SEPASANG MATA MIRTA

Apa yang paling kuingat dari temanku Mirta adalah sepasang matanya. Mata yang besar dan selalu bersinar-sinar. Bagiku, mata Mirta mirip dengan kolam jernih yang memantulkan aneka bayangan. Kadang aku melihat bayangan sepeda mini berwarna merah. Kadang aku mendapati bayangan boneka cantik berambut pirang. Lain waktu aku menemukan bayangan gaun biru berenda-renda, atau sepasang sepatu, atau tas sekolah, dan banyak lagi. Bayangan-bayangan itu bergantian berkelebat-kelebat di dalam mata Mirta yang menerawang jauh memandangi langit.

Mirta gemar melamun. Ia senang duduk melamun di bawah pohon flamboyan besar yang tumbuh di tanah pekuburan dekat tempat tinggal kami. Beberapa orang sering memperingatkan Mirta. “Bisa kesurupan kau nanti, tempat itu angker,” nasehat Bu Wati, tetangga kami yang kerap memergokinya duduk melamun di bawah pohon flamboyan di tanah pekuburan. “Nanti kalau kau diculik orang jahat bagaimana? Tempat itu kan sepi sekali,” demikian tegur yang lainnya. Namun Mirta itu keras kepala. Ia tak ambil peduli.

“Aku suka tempat itu. Tenang dan damai. Tidak seperti rumahku. Sumpek, berisik. Kau tahu kan suasana rumahku? Di sini aku merasa bebas,” kilah Mirta ketika itu. Aku melihat bayangan seekor burung sedang terbang berkelebatan dalam matanya. Rumah Mirta memang sumpek dan berisik. Mirta anak ke lima, saudaranya banyak. Ia punya tiga orang adik. Kakaknya yang tertua sudah menikah; anaknya dua. Kakaknya itu berikut istri dan kedua anak mereka masih tinggal serumah dengan Mirta. Mereka sekeluarga hidup berdesakan dalam sepotong rumah kecil dan sempit.

“Aku sebal punya saudara banyak. Aku sebal orangtuaku punya banyak anak. Ayahku cuma pegawai rendahan, mana mampu membiayai delapan anak. Itu sebabnya ayahku juga jadi tukang ojek. Tapi kami tetap saja miskin, meski ibuku ikut cari uang; jualan makanan di pasar. Makan berebut nasi, tidur berebut kasur, apa-apa mesti berebut,” tuturnya lancar. Mirta kerap berbicara bagai orang dewasa, padahal usia kami baru sepuluh tahun waktu itu. Mendengarnya berkata-kata rasanya seperti sedang mendengar percakapan dalam sinetron. Kurasa, ia memang berbakat dalam berkata-kata. Nilainya dalam pelajaran Bahasa Indonesia selalu bagus.

“Kalau kau, kau sih enak,” lanjutnya tiba-tiba membuatku terkejut.
“Aku? Aku kan sama sepertimu, Mir. Ayahku sopir taksi, ibuku tukang jahit. Rumahku juga kecil dan sempit. Kita sama-sama miskin,” kataku.

“Ya, tapi kau kan anak tunggal. Nggak perlu berebut ini-itu dengan saudara. Tidak seperti aku. Baju, sepatu, tas sekolah milikku kebanyakan bekas kakak-kakakku. Padahal aku ingin sekali punya yang baru. Milikku sendiri. Baju-bajuku juga sering dipakai adikku. Tak cukup uang untuk membelikan mereka baju.”

Mata Mirta kembali menerawang jauh. Aku menyaksikan aneka bayangan berkelebatan dalam matanya itu. Baju, tas, sepatu, macam-macam. Aneh, mengapa benda-benda itu bisa muncul dalam mata Mirta? Aku pernah mengawasi mata ayahku yang sedang asyik melamun memandangi langit. Tak ada aneka bayangan seperti yang kulihat pada mata Mirta. Yang ada hanyalah bayangan langit yang biru. Lagipula, bayangan langit itu tidak berkelebat-kelebat. Bayangan itu terus diam dalam mata ayah hingga ayahku beralih pandang ke arah lain.

“Ayah, Ayah melamun ya?” tanyaku kala itu. Aku ingin tahu, jika benar ayah melamun mengapa tidak ada bayangan-bayangan lain yang muncul dalam mata ayah seperti aneka bayangan yang tampak dalam mata Mirta saat ia melamun.

Ayahku menoleh. “Iya, barusan Ayah memang melamun. Kenapa?” tanyanya sambil tersenyum.

“Ayah melamun tentang apa sih?”

“Wah, macam-macam…,” katanya tak segera memberiku jawab yang kumau.

“Apa saja sih, Yah? Ayo, ceritakan dong,” desakku penasaran. Ayahku tertawa kecil sebelum akhirnya menjawab, “Wah, apa saja ya? Oh, Ayah melamun seandainya saja Ayah punya taksi sendiri. Ayah melamun seandainya saja dulu Ayah tidak berhenti kuliah, pasti sekarang Ayah jadi pegawai dan bekerja di kantor. Ayah melamun jika saja Ayah punya uang banyak, Ayah ingin membelikan ibumu mesin jahit listrik. Juga membelikanmu sepatu baru, tas baru, baju baru, mainan baru…” ujarnya seraya mengelus-elus kepalaku.

“Apa Ayah juga melamun tentang langit?”

“Langit? Untuk apa Ayah melamunkan langit?” sahut ayahku dengan nada heran.

