ANAK GURUN

Gambar

“Desau. Itulah namamu. Aku, panggillah aku Bibi,” kata perempuan itu pada suatu hari padanya.
“Coba sekarang kau ucapkan namamu,” ujarnya lagi.
“Desau. Namaku Desau,” ulang bocah lelaki itu dengan suara bening.
“Bagus. Kalau kau Desau, siapakah aku?” sambung perempuan itu seraya menunjuk dirinya sendiri.
“Bibi,” jawab bocah itu tanpa kesalahan.
“Anak pintar,” balas perempuan itu. Senyum lebar terkembang di wajahnya yang kering dan tirus.
Semenjak itu, perempuan itu ia panggil dengan sebutan Bibi, dan perempuan itu memanggilnya Desau. Demikianlah yang ia ingat.

***

Sepasang mata Desau yang jernih dan tajam menatap Bibi dengan sorot ingin tahu. Siang itu, seperti biasanya, hawa begitu panas. Matahari tengah garang memanggang padang gurun. Namun di dalam gua di mana mereka tinggal, udara jauh lebih sejuk Keduanya duduk dekat kolam air yang menjorok ke dalam gua. Bibi memberinya isyarat hendak menceritakan sesuatu padanya.
“Hari itu badai pasir tiba-tiba saja muncul. Sangat menakutkan, hingga aku pun bersembunyi sampai jauh ke dalam gua. Badai itu meraung-raung di luar sana. Suaranya takkan pernah bisa kulupakan. Begitu mengerikan. Belum pernah aku mendengar suara seperti itu sebelumnya. Mendesau-desau hebat, seperti gulungan angin ribut yang datang dari hembusan nafas seorang raksasa yang maha besar. Wuuuuusssshhh!! Wuuuuusssshhh!! Wuuuuusssshhh!!” ujar Bibi menirukan bunyi badai. Air mukanya menegang. Kerut yang rapat menggarisi bagian pipi dan dahinya mengeras. Rasa gentar dan takut berkilatan di bola matanya.

Desau bagai menyaksikan kedahsyatan badai itu di wajah Bibi.
“Setelah badai itu menghilang, aku menemukan dirimu tergeletak di mulut gua. Saat itu kau masih bayi. Tubuhmu telanjang dan diselimuti pasir, tetapi sungguh aneh, kau sama sekali tak menangis. Kau malah menatapku bulat-bulat sambil mengisap jari jempolmu. Lucu sekali.” Wajah Bibi perlahan melembut. Ada binar-binar riang berkerlipan di kedua matanya.
“Itulah sebabnya kau lantas kunamai Desau, seperti suara badai yang mengantarkanmu kepadaku,” tukas perempuan itu .
“Jadi begitu asal muasal namaku. Lantas apa arti nama Bibi sendiri?” Desau melontarkan pertanyaan yang telah lama mengendap dalam benaknya.
“Bibi bukan namaku. Namaku Ledang, artinya putih kekuning-kuningan; seperti warna awan terkena sinar matahari. Ibuku pernah bercerita, beberapa saat sebelum aku lahir di langit ada awan besar bercahaya putih kekuning-kuningan. Karena itu aku dinamai Ledang,” sahutnya. Bibirnya yang senantiasa kering membentuk senyum samar.
“Lalu, kenapa aku harus memanggilmu Bibi?” tanya Desau ingin tahu.
Perempuan itu tak segera menjawab. Sesaat, bimbang membelit hatinya. Haruskah ia mengatakannya sekarang? Tapi anak ini berhak mengetahui hal yang sebenarnya. Ia memutuskan untuk mengatakannya.
“Karena aku bukan perempuan yang mengandung dan melahirkanmu. Aku hanya mengasuh dan membesarkanmu. Bibi itu panggilan lazim bagi perempuan yang agak tua. Waktu aku menemukanmu usiaku sudah agak tua,” jawab perempuan itu. “Kalau begitu siapa yang mengandung dan melahirkanku?” desak Desau dengan keingintahuan yang kian menjadi.

