SENJA DI LAMPU MERAH

Lima menit baru saja berlalu dari pukul setengah enam sore. Di salah satu tepian jalan di simpang empat yang ramai Huri berdiri menunggu.
Angin berselubung karbondioksida buangan sekian puluh knalpot kendaraan menyibak-nyibak rambutnya yang kemerahan. Huri menggoyangkan kepala mengikuti irama lagu yang keluar dari mulutnya. Hidungnya kembang kempis menghirup udara berpolusi.
Sesekali mata bocah delapan tahun itu mengawasi lampu lalu lintas. Sore yang cerah. Jalanan dipadati beraneka kendaraan. Hati Huri beriak girang. Dada tipisnya mengembang oleh harapan yang membuncah.
Semoga antrean mobil makin panjang, dan jalan makin macet. Semoga lampu merah makin sering dan lebih lama menyala. Semoga awal bulan membuat para sopir dan penumpang mobil-mobil lebih bermurah hati. Semoga ia memperoleh lebih banyak uang sore ini.
Terbayang senyum ibunya bersinar, membuyarkan barang sejenak sengsara yang sudah lama menggayuti kerut-merut wajahnya, saat ia pulang nanti membawa uang. Terngiang-ngiang tawa girang adik-adiknya tatkala nanti ia belikan mereka minuman botol yang manis di warung Mbak Marni
Lampu masih hijau. Huri meraba alat musik yang dibuatnya sendiri. Ia bangga, karena benda itu berbeda dari milik teman-temannya. Berhari-hari ia membuatnya. Menempa sekian tutup botol menjadi bulatan-bulatan gepeng, melubangi bagian tengahnya, lalu disusun pada lingkaran kawat berdiameter sepuluh senti; diselang-seling dengan beberapa kerincingan bekas mainan anak-anak. Memakai sebilah kayu pendek sebagai pegangan, sempurna sudah karya Huri itu. Bunyinya nyaring, meriah bergemerincing.
Pet! Lampu merah menyala. Huri melejit gesit ke badan jalan. Sedan mengilat bercat perak di deretan depan menjadi sasaran pertama. Cepat ia mengambil posisi berdiri di dekat pintu pengemudi. Tangannya menggoyang instrumen musik buatannya. Lempengan tutup botol dan giring-giring saling beradu, ramai meletupkan keriuhannya sendiri. Huri menarik napas. Paru-parunya menghimpun udara bercampur asap knalpot. Lalu dengan penuh semangat ia menjeritkan sebuah lagu pop yang tengah kondang belakangan ini di antara suara deru mesin.

                                                            ***

Dari balik kaca gelap mobilnya Alma memandangi sosok pengamen cilik itu. Kausnya putih lusuh dengan robekan kecil di sana-sini. Kulitnya cokelat gelap kemerahan. Mengingatkan Alma pada warna furnitur di rumahnya. Berapa uang yang didapat anak itu seharian ini? Sepuluh ribu? Duapuluh ribu?
Alma tak bisa menebaknya. Ia tak bisa membayangkan hidup dengan angka demikian kecil. Pengamen cilik itu melantunkan lagu yang asing bagi telinganya. Suaranya lantang menembus tebal kaca mobil. Mencemari kelembutan lagu klasik yang mengalun jernih.
Perempuan elok itu tersentuh. Bukan sebab lagu asing atau alat musik aneh yang dimainkannya. Bukan pula oleh baju kumal atau kulit cokelat gosongnya, melainkan karena suaranya yang memancarkan semangat hidup yang menggugah jiwanya. Semangat untuk bertahan hidup. Semangat berjuang dan berharap untuk tetap hidup. Alma teringat sesuatu, Miko. Ia menoleh, dan takjub. Miko terhenti dari gerak monoton yang berulang-ulang dilakukannya. Bocah lelaki berusia tujuh tahun itu terpaku menatap lurus-lurus sang pengamen cilik. Ah, seandainya saja…
Ketukan di jendela menyadarkan Alma. Si pengamen kecil mengacungkan kantong bekas kemasan entah apa. Alma membuka tas tangan dan mencabut selembar uang.
Dibukanya kaca jendela sedikit, jemari lentiknya bergegas menjejalkan lembaran licin itu ke dalam kantong. Ia tersenyum sekilas saat pengamen cilik itu membungkukkan badan seraya mengucapkan terima kasih.
Penuh cinta dan juga sedih, Alma mendekap anak semata wayangnya yang autis. Ia berharap suatu hari kelak Miko akan terbangun dari dunianya yang sunyi dan terasing, lalu bernyanyi, dan hidup penuh semangat. Mata Alma berkaca-kaca.

