KIDUNG MUSIM PANAS

Begitulah musim panas. Orang-orang menghabiskan waktu sepanjang siang yang semakin panjang bermandikan cahaya matahari, hingga ke larut malam yang hangat. Enggan berlama-lama memejamkan mata untuk istirahat. Ini musim yang menggairahkan. Musim untuk bersuka-ria.

    Namun di sini, di bawah kerindangan pohon-pohon di pelataran bangunan gereja, aku menyaksikan ada sebagian orang, dari ratusan yang berdatangan sejak pagi, tidak ke sini untuk bersuka-ria. Anak-anak cacat, orang dewasa dan para manula di atas kursi roda berbaur mwnjadi satu. Sebagian dari mereka terbaring tanpa daya di atas brankar. Orang-orang sakit dan keluarganya. Mereka berharap memperoleh kesembuhan. Ini Lourdes, di selatan Perancis dekat perbatasan Spanyol, tempat perziarahan umat Katolik dari seluruh dunia. Konon kesembuhan-kesembuhan ajaib terjadi di tempat ini.

            Aku suka berada di sini, di antara bangunan-bangunan gereja dan biara kuno.

                                                              ***

            Dengan sedikit tergesa aku meninggalkan hotel. Hari ini aku akan ikut tur ke pegunungan Pyrene yang terkenal amat indah. Kuputuskan berjalan kaki menuju biro penyelenggara tur yang terletak hampir satu kilometer dari hotel.

            Melewati Chez Pierre, jantungku berdetak keras. Dia lagi! Laki-laki itu sudah membuat hatiku ciut saat pertama kali mataku bertatapan dengannya. Aku melihatnya setibanya aku di stasiun kereta Lourdes. Mungkin kami menaiki TGV yang sama dari  Paris. Ia mengenakan kaos hitam ketat berlengan pendek dengan denim hitam yang memperlihatkan bentuk tubuhnya yang langsing namun kokoh dengan tinggi sekitar 180 senti. Berambut warna pirang pasir. Wajahnya tampan, tapi keras. Usianya mungkin 35 tahun. Ia mengingatkanku pada sosok tentara. Barangkali ia berasal dari kalangan militer. Namun bukan itu yang membuatku gemetar, melainkan sorot matanya yang berwarna hijau pucat. Saat itu ia tak berkedip menatapku. Amat tajam, bagai belati baja yang mampu memisahkan daging dari tulang dengan sempurna. Sempat terlintas dalam pikiranku, barangkali lelaki ini seorang rasis yang membenci orang-orang kulit berwarna seperti diriku.

            Ini adalah kali kelima aku menjumpainya. Lima kali pertemuan tak disengaja dalam dua hari di antara ratusan peziarah. Suatu kebetulan yang tidak lucu. Laki-laki ini seperti harimau membayangi mangsanya. Menunggu saat tepat untuk melancarkan serangan. Ah, aku terlalu mendramatisir, gerutuku dalam hati. Ia duduk menikmati sarapan pagi di Chez Pierre, restoran kecil favoritku, menghadap ke arah jalan yang kulalui. Segera aku menyeberang untuk menghindar.

            “Mademoiselle! Mademoiselle!” Astaga, itu Pierre. Pemilik restoran yang  ramah itu berteriak memnaggilku sambil melambaikan tangan dari seberang sana. Sudah pasti aku yang dipanggilnya. Tak ada orang lain di sekitarku. Pierre agaknya bermata elang juga, mampu mengenaliku meski aku sudah memakai topi dan sunglass. Mau tak mau, akhirnya aku menoleh untuk sekedar membalas lambaikannya. “Bonjour!” seruku sambil mempercepat jalanku. Lelaki itu berhenti makan, lalu mengawasiku. Dengan ekor mataku aku sempat melihatnya terburu-butu menyudahi sarapannya. Bagaimana kalau ia bermaksud menyusulku? Aku berlari menjauh. Tak sampai dua ratus meter, nafasku mulai tersengal. Payah! Makanya rajin olahraga! omelku pada diri sendiri. Untunglah sudah dekat jembatan. Beberapa bis sedang menurunkan penumpang. Segera aku menyelinap di antara para turis seraya terus mempercepat langkah. Ia tak kelihatan di belakang. Aman. Dengan senyum kecil aku membayangkan indahnya pegunungan Pyrene.

