ASET UTAMA PENULIS

BooksSaat penulis memproduksi tulisan, ia sedang memproduksi asetnya. Tulisan-tulisan yang dihasilkan penulis, entah itu novel, cerpen, artikel, puisi, atau lain sebagainya, adalah aset utama penulis. Banyak orang yang senang atau punya kegemaran menulis namun tak tahu harus berbuat apa dengan tulisan-tulisan hasil karyanya. Mereka enggan berbuat sesuatu karena berpikir tulisan karyanya itu tidak cukup baik untuk dibaca orang lain. Alhasil tulisan-tulisan yang seringkali dengan susah payah dibuat hanya mendekam dalam laci atau dalam hard disk komputer.  “Tapi tulisan-tulisan saya selalu ditolak redaktur suratkabar yang saya tuju. Pasti karena jelek. Lantas, apa gunanya disimpan?” Keluhan seperti itu banyak terdengar, terutama dari para penulis pemula. Rasa putus asa semacam itu adalah hal yang wajar

Tahun  2007 lalu sebuah cerpen saya menang dalam lomba cerpen yang diadakan salah satu tabloid. Cerpen itu sesungguhnya adalah cerpen yang saya buat beberapa tahun sebelumnya (dengan judul berbeda) dan sempat ditolak sebuah suratkabar terkenal. Tentu saja saya kecewa dengan penolakan itu karena merasa yakin kisah dalam cerpen tersebut bagus dan sepantasnya dimuat di media massa agar bisa dibaca banyak orang. Saya lantas mencoba jalan lain, yakni dengan menerjemahkannya dalam bahasa Inggris dan mengirimkannya ke sebuah harian berbahasa Inggris. Tak ada kabar berita. Cerpen itu tak kunjung dimuat. Meskipun begitu, saya tetap yakin cerpen saya itu bagus dan suatu saat pasti akan berhasil.  Beberapa kali saya merekonstruksi ulang cerpen itu, namun cerpen tersebut tetap saya simpan dalam komputer. Hingga akhirnya, datang juga kesempatan itu. Dan kesempatan itu adalah peluang yang tepat. Cerpen itu pun menemukan takdirnya. Menang.

`Bagaimana seandainya tak ada kesempatan yang datang? Jangan cepat-cepat putus asa. Toh kita bisa menciptakan peluang. Kirimkan saja tulisan tersebut ke media yang kira-kira sesuai dengan tema atau jenis tulisan. Biarkan tulisan itu menempuh jalannya sendiri. Menuju pada sejumlah kemungkinan di depan sana. Mungkin tulisan kita tepat sasaran hingga lolos seleksi dan lalu dimuat media yang bersangkutan. Mungkin juga tulisan kita gagal di tengah jalan. Tak apa. Kita bisa memperbaikinya: mengedit ulang, membuang bagian yang tak perlu, memperbagus di sana-sini, dan sebagainya. Kirimkan lagi. Mungkin kali ini berhasil. Mungkin juga gagal lagi. Tak perlu terlalu kecewa. Jika kita gagal, itu karena kita mencoba. Jika kita berhasil, itu karena kita memanfaatkan peluang. Begitu kata sebuah pepatah lama. Bagaimana jika tulisan itu terus saja ditolak? Tak apa. Buat saja blog, dan pajang tulisan itu di sana. Setidaknya masih ada kemungkinan bahwa tulisan itu bisa berguna bagi orang yang kebetulan membacanya.

Penulis : Octaviana Dina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s