Perempuan tua itu menggeleng. Ditatapnya lelaki muda di hadapannya. Perawakan anak ini sungguh berbeda dengan perawakan kaumku, pikirnya. Tubuhnya tinggi besar dan rambutnya ikal. Ia punya sepasang mata cokelat terang dan sebentuk hidung yang mancung dan kokoh. Sementara orang-orang kaumnya sama sekali tak demikian. Tubuh mereka rata-rata pendek dan berambut kejur. Mata mereka hitam; dan hidung mereka lebar dan datar. Seumur hidupku aku belum pernah menjumpai lelaki seelok ini. Siapakah sesungguhnya yang melahirkannya? pikir perempuan itu lagi. “Aku tak tahu. Kau datang dalam badai pasir. Kurasa gurun sengaja mengirimmu padaku,” sahut perempuan itu. “Apakah itu berarti aku dilahirkan oleh gurun ini?” kejar Desau.

 

Untuk sesaat perempuan itu terdiam. Tatapannya terpuruk pada pasir yang menjadi lantai gua. Ia sendiri tak pernah tahu darimana sebenarnya Desau berasal. “Mungkin saja, Desau,” jawabnya dengan nada mengambang.
Benak Desau berusaha mencerna jawaban itu. Benarkah gurun yang melulu pasir, batu dan angin bisa melahirkan mahluk seperti dirinya? Bukankah ia dan Bibi adalah mahluk yang sama? “Jika demikian, lantas siapa yang telah melahirkan gurun ini, Bi?” lanjut Desau, terus mencari jawab atas hal-hal yang mengusik pikirannya.

Perempuan tua itu lagi-lagi terdiam. Lama. Wajahnya berubah muram. Tatapan Bibi menerawang jauh; melewati mulut gua, menembus keluasan padang gurun yang membara disesah terik mentari.
Jawaban yang dinanti Desau akhirnya datang, “Kami, kamilah yang telah melahirkan gurun ini…,”ujar Bibi dalam suara berbisik yang pahit dan penuh sesal.
“Kami?”