                                                             ***

            Tiba-tiba saja aku ingin berdoa. Keinginan itu mendorongku masuk ke dalam gereja, duduk di deretan bangku belakang. Setelah menyalakan lilin dan berdoa, aku melarutkan diri dalam hening di tengah gumam doa para peziarah. Dalam cahaya sedikit temaram, aku menyaksikan orang-orang berlutut dengan kepala tertunduk, mengecup salib pada rosario, mengalirkan airmata dari mata mereka yang terpejam sambil terus mengucap doa. Sinar matahari yang menyeruak lewat jendela-jendela bermosaik bersatu dengan asap lilin-lilin, membentuk kabut tipis yang bergulung naik ke atas bersama ratusan pengharapan yang dipanjatkan kepada Tuhan. Apa yang mereka doakan dan harapkan? Doaku tadi singkat saja. Aku berterimakasih karena Tuhan telah dengan setia menjaga hidupku hingga detik ini dan berkenan memberiku kesempatan berkunjung ke tempat ini. Lainnya, aku berharap Tuhan mempertemukanku dengan cinta sejati. Cinta yang kuat, yang takkan pernah melepaskanku hidup-hidup. Permohonan itu meloncat begitu saja dari dalam benakku. Apakah cinta sejati adalah cinta mencengkeram kuat seperti itu? Cinta yang tak mau melepaskanku hidup-hidup, ugh, kedengarannya seperti hasrat harimau pada rusa.

            Tiba-tiba aku menjadi waspada. Pemikiranku barusan mengingatkanku pada lelaki bermata hijau itu. Jangan-jangan dia sudah berada di sini. Mataku nyalang mengawasi sekelilingku. Sudahlah, hadapi saja. Anggap ini petualangan. Kalau dia berani menghampiri, tanya saja apa maunya, pikirku berusaha menenangkan hati yang mendadak gelisah. Toh besok siang aku sudah kembali ke Paris.

            Aku menyelinap ke luar gereja. Kuputuskan untuk duduk-duduk kembali menikmati udara terbuka sambil menungu saat makan malam tiba.

                                                            ***

            “Hello, Miss,” suara mantap itu menyapa dari arah kiriku. Astaga! Jantungku hampir melompat ke luar saat aku menoleh. Lelaki bermata hijau itu. Dia sudah duduk tepat di sampingku. Tidak sempat lagi berkelit, apalagi kabur. Laki-laki ini, pasti ia punya energi negatif. Tubuhku seketika itu juga menjadi kaku. Ya Tuhan, jangan biarkan aku terkena serangan jantung di sini. Aku tak ingin membuat orangtuaku kerepotan. Aku jauh sekali dari rumah, keluhku dalam hati..

            “Maaf, Miss, kalau saya membuat Anda terkejut. Tapi saya harap Anda tidak keberatan saya duduk di sini,” ujarnya dalam bahasa Inggris. Mahluk yang selama dua hari ini sebisa mungkin kuhindari kini hanya beberapa sentimeter saja jaraknya dariku. Ia menatapku tak berkedip, membuatku lupa mengambil nafas. Selama sekian detik aku sibuk menenangkan debaran jantungku. Mendadak rasa jengkelku muncul.

            “Ya, saya keberatan! Anda membuat saya terkejut. Saya rasa Anda sengaja menakuti saya. Anda membuat detak jantung saya tidak normal dua hari ini,” sahutku ketus. Aku terkejut dengan jawabanku itu. Sembarangan dan kekanak-kanakan! Lelaki itu menaikkan alis matanya, tampaknya ia juga terkejut dengan reaksiku. Biar saja, biar tahu rasa dia, batinku. Kutentang matanya, sekalipun hatiku gemetar.

            Tiba-tiba sorot matanya melembut. Senyumnya mengembang. “Ah, begitukah? Maafkan saya. Saya benar-benar tidak bermaksud demikian. kalau begitu, biar saya antar Anda ke dokter untuk periksa jantung. Sepenuhnya atas biaya saya,” ujarnya seperti menahan tawa. Kurangajar, ia pasti sedang mengolokku. Kurasakan pipiku memanas menahan malu.