Ternyata ayahku tidak melamun tentang langit. Ayah melamun tentang taksi, tentang kerja di kantor, tentang mesin jahit listrik untuk ibuku. Juga tentang sepatu, tas, baju dan mainan baru untukku. Namun justru bayangan langit yang muncul dalam mata ayahku. Kalau begitu memang mata Mirta yang aneh, pikirku.

***

Saat ujian kenaikan kelas makin dekat, Mirta justru sering tidak masuk sekolah. Aku ikut cemas, karena Mirta adalah anak pandai. Sebagai teman akrabnya, aku tak ingin ia tidak lulus esde. Kami pernah berjanji akan terus bersama-sama hingga SMA nanti. Mirta ingin jadi pramugari. Enak bisa naik pesawat gratis dan bisa pergi ke tempat-tempat yang jauh, begitu katanya. Aku sendiri bercita-cita jadi sekretaris dan bekerja di kantor di gedung bertingkat. Seperti Tante Sari, penunpang langganan taksi ayahku. Setiap pagi ayahku menjemput Tante Sari. Ayah bilang, Tante Sari bekerja jadi sekretaris di gedung bertingkat tinggi yang bagus dan besar. Tante Sari pernah menjahitkan baju pada ibuku. Orangnya cantik dan wangi. Bajunya bagus dan sepatunya tinggi. Aku ingin seperti Tante Sari jika besar nanti.

Akhirnya Mirta tak pernah lagi datang ke sekolah. Ia berhenti. Aku sedih sekali, kami selama ini biasa belajar bersama. Mirta juga tak pernah kelihatan duduk melamun di bawah pohon flamboyan di tanah pekuburan lagi. Tempat itu kini benar-benar sepi.

“Aku membantu ibu berjualan,” katanya dengan wajah muram tatkala kami kebetulan bertemu lagi di bawah pohon flamboyan itu dua bulan setelah Mirta berhenti sekolah.

“Ayahku bilang, sudah tidak kuat lagi membayar uang sekolahku. Kata ayahku, lebih baik aku membantu orangtua cari duit,” lanjutnya dengan suara sedih yang membuatku makin sedih.

Kupandangi Mirta. Tubuhnya semakin kurus. Wajah mungilnya bertambah tirus sehingga sepasang matanya terlihat makin besar. Aku teringat bekal roti manis yang belum kumakan. Buru-buru kuambil daridalam tas dan kuberikan padanya.

“Ibuku memberi dua roti. Sudah kumakan satu, yang ini buatmu saja,” kataku sambil mengulurkan roti itu padanya. Mirta menerimanya dengan mata bersinar dan mengucapkan terimakasih. Namun ia tak segera memakannya. Ditatapnya roti itu, perlahan sinar matanya meredup. Ia meletakkan roti itu di pangkuannya.

“Kenapa tak kau makan?” tanyaku heran. Mirta tersenyum tipis. Matanya menerawang ke langit yang penuh awan. Kulihat bayangan bocah cilik berkelebat dalam matanya.

“Buat adikku saja. Mereka jarang makan roti, pasti kali ini mereka senang. Terimakasih ya, Sinta.”

“Kau makan saja. Besok akan kubawakan lagi untuk adik-adikmu. Aku janji,” kataku lagi. Tubuh Mirta benar-benar jauh lebih kurus sehingga aku merasa khawatir.

“Tidak apa-apa. Biar buat adikku saja. Jangan repot-repot,” ujarnya meyakinkanku.

“Tapi kau makin kurus sekarang. Aku takut nanti kau sakit. Makan saja,” desakku lagi. Mirta tak segera menjawab. Ia justru memandangiku dengan sepasang matanya yang besar itu. Aku melihat bayanganku dalam bola matanya.

“Kau baik sekali, Sinta. Tapi tak usah khawatir, aku kurus karena aku sering puasa,” ucapnya dengan tenang.

“Puasa? Sekarang kan bukan bulan Puasa, kenapa kau puasa?” tanyaku tak mengerti.
“Aku dengar orang yang rajin puasa keinginannya cepat terkabul. Makanya aku sering puasa,” jelasnya.

“Memangnya kau ingin apa?”

“Aku ingin bisa sekolah lagi, Sinta. Aku ingin jadi pramugari…” Mirta menatap lurus ke langit. Ada bayangan pesawat terbang melintas dalam matanya.

***

Sesosok tubuh kurus kering terbujur kaku berselimutkan kain batik. Suara isak tangis dan lantunan doa berbaur jadi satu. Kedua mataku basah. Mirta temanku telah pergi. Tubuh kurusnya tak kuat melawan penyakit yang menderanya selama tiga hari. Matanya yang bagai kolam jernih itu terpejam rapat. Aku terus memandanginya dengan sedih.

Ah! Bulu matanya bergerak! Mata Mirta berdenyut halus. Perlahan kelopaknya terangkat. Aku terperangah. Mata itu membuka setengah. Jantungku bertalu-talu dipacu perasaan takut. Aku ingin menjerit dan lari, tapi tubuhku membatu dengan mulut terkunci. Sepasang mata yang terbuka setengah itu menatap mataku yang terbelalak ketakutan. Dalam mata yang telah pudar cahayanya itu aku menyaksikan bayangan Mirta tersenyum bahagia sambil melambaikan-lambaikan tangan.

Hanya sekejap, mata itu menutup kembali. Kali ini untuk selama-lamanya.

Penulis : Octaviana Dina

Dimuat dalam Tabloid NOVA No. 961/24-31 Juli 2006
Tags: cerpen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s