***

Hari itu Bibi memperlihatkan pada Desau apa yang selama ini disimpannya sendiri. Gambar-gambar usang; setumpuk bukti perjalanan hidup Bibi.
“Dulu tempat ini adalah pulau yang tertutup hutan belantara. Hijau di mana-mana, dan subur. Kami tak pernah kekurangan makanan. Hutan menyediakan segala yang kami perlukan untuk hidup. Buah-buahan, umbi, kayu, dedaunan, hewan, semua berlimpah dalam hutan untuk kami manfaatkan.”
Bibi menunjukkan gambar sekelompok manusia seperti dirinya dan Bibi dengan pakaian yang jauh lebih bagus dari pada pakaian yang selama ini mereka kenakan. “Inilah kami,” kata Bibi, lalu ia menjelaskan satu demi satu. Tentang siapa kami itu. Tentang hutan, pohon, sungai, rumah, radio, televisi; hal-hal yang sungguh asing dan baru bagi mata dan telinga Desau. Lelaki muda itu berusaha keras membayangkan kehidupan di tempat itu dahulu, seperti dalam gambar-gambar yang diperlihatkan Bibi padanya. Tampaknya sangat menyenangkan. Tidak seperti gurun yang melulu hanya pasir, batu, dan angin. Gurun kering yang gersang serta sunyi.
“Pada suatu hari, kepala suku kami mengijinkan orang-orang luar membuka hutan belantara milik leluhur kami. Orang-orang itu menjanjikan keuntungan bagi kami, bahwa kehidupan kami kelak lebih baik dan makmur jika membiarkan mereka mengolah hutan. Mereka memberi bermacam barang: pakaian, sepatu, rokok, aneka minuman dalam botol, hingga radio dan televisi. Sebagian besar barang itu belum pernah kami lihat sebelumnya. Mereka bahkan membawa kepala suku kami ke luar pulau untuk menyaksikan seperti apa kehidupan yang lebih baik itu,” tutur Bibi dengan suara bergetar.
“Orang-orang itu bekerja tanpa henti dengan gergaji mesin yang besar. Setiap hari kami mendengar derak-derak pepohonan bertumbangan. Mereka membawa kayu-kayu ke luar dari hutan lewat sungai besar yang membelah pulau. Hutan-hutan kami hilang dengan cepat, bahkan hutan keramat sekalipun. Mereka juga menggali di sana-sini, membuat tanah menganga di mana-mana. Entah apa yang mereka cari,” lanjutnya berat. “Kami tak lagi leluasa mencari makan di hutan yang kian sedikit. Mereka menjaganya dengan ketat seolah merekalah pemilik hutan. Kami terusir di tanah kami sendiri,” sambung Bibi. dengan suara tercekat. Wajahnya bertambah muram.
“Tidak bisakah mereka dihentikan?” tanya Desau. Bibi menggeleng pelan, lalu terdiam. Dalam sunyi Desau menunggu. Ia bisa merasakan beban yang sekian lama ditanggung perempuan yang telah membesarkan dirinya itu.
“Kami terlampau percaya pada janji-janji mereka. Kami terlalu lemah hati untuk mencegah mereka berbuat semaunya. Kami hanya diam saat menyaksikan hutan-hutan kami perlahan-lahan musnah. Kami tak bersuara. Lalu hutan tak lagi mau tumbuh. Tanah kami yang subur sirna, bersalin rupa menjadi pasir yang enggan menumbuhkan pepohonan. Sungai-sungai menghilang bersama segala ikannya,” ungkap Bibi dengan suara parau menahan tangis. Bibir perempuan itu bergetar. “Semua itu adalah salah kami. Para leluhur kami pasti telah murka, juga para mambang penguasa hutan Kami kena kutuk. Tak ada lagi yang tersisa. Kami mulai kelaparan dan terserang penyakit. Satu demi satu dari kami pun tumbang; seperti tumbangnya pohon di hutan-hutan kami. Semua itu karena kesalahan dan kebodohan kami….” Tangis Bibi akhirnya pecah dengan hebat. Tubuh kurusnya berguncang-guncang. Desau membeku. Hatinya robek. Belum pernah ia melihat Bibi demikian merana.