            “Sudahlah, saya harus pergi.” Cepat-cepat kusandangkan backpack-ku. Tangan laki-laki itu menggenggam pergelangan tanganku, menahanku untuk tetap duduk. Tubuhku melunglai. “Jangan pergi, Miss. Please. Mungkin Anda salah paham, ijinkan saya menjelaskan maksud saya. Percayalah, Miss, saya yakin ini tidak terjadi secara kebetulan,” nada suaranya tenang, seperti keluar dari suatu keyakinan yang kuat.

            Heh? Tidak terjadi secara kebetulan? Rasa penasaranku melonjak saat itu juga, memompa keberanianku untuk menyingkap misteri si mata hijau ini. “Baiklah. Tolong jelaskan maksud Anda yang sebenarnya,” kataku ingin tahu.

            Dia tak segera menjawab. Dilepaskannya genggamannya dari pergelangan tanganku, lalu meraih sesuatu dari saku belakang celananya. Sebuah dompet kulit hitam, yang lantas dibuka dan diperlihatkan padaku. Foto seorang wanita berambut gelap sedang tersenyum lepas. Manis dan memancarkan ketulusan. Rasanya ada sesuatu yang familiar dengan wajah itu.

            “Isteri saya. Mendiang,” jelasnya dengan suara berubah parau. “Kami bertemu tujuh tahun lalu di tempat ini. Dia orang Filipina, datang ke sini dalam rombongan besar. Jatuh cinta pada pandangan pertama, kami menikah tujuh bulan kemudian. Bahagia sekali. Dia membuat hidup saya sehangat musim panas. Wanita yang manis.” Mata hijaunya menerawang jauh. Laki-laki ini romantis juga, batinku sambil mencuri-curi pandang ke wajahnya yang jantan. Riuh suara-suara di sekeliling tak menghalangi kesenyapan turun di antara kami ketika ia kembali terdiam.

            “Sayang… ia terkena kanker rahim ganas. Keadaannya memburuk dengan cepat. Kira-kira dua tahun lalu, tiga bulan sebelum ia meninggal, kami berkunjung lagi ke sini. Kami berharap terjadi mukjizat. Semacam kesembuhan ilahi, tapi yah, Tuhan rupanya berencana lain…,” suaranya kini hampir menyerupai bisikan. Kepedihan mewarnai air mukanya. Tenggorokanku tercekat. Aku tersentuh, meski tak habis mengerti mengapa laki-laki ini harus menceritakan kisah hidupnya padaku.

            “Isteri saya, beberapa waktu sebelum meninggal, meminta agar saya datang kembali ke sini pada peringatan tahun ke tujuh peringatan kami. Itu kemarin.”

            “Mengapa harus yang ke tujuh?” Bodoh, seharusnya aku menahan mulutku untuk tidak melontarkan pertanyaan itu dan sabar menunggunya selesai bercerita.

            “Isteri saya menyukai angka tujuh. Ia percaya tujuh adalah angka Tuhan. Anda tahu kan, Tuhan selesai menciptakan semesta beserta segala isinya pada hari yang ke tujuh? Isteri saya percaya kebaikan akan terjadi pada saya. Walau saya tak menyakini hal itu, saya menghormatinya. Lagipula ini permintaan terakhirnya.”

            “Lantas, apa yang Anda maksud dengan ‘tidak terjadi secara kebetulan’ tadi?” tanyaku benar-benar penasaran. Sejauh ini aku melihat kaitan ceritanya itu dengan diriku sama sekali. Dia tersenyum sekilas, lalu memutar posisi duduknya sehingga hampir sepenuhnya menghadapku. Matanya yang hijau pucat seperti kelereng kembali menatapku tak berkedip. Kualihkan pandanganku pada orang-orang yang lalu-lalang demi menenangkan jantungku yang tiba-tiba berpacu cepat.

            “Saya memang tidak meyakini soal angka angka tujuh dan keyakinan isteri saya itu sebelumnya. Tidak sampai kemarin malam, sampai saya bertemu Anda lagi di Chez Pierre. Anda ingat?”

            Tentu saja aku ingat. bagaimana aku dapat melupakan cara laki-laki ini terang-terangan mengawasiku saat makan malam di restoran itu hingga membuatku takut. Apalagi siang hari sebelumnya, pada hari aku tiba di Lourdes, aku bertemu dia untuk kedua kalinya di salah satu gereja dalam kompleks ziarah, dan untuk ketiga kalinya saat aku berkeluyuran di sepanjang pertokoan di wilayah itu.