                                                            ***

Yuni mementangkan mata lebar-lebar. Nyaris ia tak dapat mempercayai penglihatannya sendiri ketika sepotong tangan putih mulus berjemari lentik dengan kuku-kuku indah berlapis warna ungu muda menjulur keluar dari balik kegelapan jendela mobil mengilat di sebelah Metromini yang ditumpanginya. Astaga! Lima puluh ribu! Matanya yang terlatih teliti pada hal detail dengan cepat memastikan jumlah itu. Tak salah lagi, tangan indah itu memasukkan lima puluh ribu rupiah ke dalam kantong yang diacungkan bocah pengamen itu.
Sejenak hatinya bertanya-tanya, mungkinkah tangan itu telah mengambil lembaran yang salah? Barangkali lembar seribu, atau limaribu rupiah yang sebetulnya akan diberikannya. Namun, Yuni segera mendepak jauh-jauh pemikirannya barusan. Mengapa tidak? Limapuluh ribu mungkin tak berarti apa-apa baginya. Mata Yuni menangkap kilatan cemerlang menyala dari cincin-cincin di jemari tangan menawan itu.
Wajah wanita itu sangat cantik, berbalut make-up tipis yang justru menonjolkan kesempurnaan kulitnya. Wanita berkelas, seperti juga wanita-wanita yang biasa mengunjungi gerai kosmetik kenamaan dunia tempatnya bekerja sebagai sales counter. Kaum harum berselera mahal: ringan menghabiskan begitu banyak rupiah demi seperangkat pelengkap kecantikan.
Yuni terus memandangi mobil mengilat itu. Tatapannya seakan merasuk ke dalam, berusaha menyelami kehidupan nikmat apa gerangan yang dimiliki wanita elok bertangan indah itu. Barangkali limapuluh ribu adalah jumlah terkecil dalam dompetnya. Mendadak Yuni merasa pahit, teringat gajinya yang sudah kepayahan menutupi kebutuhan hidup dirinya, ibu dan dua adiknya yang masih duduk di bangku sekolah.
Ia menghela napas panjang. Tiap orang mempunyai jalan hidupnya sendiri-sendiri. Mungkin hidupku masih lebih beruntung dibanding pengamen cilik tadi, bisiknya mengusir kepahitan hati. Udara dalam Metromini kian pengap. Satu dua penumpang menyumpahi lampu merah yang tak kunjung berganti hijau.

                                                            ***

Dari belakang kemudi truknya Tarno mengawasi polah pengamen cilik bersuara lantang itu. Lelaki kekar hitam manis berkumis tebal itu menyeringai. Ia suka anak itu. Gesit dan bersemangat. Penumpang mobil di depan sana memberinya uang kertas. Ia berharap penumpang sedan bagus di depan truknya juga demikian. Tarno merogoh saku bajunya, dan mencabut dua lembar seribu rupiah. Si Suto pasti juga sudah besar sekarang, batinnya.
Hatinya tiba-tiba miris. Hampir lima tahun ia berpisah dari anak lanang satu-satunya. Entah Suto masih bisa mengenali dirinya. Bapaknya. Tarno menelan ludah. Ia akui, dirinya memang pengecut karena tak punya nyali buat menengok Suto di kampung.
Ia takut diamuk bekas mertuanya, yang murka besar lantaran ia menceraikan Suwarti istrinya demi Murni, si kembang warung temaram di jalur Pantura sana. Murni ternyata tak semurni namanya. Ia cuma cinta duit. Perempuan sontoloyo itu kini kabur bersama laki-laki lain entah ke mana. Kabarnya Suwarti sekarang sudah makmur hidupnya setelah empat tahun jadi TKW di Malaysia. Beruntung dia dapat majikan baik hati.
Lampu hijau menyala. Tarno meraih kotak bungkus rokok, mengeluarkan isinya secara sembarangan, dan menjejalkan lembaran uang. Si pengamen cilik menepi ke trotoar di kiri jalan.
Tarno mengangsurkan kotak itu kepada Kasidi, keneknya, seraya menyuruh melemparkannya kepada bocah itu. Sambil menginjak pedal gas Tarno menoleh ke kaca spion. Menatap anak itu untuk terakhir kalinya. Suto, ampuni bapakmu, Nak, bisiknya.

                                                            ***

Antrean kendaraan menderu melaju. Di tengah kepulan asap Huri memungut kotak kemasan rokok. Asyik! Duaribu perak, hatinya besorak. Lekas-lekas ia sembunyikan kantong uangnya ke dalam saku rahasia. Huri tak hendak menghitung uang di sini. Ia tak mau jerih payahnya dirampas preman a be ge yang suka memalak anak-anak kecil.
Senja beranjak kelam. Huri menyusuri jalan pulang. Terbayang wajah sopir truk tadi. Lelaki berkumis tebal itu tersenyum padanya lewat kaca spion. Giginya putih bersih. Apakah bapakku juga berkumis? tanyanya. Hati kecil Huri merindu-rindu.

                                                              ***

Penulis : Octaviana Dina

Dimuat dalam Harian SINAR HARAPAN 21 Oktober 2006

 
 
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s