***

Desau berdiri tegak di atas puncak bukit batu. Di bawah matahari gurun yang garang tubuhnya terlihat kokoh. Sudah lewat duaratus purnama usianya kini. Meski gurun itu kejam, bahkan hujan pun dibuatnya hampir selalu hangus sebelum sempat menyentuh pasir, namun gurun itu juga yang telah memelihara hidup dirinya dan Bibi. Gurun menumbuhkan mata air dalam gua yang mereka diami. Gurun menyediakan bagi mereka kambing gunung, ular pasir, kadal batu, dan unggas liar untuk diburu dan dimakan. Gurun juga masih mengijinkan segelintir belukar hidup untuk mereka manfaatkan.
Menurut Bibi gurun telah memilihnya untuk hidup menebus kesalahan kaumnya dulu. “Sebelum aku mengembalikan tempat ini menjadi hutan belantara, maka gurun takkan membiarkanku mati. Kau tahu, telah duaratus purnama kusaksikan seorang diri di gurun ini sebelum kau datang. Aku takkan keluar hidup-hidup dari sini. Gurun mengunci tempat ini. Tak pernah ada lagi orang yang bisa memasukinya sejak saat itu. Mungkin dalam murkanya, para leluhur kami memintal dagingmu dari daging kaumku yang terkubur. Menenun dirimu dalam kegersangan gurun. Menumbuhkanmu dalam rahim pasir. Aku percaya, Desau, gurun telah mengirimkanmu padaku untuk kubesarkan. Untuk membayar hutang kaum kami pada nusa ini. Sudah kuajarkan segala yang kuketahui padamu,” ucap Bibi sesaat sebelum melepas kepergiannya.
Kini Bibi telah jauh ia tinggalkan. Kini saatnya untuk berkelana menjelajahi seluruh gurun; untuk berguru pada kebijaksanaannya. Bibi dan kaumnya telah melahirkan gurun ini. Gurun lalu melahirkan dirinya. Desau kini mengerti bahwa ia terlahir membawa takdir. Kelak akan tiba waktunya, ia akan melahirkan rimba bagi gurun ini. menjadi ayah atas hutan belantara.
Akan tetapi, bagaimanakah cara mencipta hutan belantara dari pasir dan batu? Desau tidak tahu jawabnya. Bukan, ia belum tahu jawabnya. Yang ia tahu, jika gurun yang penuh pasir, batu, dan angin ini mampu melahirkan dirinya, seorang manusia, maka sebuah rimba belantara bukanlah hal mustahil. Gurun ini terlampau ajaib. Suatu hari nanti aku akan mengetahui caranya, pikirnya. Mungkin cucuran keringatnya akan menjelma jadi benih. Atau, barangkali tetesan airmatanya akan membangunkan segala akar yang beku dalam tidur panjang nun di bawah pasir gurun.
“Wuuuuusssshhh! Wuuuuusssshhh! Wuuuuussssshhh!” Telinga Desau menangkap suara angin berpusing-pusing di atas permukaan gurun menggema di kejauhan. Mendesau-desau. Suara itu terdengar merdu dan terasa menghangatkan hati, bagai suara ibu yang tengah memanggil-manggil dirinya. Ibu yang berdiam dalam segenap pasir, dalam segenap bebatuan, dan dalam segenap angin. Juga dalam segenap kegersangan dan kesunyian gurun.
Desau memejamkan mata. benaknya berusaha melukiskan hutan belantara yang kelak akan ia persembahkan bagi gurun, ibu yang telah melahirkannya.

***

Penulis  : Octaviana Dina

Cerpen ini meraih Juara Kedua Lomba Cerpen Lingkungan Tabloid PARLE September 2007

Dimuat dalam Tabloid PARLE No. 107/24 Sept 2007

Baca juga  ulasan tentang cerpen Anak Gurun :

“Desau. Itulah namamu,” kata perempuan itu pada suatu hari padanya.

Itulah awal kalimat cerita pendek pemenang kedua pada lomba yang diselenggarakan oleh Tabloid Parle. Kalimat yang memesona sejak penglihatan pertama itu menyeret mata saya untuk menelusuri rangkaian kata-kata berikutnya. Cerita itu mengalir dengan kandungan misteri.

“Hari itu badai pasir tiba-tiba muncul. Sangat menakutkan, hingga aku pun bersembunyi jauh ke dalam gua. Badai itu meraung-raung di luar sana. Mendesau-desau seperti gulungan angin ribut yang datang dari hembusan napas raksasa. Wuuuuusssshhh! Wuuuuusssshhhh! Setelah badai itu menghilang, aku menemukan dirimu tergeletak di mulut gua. Saat itu kau masih bayi.”

Dina Octaviana menyembunyikan tema lingkungan hidup dalam kisah yang hebat. Anak Gurun. Melalui bayi yang ditemukan seusai badai pasir, pengarang ingin menyampaikan akibat penebangan pohon-pohon hutan. Kehijauan yang ditukar dengan kemewahan sesaat, selebihnya adalah penderitaan  panjang. Desau, yang dipercaya lahir dari rahim gurun, seperti mendapat amanat untuk menemukan cara menghijaukan kembali kawasan yang kini gersang tak berpenghuni kecuali seorang ibu dalam gua.

Desau memejamkan mata. Benaknya berusaha melukiskan hutan belantara yang kelak akan ia persembahkan bagi gurun, ibu yang telah melahirkannya. Dua kalimat itu menutup cerita dengan anggun. (Kurnia Effendi, September 2007,

www. sepanjangbraga.blogspot.com/2007/09/malam-festival-seni.html
)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s