            “Ketika Anda tersenyum dan tertawa pada Pierre,” suaranya merendah dan terdengar berhati-hati, “Anda…maksud saya, ehm, saya seperti melihat isteri saya hidup kembali. Cara Anda menopang dagu mirip sekali dengan isteri saya. Juga cara Anda menentukan pilihan. Anda ingat di toko saat Anda memilih-milih sovenir? Anda meletakkan pilihan yang paling Anda sukai di kedua tangan Anda, lalu menimbang-nimbangnya sejenak sebelum Anda memutuskan memilih salah satunya. Betul-betul mirip dengan kebiasaan isteri saya,” ujarnya tenang.

            Astaga, sampai sejauh itu ia membayang-bayangiku. ‘Mirip dengan isteri saya’, apakah ini yang dimaksud dengan ‘tidak terjadi secara kebetulan’? Bagaimana ia bisa mengambil kesimpulan seperti itu? Aku terdiam. Otakku sibuk mencerna kalimat-kalimat yang diucapkannya.

            “Ngomong-ngomong, kita belum berkenalan. Saya Rick Karowski. Panggil saja Rick,” lanjutnya sambil mengulurkan tangan. “Lita. Lita Rinjani,” balasku. Aku merasakan tanganku melumer dalam genggaman tangannya yang kokoh. “Oh, God,” tiba-tiba ia menggumam seraya menggeleng-gelengkan kepala, lalu tertawa kecil. “Lita…Ini aneh sekali,” sambungnya masih terus tertawa. Aku sedikit tersinggung, memangnya kenapa dengan namaku?

            “Apakah nama saya terlalu aneh buat Anda?” tukasku tak senang. “Oh? Tidak. Tidak sama sekali. maaf, saya tidak mengatakannya begitu. Lita, itu juga nama isteri saya. Esterlita, biasa dipanggil Lita saja,” ucapnya dengan senyum dan sorot mata yang membuat dadaku kembali tak tenang.

                                                            ***

            Rick Karowski mengantarku ke stasiun. Sepanjang kemarin siang hingga malam, ia tak ubahnya bagai bayanganku sendiri. Aku tak dapat menolak saat ia bersikeras menemaniku menghabiskan waktu serta menjamuku makan malam. “Sayang sekali, aku tak bisa mengantarmu sampai di sana. kalau bisa, ajaklah temanmu di Paris itu menemanimu ke tempatku di Zurich,” katanya malam itu dengan penyesalan saat kuberitahu perihal kepulanganku ke Paris esok harinya. Ia menyerahkan alamat rumah dan e-mail berikut nomor teleponnya. Aku tak bisa mengelak ketika ia meminta hal yang sama dariku, bahkan alamt dan nomor telepon temanku di Paris tempat aku tinggal hingga akhir minggu depan.

            Kereta bergerak perlahan. Rick berjalan mengiring kereta sambil terus memandang ke arahku. Aku melambai. ia berhenti saat kereta makin jauh. Kuhela nafas panjang. Kereta mulai melaju dengan kcepatan penuh. Berbagai kejadian di Lourdes berkelebatan bagai kembang api di langit pikiranku. Aku teringat ucapan Rick tentang ‘tidak terjadi secara kebetulan’, aku teringat sorot matanya yang hijau pucat…. Peristiwa-peristiwa itu terlalu cepat mengurungku. Membuatku gentar dan ingin berlari menjauh. Kupejamkan mata. Aku teringat doaku di gereja. Inikah jawabannya? Sesungguhnya aku tak ingin secepat ini. Ampuni aku, Tuhan. Aku tak tahu apa yang aku inginkan, keluhku.

            Langit mengumpulkan awan-awan putihnya. membentuknya dalam berbagai rupa. Kurasakan Tuhan tersenyum dalam kearifan yang maha dalam. 

Paris masih enam jam lagi

                                                            ***

Jakarta 2002

 

 Penulis : Octaviana Dina

Catatan:

 

TGV                : Train à Grand Vitesse, kereta supercepat Perancis.

Mademosille     : Nona

Bonjour            : Selamat pagi / siang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s