MELIHAT KE BAWAH

beggar

Ada seorang pengemis cacat yang hidup di sebuah kota besar. Berbeda dengan kebanyakan pengemis lainnya, si pengemis yang satu ini memilih mencari nafkahnya di kawasan-kawasan kumuh yang didiami orang-orang miskin dan sengsara. Meski jauh lebih banyak yang tidak memberinya sedekah ketimbang yang memberi, sementara yang memberi pun rata-rata kecil saja pemberiannya, pengemis itu tampaknya tak peduli. Ia tetap bertahan mengemis di pemukiman-pemukiman orang-orang miskin dan sengsara.

Pada suatu hari saat si pengemis tengah berkeliling meminta sedekah, datang seorang memberinya uang. Orang itu lantas bertanya mengapa pengemis itu mengemis di daerah yang dihuni orang-orang melarat dan tidak mengemis di bagian kota yang penduduknya kaya-raya.

Pengemis itu menjawab demikian, “Itu karena saya tidak ingin hanya menerima saja. Saya juga ingin memberi. Di sini banyak orang-orang yang melarat, sengsara dan menderita hidupnya. Kalau mereka melihat saya jauh lebih melarat, lebih sengsara, hina dan cacat, pastilah sedikit banyak mereka akan terhibur.”  Mendengar jawaban yang tak disangka-sangka bijaknya, si penanya itu pun terdiam. Dalam hatinya ia merasa kagum pada keluhuran budi si pengemis cacat itu.

Seringkali ketika hidup tak menunjukkan perubahan berarti seperti yang kita inginkan, kita merasa patah hati dan patah semangat. Kita merasa diri kita adalah orang yang paling merana dan paling malang di dunia. Hal itu terjadi karena kita lupa melihat ke bawah. Kita hanya sibuk melihat ke atas, membandingkan diri dengan orang-orang yang bergelimang kesuksesan, kemewahan, ketenaran dan sebagainya.

Padahal dibandingkan dengan jumlah orang di atas tersebut, di bawah sana ada jutaan orang yang hidupnya jauh lebih sengsara dan lebih menderita dibandingkan kita. Sementara kita masih bisa makan, minum, dan tidur dengan tenang, ada ribuan orang yang hidupnya tengah dihantui ketakutan dan terancam oleh bencana alam, misalnya. Atau, apakah kesengsaraan kita setara dengan sebagian rakyat benua Afrika yang dilanda kelaparan hebat akibat perang berkepanjangan?

Apabila kita ingat untuk menengok ke bawah, melihat sesama kita yang hidupnya jauh lebih menderita dibanding kita, kita mendapat kesempatan untuk bersyukur bahwa hidup kita ternyata tidaklah seburuk yang kita sangka. Jika kita ingat untuk menengok kepada mereka yang hidupnya lebih sengsara dibandingkan kita, maka kita akan diajak untuk tak hanya memikirkan diri sendiri. Kita mendapat kesempatan untuk berbelas kasih dan memberi pertolongan. Dan bersamaan dengan itu, yakinlah, kita akan mendapat kekuatan untuk mengatasi kesukaran yang tengah menimpa kita.*** (od)

 

Octaviana Dina, Juli 2013  ditulis kembali April 2018

 

 

Iklan

On Woman’s Day

Strong Woman 1

“Perempuan yang kuat adalah mereka yang tidak menggantungkan hidupnya pada diri orang lain, melainkan mengandalkan kemampuan dan keahliannya sendiri untuk hidup dan menikmati hidupnya”

 

Jakarta, 22 Desember 2017

Octaviana Dina