa inggris yang ‘diindonesiakan’.
    Jadi, bisa ditemui ada beberapa istilah asing pada artikel atau bukunya (yang kadangkala menurut linguist ditransformasi seenaknya dengan kurang ajar). Karena membaca kosakata Indonesia yang merupakan kata asli Bahasa Indonesia yang bisa digunakan dalam terjemahan mungkin akan mirip dengan membaca buku literatur teknik terbitan ITB yang rumit—saya pernah soalnya. hehehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s